
Huda masih saja terus terdiam memikirkan semua yang telah di ucapkan oleh Hasan, saat ini logika dan hatinya tengah berperang antara mengikuti saran sang Kakak atau meneruskan apa yang terjadi saat ini.
"Kak Huda, apa kamu masih di sana?" Hasan yang tak mendengar suara dari sebrang kembali bertanya.
"Masih," sahut Huda.
"Kenapa diem aja? bagaimana dengan usulanku? apa kakak setuju?" tanya Hasan.
"Aku setuju, tapi sekarang apa yang harus aku lakukan Hasan?" Huda benar-benar kehabisan akal untuk berfikir saat ini.
"Kak Huda hanya perlu tunjukkan kalau kakak peduli dan perhatian sama dia, misal kamu kirim aja barang-barang kebutuhannya di sertai ucapan manis yang akan membuat dia senang!" Hasan kembali memberi usulan.
"Aku sudah melakukannya, sudah dua bulan ini semua kebutuhannya di pesantren aku penuhi bahkan aku juga memberi beberapa kebutuhan untuk keluarganya." Jelas Huda.
"Apa Desy tahu tentang itu?" tanya Hasan yang yakin jika Desy pasti belum tahu tentang kiriman barang yang di berikan oleh Huda.
"Desy tidak pernah tahu jika semua yang dia terima dariku," jujur Huda.
"Itu kesalahanmu Kak, mulai sekarang apa yang kakak berikan beri tahu dia!" titah Hasan yang terdengar tegas dari seberang.
"Jika aku memberitahukan semuanya apa dia tidak curiga?" Huda masih terdengar ragu untuk mengatakan segalanya.
"Biarkan dia curiga! selama kakak dan yang lain tidak memberitahukan yang sebenarnya maka selama itu Desy tidak akan tahu. Yang penting sekarang Desy tahunya kakak memiliki rasa yang sama seperti apa yang dia rasakan," tutur Hasan
"Jika menurut Kamu ini jalan yang terbaik untuk hubunganku dan Desy, maka aku akan ikuti saran Kamu," ujar Huda.
"Kakak tadi telfon sebenarnya mau apa?" Hasan yang baru menyadari jika Huda telfon dari tadi pasti memiliki tujuan.
"Kak, aku benar-benar kangen sama Desy, bisakah Kamu membantu kakak?" dengan ragu Huda memberitahukan ala tujuan sebenarnya dia menelfon tadi.
"Kakak ingin bantuan seperti apa dariku?" Hasan yang tk mengerti bantuan seperti apa yang di inginkan Huda kembali bertanya.
"Aku ingin melihat ataupun mendengar suaranya, dan aku juga ingin memastikan jika dia baik-baik saja." Huda memberitahukan apa yang dia inginkan.
"Soal itu mudah, aku matikan dulu telfonnya dan kakak tunggu aku hubungi nanti!" titah Hasan.
__ADS_1
Tut ....
Sambungan telfon di matikan, Hasan yang memiliki ide langsung berjalan mendekat menghampiri di mana Arum berada.
"Syei', apa kamu masih lemas atau mual?" tanya Hasan yang kini duduk tepat di samping Arum yang sedang menikmati setoples kripik pisang di temani film drama korea yang sedang di putar di dalam ponselnya.
"Tidak Bi, aku lumayan mendingan dan tak ada yang sakit, memangnya kenapa Bi?" tanya Arum merasa jika ada yang di inginkan Hasan darinya.
"Aku hanya ingin meminta tolong padamu Syei'," jawab Hasan.
"Tumben Bi, memangnya mau minta tolong apa?" Aeum mengerutkan dahi bingung dengan permintaan Hasan sang suami.
"Sebenarnya, Huda sudah bertunangan dengan Desy," Hasan menceritakan tentang hubungan Desy dan Huda agar bisa lebih mudah membatu Huda nanti, karena selama ini Hasan tahu jika istrinya itu cukup dekat dengan Desy sebelum menikah dengannya.
"What??? Abi bercanda ya?" Arum tadinya duduk dengan santai bersandar di kepala ranjang dengan satu toples kripik pisang di pangkuannya kini langsung duduk tegak dengan tatapan yang beralih ke arah wajah Hasan.
"Untuk apa Abi bercanda Syei', hal sepenting ini tidak pantas untuk di jadikan bahan bercanda," sahut Hasan.
"Sejak kapan mereka bertunangan Bi? dan setahuku keduanya belum peenah dekat kenapa sekarang tiba-tiba sudah bertunangan Bi?" ungkap Arum dengan ekspresi terkejutnya mendengar kabar tentang pertunangan Huda dan Desy.
"Loh kok bisa gitu, Bi?" tanya Arum heran dengan pertunangan yang terjadi antara Huda dan Desy.
"Kamu sudah mengenal Huda cukup lama Kan Syei', dan aku yakin kamu tahu sifat dia yang tidak bisa di tebak," ucap Hasan.
"Benar juga Bi, Huda selalu di penuhi misteri dan rahasia, ngomong-ngomong Abi mau minta tolong apa?" tanya Arum yang baru mengingat kembali jika tadi Hasan ingin meminta pertolongannya.
"Huda sedang rindu pada Desy dan dia ingin melihat juga mendengar suaranya, apa kamu bisa bantu Syei'?" tanya Hasan.
"Oh, soal itu gampang Bi, serahkan saja padaku!" Arum menyanggupi permintaan sang suami.
"Baiklah, aku panggil Desy sekarang, dan kamu hubungi Huda lewat video call agar Huda bisa melihat Desy!" titah Hasan.
"Siap Bi, kamu tenang aja aku udah tahu apa yang harus aku lakukan sekarang." Jawab Arum mulai bersemangat ingin segera bertemu dengan Desy.
Arum merasa begitu senang mendengar Huda sudah bertunangan dengan Desy, sejak dulu Arum ingin sekali menjodohkan keduanya hanya saja dia tak punya kesempatan untuk melaksanakan rencana itu dan sekarang dia mendengar kabar jika Huda dan Desy sudah bertunangan membuat hati Arum lega, rasa bersalah yang dulu pernah hinggap kini sudah hilang. Husein sudah bertemu dengan jodohnya dan Huda sebentar lagi juga akan bersatu dengan Desy yang telaah menjadi jodohnya.
__ADS_1
Setelah mendapat persetujuan Arum, Hasan melangkah pergi meninggalkan rumah menuju pesantren untuk memanggil Desy.
"Mbak, sini!" panggil Hasan pada salah satu santri yang sedang lewat di hadapannya.
"Iya, ada apa Mas Hasan?" sahut santriwati yang tadi lewat di depan Hasan.
"Tolong panggilkan Desy, dan suruh ke rumah!" jawab Hasan.
"Baik, Mas Hasan," ujar sang santriwati yang kemudian menundukkan sedikit kepalanya sebagai tanda jika dia pamit ingin melaksanakan apa yang hasan pinta dan Hasan yang sudah menyelesaikan tugasnya mengetik beberapa kata kemudian mengirimnyake Arum agar sang istri bersiap-siap.
Arum segera bersiap sesaat setelah mendapat pesan dari Hasan, dia berjalan menuju ruang tamu menunggu kedatangan Desy, semua rencana sudah tersusun di kepala Arum, senyum bahagia seolah enggan beranjak pergi dari wajah Arum membuat siapapun yang melihatnya akan ikut bahagia.
"Assalamualaikum," ucap Desy saat berada di depan rumah Hasa.
"Waalaikum salam, Desy, masuklah!" sahut Arum berdiri berjalan menghampiri Arum yang tengah berdiri di depan pintu.
"Apa yang manggil aku tadi Neng Arum?" tanya Desy dengan sopan.
"Desy, kita hanya berdua di sini, kamu bisa tidak bersikap biasa saja jangan panggil Neng seperti tadi! Aku risih, anggap saja kita masih satu kamar dan sama-sama menjadi santri seperti dulu!" pinta Arum yang kurang menyukai jika dirinya si panggil Neng oleh Desy.
"Tapi bukankah sekarang kamu sudah jadi istri Mas Hasan, pemilik pesantren ini, apa pantas aku hanya memanggil namamu saja seperti dulu?" Desy merasa begitu ragu untuk memenuhi keinginan Arum.
-
-
-
-
Terima kasih untuk Kakak yang udah baik banget ngingetin kalau karyaku ada yg salah, sekarang udah aku revisi.
lope2 buat kakak dan yang lain yang udah dukung aku dan tetap setia sama ceritaku.
😍😍😍😍😍😍😗😗😘
__ADS_1