
"Makan dulu! nanti Bunda kasih tahu kabar bahagianya," tiyah Bunda Fia mengambilkan satu wadah untuk Stev.
Bunda Fia membawakan rantang susun yang berisi tiga wadah, wadah pertama dan kedua berisi nasi sedang yang ke tiga berisi opor dan ikan lainnya.
"Bunda tumben sekali masak seperti ini? sebenarnya ada kabar bahagia apa sih Bun?" Stev kembali bertanya karena rasa penasarannya sudah memuncak dan tak bisa dia tahan.
"Makn dulu Stev! jangan tanya kabar terus!" Bunda Fia tetap tak mau memberitahukan kabarnya saat ini, dia lebih memilih mengambilkan makanan untuk Stev dan menyuruhnya makan.
"Khem, aku juga butuh makan, Sayang," sela Rifki yang merasa terabaikan oleh Fia sang istri yang sejak tadi sibuk berbincang dan mengambilkan Stev makan.
"Kalau butuh makan kenapa diam di situ saja? duduklah! biar aku ambilkan juga." jawab Fia dengan senyum yang nampak begitu manis.
Rifki yang mendengar jawaban Fia langsung berjalan mendekat ke arahnya dan duduk tepat di sampingnya.
"Ini spesial untukmu, makanlah!" ucap Fia memberikan satu porsi makanan yang sudah dia siapkan.
Tanpa membalas ucapan Fia, Rifki langsung memakan makanan yang di bawakan oleh Fia hingga tandas tak tersisa sebutir pun.
"Sekarang, beritahu kami ada kabar apa? sampai kamu repot-repot memasak dan mengantarnya ke sini." desak Rifki yang sebenarnya sejak tadi juga penasaran dengan kabar yang di bawa oleh sang istri.
"Dengar baik-baik ya! tadi Arum telfon dan memberitahu bahwa saat ini dia tengah mengandung, dan itu artinya kita akan jadi Kakek dan Nenek, dan kau Stev akan menjadi Om," Fia mengatakan kabar yang dia dengar tadi.
"Kamu serius?" tanya Rifki dengan ekspresi wajah terkejutnya.
"Untuk apa aku bohong? apa lagi kabar ini bukan kabar main-main," Fia mencoba meyakinkan Rifki yang terdengar ragu.
"Alhamdulillah, akhirnya aku jadi Kakek," seru Rifki.
__ADS_1
"Aku jadi Om, oh astaga, jika itu benar berarti aku udah tua donk Bunda," celetuk Stev yang baru menyadari jika dirinya sudah tua tapi masih saja berstatus jomblo, ucapan Stev sukses membuat Fia dan Rifki tertawa melihat ekspresi polos yang di tunjukkan oleh Stev.
"Makanya cepet nikah! biar gak jadi perjaka tua," sahut Bunda Fia dengan nada mengejek.
"Nikahnya aku mau Bunda, tapi sama siapa? calon aja kagak ada," ujar Stev.
"Udah Bun, mending kamu cariin aja cewek indo yang cocok sama dia, percuma nunggu Stev punya calon sendiri kelamaan," Rifki yang tahu betul dengan sifat sang anak juga tipe gadis idamannya mengusulkan agar Fia sendiri yang mencarikan karena sampai kapanpun Stev gak bakal nemu gadis yang pas untuknya.
Stev tidak pernah suka dengan gadis bule, menurutnya gadis bule tidak bisa menarik hatinya, dia lebih suka gadis indo yang berwajah khas indonesia, Stev juga menyukai penampilan seorang santri yang menurutnya istimewa, santri terlihat istimewa karena berpakaian tertutup dan tak tersentuh oleh lawan jenis, hanya orang yang memiliki status muhrim yang bisa menyentuh dan melihat semua yang di tutupinya.
"Emang Bunda bisa nyariin gadis yang cocok denganku?" Stev mengucapkan kalimat tanya seolah dia menantang sang Bunda untuk menemukan gadis yang cocok untuknya.
"Kamu nanya apa nantangin Bunda?" sahut Bunda Fia.
"Dua-duanya Bun," jawab Stev seolah memberi lampu hijau pada Sang Bunda agar dia mencarikan gadis yang baik untuknya.
"Oh iya Ayah, Bunda lupa bilang kalau minggu depan akan di adain acara tiga bulanan kandungan Arum, Bunda ingin cepat-cepat pulang ke indonesia buat nemenin dan ngehadiri acara tiga bulanan calon cucu kita Ayah," Fia mengutarakan apa yang ada di hatinya, sungguh saat ini Fia ingin menemui sang Putri jika saja dia berada dekat dengannya maka bisa di pastikan Fia akan setiap hari datang untuk mengecek keadaan Arum dan membawakan makanan untuknya.
"Benar Bunda, kita tidak bisa tiba-tiba ninggalin pekerjaan di sini, nanti Stev bantu Ayah biar kita bisa pulang sedikit lebih lama dari biasanya untuk menemani Arum," Stev berusaha meyakinkan sang Bunda dan memintanya bersabar menunggu hingga waktunya tiba.
"Benarkah? apa kalian bisa jamin kalau kali ini kita pulang lebih lama dari biasanya?" Bunda Fia mencoba meyakinkan keduanya jika mereka bisa memenuhi apa yang telah mereka ucapkan.
"Insya allah Bunda, do'akan saja semuanya baik-baik saja dan apa yang di rencanakan bisa terwujud," sahut Stev mencoba meyakinkan sang Bunda yang nampak ragu dengan apa yang dia ucapkan.
"Amin," jawab Fia.
"Bagaimana keadaan Arum saat ini Bunda?" kali ini Rifki yang bertanya, Rifki dan Fia sepakat memanggil Ayah dan Bunda jika ada anak mereka atau yang lainnya, dan akan memanggil Sayang jika hanya berdua.
__ADS_1
"Tadi aku sudah telfon dengan Arum dan dia terdengar baik-baik saja," tutur Bunda Fia.
"Tapi aku ingin melihat wajahnya Bunda," sela Stev.
"Video call aja! lagi pula Arum sepertinya tidak sibuk," titah Bubda Fia.
Tanpa membalas ucapan Bunda Fia, Stev langsung meraih ponsel yang ada di saku celananya dan menghubungi Arum untuk melihat bagaimana keadaannya sekarang.
"Kakak!!!!" teriak Arum sesaat setelah melihat wajah Stev nampak di layar ponsel.
"Astaghfirullah, Bumil ini kok ya gak bisa bicara pelan," sahut Stev dengan ekspresi sedikit terkejut, pasalnya Arum langsung berteriak setelah sambungan terangkat.
"Kakak bagaimana kabarnya? aku kangen," rengek Arum dengab nada manja yang selalu terdengar ketika dia bertemu dengan Stev.
"Aku baik, kamu sendiri bagaimana kabarnya?" jawab Stev.
"Aku baik Kak, kapan Kakak ke sini?" Arum masih saja manja meski kini sudah punya suami dan tengah mengandung.
"Kakak akan usahain nanti pas acara tiga bulanan calon keponakan ke sana, ngomong-ngomong bagaimana kabar kandunganmu dan ayahnya?" jelas Stev sambil menanyakan kabar calon keponakan juga suami Arum.
"Alhamdulillah, kandunganku sehat Kak, begitu juga dengan Ayahnya, aku seneng Kakak video call," jawab Arum dengan senyum sumringah yang terus terpancar di wajahnya.
"Kakak juga senang bisa lihat kamu sehat dan tersenyum seperti itu, coba lihat Kakak lagi sama siapa!" Stev mengarahkan kameranya ke arah Fia dan Rifki yang duduk di tak jauh darinya.
"Ayah, Bunda!!" Arum sedikit mengeraskan suara tanpa dia sadari saat melihat Ayah dan Ibunya yang kini tersenyum ke arahnya.
"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Ayah dengan tatapan penuh sayang ke arah Arum.
__ADS_1
"Alhamdulillah baik Yah," jawab Arum.
"Ayah sama Bunda bagaimana kabarnya?" sambung Arum dengan mata berbinar menatap wajah kedua orang tuanya.