
Acara makan bersama keluarga Arum telah usai, kini tibalah saatnya Hasan dan Arum menjadi ratu sehari setelah di make over bak seorang raja dan ratu.
"Syei'! kamu cantik banget malam ini," bisik Hasan menatap lekat ke arah Arum dengan tangan melingkar indah di pinggangnya.
"Abi, lepasin dulu! nanti kalau ada yang lihat kan malu," keluh Arum sembari menggeliat pelan berusaha melepaskan diri dari pelukan Hasan yang semakin menguat saja.
Bukannya melepaskan pelukannya Hasan justru semakin mempererat lingkaran tangannya di perutku.
"Abi!" suara Arum kembali terdengar kini suaranya terdengar seperti memohon.
"Apa Syei?" sahut Hasan santai tanpa ada rasa bersalah ataupun bingung sedikitpun.
Saat ini Hasan dan Arum memang berada di kamar, tapi keduanya ada di sana untuk menunggu MUA yang keluar sebentar memberitahukan petugas bagian dekorasi jika sang pengantin telah siap dan sudah di rias.
"Khem," deheman sang perias membuat keduanya terkejut dan reflek saling menjauh.
"Maaf mengganggu, tapi kalian bisa segera duduk di pelaminan karena semuanya sudah siap." Sang perias memberitahukan keadaan di singgahsana yang akan di duduki oleh keduanya.
Arum langsung menunduk malu karena ketahuan oleh Sang perias dirinya tengah betpelukan dengan Hasan. Dengan langkah pelan nan anggun Arum keluar dari kamar menuju singgahsana yang sudah di sediakan dengan Hasan yang berjalan tepat di sampingnya mendampingi Hasan. Keduanya benar-benar terlihat seperti raja dan ratu begitu cantik mempesona dan anggun.
Semua mata tertuju pada raja dan ratu sehari yang kini sudah duduk di singgahsana, decak kagum para tamu samar-samar terdengar. Sungguh hari yang indah bagi kedua sejoli yang sedang di mabuk cinta itu.
"Syei'!" lirih Hasan mencoba mencairkan suasana yang terasa sedikit tegang karena sejak tadi tak ada yang bersuara hanya menatap lurus ke arah tamu undangan.
"Apa Bi?" sahut Arum dengan nada pelan tapi tatapan masih lurus ke depan.
"Setelah ini kuta bulan madu ke mana?" tanya Hasan.
"Kenapa bahas bulan madu sekarang sih Bi? kan malu masih banyak tamu," bukannya menjawab pertanyaan Hasan, Arum malah memprotes Hasan yang membahas bulan madu di saat yang tidak tepat.
"Tamu kita sedang asyik menikmati hidangan dan melihat kecantikanmu yang tiada tanding Syei', lagi pula mereka belum ke sini buat ngucapin selamat ke kita," ucap Hasan.
__ADS_1
Saat ini para tamu memang rata-rata baru datang mereka baru duduk dan menikmati hidangan yang di sediakan. Lagi pula Arum tak memiliki banyak teman ataupun kenalan di sini karena Arum yang sudah pindah ke luar negeri. Kebanyakan para tamu adalah saudara, tetangga dan relasi kerja sang Ayah.
"Aku ikut aja ke mana Abi mau mengajakku," jawab Arum.
"Bagaimana kalau kita ke Australia? aku ingin tahu di mana kamu tinggal di sana? dan bagaimana kehidupanmu di sana?" usul Hasan yang sebenarnya penasaran dengan kehidupan sebenarnya Arum di Australia.
"Boleh, nanti aku akan bicarakan sama Bunda dan kita bisa ke sana dan tinggal di rumah bunda selama beberapa hari," Arum menyetujui usulan Hasan yang membuat seutas senyum terlihat mengembang.
"Syei'!" panggil Hasan.
"Apa sih Bi?" sahut Arum sedikit jengkel sejak tadi Hasan terus saja memanggilnya
"Kenapa acara ini begitu lama? kapan sih selelsainya?" tanya Hasan.
"Baru juga duduk Bi, sudah bilang lama," jawab Arum.
Kedua mempelai yang sedang berbahagia itu memang baru duduk selama setengah jam, tapi Hasan yang melihat Arum begitu cantik mempesona merasa jika dirinya dan Hasan telah duduk berjam-jam di sana.
"Entahlah, mungkin Abi kurang sabar kali," tebak Arum.
"Aku tidak sabar untuk menghabiskan malam bersamamu Syei," bisik Hasan tepat di telinga Arum yang sukses membuat Arum merasakan sesuatu yang aneh menjalar di tubuhnya.
"Abi, sudah jangan ganggu aku! malu kalau di lihat para tamu," gerutu Arum.
'Abi cuma berbisik tapi rasanya kok aneh banget ya? bagaimana nanti?' batin Arum membayangkan sesuatu yang pasti akan terjadi setelah menikah, seketika bulu kuduk Arum merinding saat membayangjkannya.
Acara resepsi pernikahan berjalan begitu lancar ada banyak tamu yang datang. Meski kebanyakan tamu bukan teman atau sahabat Arum tetap saja dia merasa bahagia karena acara hari ini berjalan sesuai dengan apa yang di harapkan.
"Syei'!" panggil Hasan yang kini berdiri di depan pintu menunggu Arum yang cukup lama berada di dalamnya.
"Tunggu sebentar Bi!" sahut Arum dari dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Jangan lama-lama Syei'!" ujar Hasan yang sejak tadi menahan hasratnya untuk buang air kecil.
"Iya," sahut Arum.
Saat ini Arum sedang bingung dengan satu gaun tidur di tangannya, kemarin saat di pesantren dia sempat belajar tentang orang yang sudah menikah, jika seorang perempuan mengajak suaminya berhubungan lebih dulu maka dia akan mendapatkan surga, saat ini Arum berencana untuk memakai gaun malam dan memintanya lebih dulu pada Hasan, tapi rasa malu dan bimbang sedang berperang dalam diri Arum.
"Syei'!" suara berat Hasan kembali terdengar membuat Arum sadar dan segera memakai gaun yang dia siapkan.
Pelan tapi pasti Arum membuka pintu kamar mandi di mana Hasan sudah berdiri tegak di depan pintu.
Hasan yangs ejak tadi menahan hajatnya seketika terbelalak kaget melihat penampilan Arum yang sunggu sempurna. Arum terlihat begitu cantik menggoda dengan gaun tidur tipis setipis sarangan tahu berwarna cream yang kontras dengan kulit putihnya, lekuk tubuh yang hampir mendekati sempurna. Semuanya terlihat begitu pas dan indah.
"Sempurna," ujar Hasan dengan tatapan yang masih lurus ke arah Arum tanpa berkedip.
"Abi!" panggil Arum berusaha menyadarkan hasan yang terlihat melamun.
"Kamu~" ucapan Hasan terpotong saat rasa ingin buang hajatnya kembali menyerang, Hasan yangs ejak tadi menahannya langsung berjalan cepat menuju kamar mandi tanpa meneruskan ucapannya.
"Kok Abi aneh ya," lirih Arum yang merasa aneh dan sedikit kecewa bukannya Hasan memuji tapi dia malah berjalan cepat masuk ke dalam kamar mandi.
Sedang Hasan yang berada di dalm kamar mandi buru-buru membuang hajatnya dan membersihkan diri setelah itu memakai handuk kimono tanpa ganti baju.
"Malam ini harus bisa cetak gol." Ucapnya penuh semangat mengingat apa yang akan dia lakukan setelah ini.
Dengan langkah penuh semangat Hasan berjalan keluar dari kamar mandi berniat menghampiri Arum yang kini duduk di ujung tempat tidur.
"Syei'!" panggil Hasan lembut selembut sutra, Dia berjalan pelan menghampiri Arum dengan tatapan memuja.
"Abi, kamu sudah selesai?" sahut Arum.
"Sudah Syei'," jawab Hasan berjalan terus mendekat ke arah Arum yang sedang tersenyum manis ke arahnya.
__ADS_1