Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Kekhawatiran Abi Ilzham


__ADS_3

"Baiklah Aku akan mengabari Abinya Hasan juga Hasan agar mereka bersiap-siap." Sahut Umik.


"Kalau begitu Aku tutup dulu telfonnya. Assalamualaikum," pamit Fia.


"Waalaikum salam," jawab Umik.


Tut.


Sambungan telfon di tutup, Umik yang merasa begitu bahagia setelah mendengar kabar baik dari Fia langsung berjalan menuju kamar mencari keberadaan Abi Ilzham.


"Abi, Abi," panggil Umik sembari membuka pintu dan masuk ke dalam kamar.


"Ada apa Umik?" tanya Abi yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Abi, baru saja Fia telfon katanya kita bisa meminang anaknya nanti pas tanggal dua bulan depan." Ucap Umik dengan mata berbinar menatap Abi.


"Ohh," sungguh jawaban yang bisa membuat nafas Umik naik turun karena emosi, Abi Ilzham terlihat biasa saja malah langsung pergi meninggalkan Umik yang masih mematung di pinggir ranjang.


Abi Ilzham berjalan menuju meja rias mengambil sisir dan merapikan rambutnya yang berantakan karena baru saja mandi, Abi Ilzham sama sekali tak tahu jika saat ini di kepala Umik sedang tumbuh dua tanduk tanda emosi yang sudah berada di puncaknya.


"Jika Abi tidak suka, maka Aku akan berangkat sendiri bersama yang lain tanpa Abi nanti." Ucap Umik dengan nada tertahan tanpa mengubah posisinya. Tapi kedua tangan Umik sudah mengepal kuat.


"Maksudnya?" Abi Ilzham yang sejak tadi serius menyisir rambut langsung berhenti melakukan aktifitasnya dan berbalik menoleh ke arah Umik yang masih setia berdiri di tempat.


"Responmu seperti orang yang tak menyetujui rencana yang telah ku buat bersama Fia, dan Aku tak akan memaksamu untuk setuju." Jawab Umik, seperti yang sudah-sudah Umik akan lupa diri dan bisa melawan Abi Ilzham saat Umik berasa benar.


"Aku menyetujuinya Sayang," ucap Abi sambil berjalan mendekat dan memeluk Umik dari belakang.


Seperti biasa Abi Ilzham juga akan bersikap lembut dan mesra jika Umik sudah emosi seperti sekarang, keduanya memang saling melengkapi jika yang satu jadi Api maka yang satu jadi Air begitupun sebaliknya.


"Tapi ekspresimu tak menunjukkan apa yang kamu katakan barusan," Umik masih saja bertahan untuk merajuk.

__ADS_1


"Maaf, tadi Abi baru selesai mandi jadi masih belum fokus." Jawab Abi Ilzham.


Meski sebenarnya alasan yang di ungkapkan oleh Abi Ilzham sungguh tak masuk akal tapi Umik masih bisa menerimanya, meski sebenarnya hati kecil Umik meragu.


Umik mengerti kenapa Abi Ilzham tak bisa begitu saja menerima keputusan yang di buat oleh Umik, mengingat Ayah dari Arum adalah Rifki.


"Sayang," bisik Abi Ilzham tepat di kuping Umik.


"Emm, jangan gini Abi! geli tahu." Rengek Umik.


"Umik, jangan mancing ya!" ujar Abi melepaskan pelukan yang sejak tadi di berikan pada Umik.


"Ishhh siapa yang mancing? Abi aja yang mancing pakek peluk-peluk sambil bisikin Umik." Umuk yang di tuduh tak terima dan mengelak karena dirinya memang tak punya niat untuk memancing apapun.


"Emangnya Abi mau ngomong apa?" tanya Umik yang kini duduk di tepi kasur menatap lekat arah Abi yang kini juga ikut duduk di sampingnya.


"Umik, jika nanti Umik ketemu sama Rifki, bagaimana perasaan Umik?" tanya Abi Ilzham.


"Perasaan apa Abi? Umik sudah tua di tambah lagi kita ke sana bukan untuk menemui Rifki atau pun Fia. Tapi kita ke sana itu dengan tujuan melamar anak gadis mereka untuk Hasan." Jelas Umik.


"Aku hanya khawatir Umik CLBK sama si Rifki." Ujar Abi.


"Hah? CLBK? maksud Abi cinta lama bersemi kembali?" Umik memperjelas sebuah singkatan yang di ungkapkan Abi Ilzham, dan Abi Ilzham hanya mengangguk menyetujui apa yang di perjelas oleh Umik.


"Astaghfirullah Abi, apa selama ini Umik pernah melakukan hal-hal yang menyimpang?" tanya Umik yang sedikit tak percaya dengan petanyaan yang di ajukan oleh Abi Ilzham.


"Enggak," jawab Abi Ilzham singkat.


Ilzham tetaplah Ilzham yang tak akan berubah meski di makan usia, dia tetaplah seorang pria dengan sejuta keromantisan juga keposesifan yang tak pernah luntur.


"Abiku Sayang, Umik sudah tua jadi sangat mustahil bagi Umik untuk berpaling atau pun mendua, apa lagi mengulang kembali kisah cinta yang sudah berakhir sejak dulu. Dari awal Umik menerima Abi, Umik sudah berjanji pada diri Umik sendiri juga pada Allah untuk tetap setia mendampingi Abi sampai maut memisahkan, apapun yang terjadi." Ujar Umik sambil menangkup kedua wajah Abi yang saat ini hanya diam memandang lekat ke arah Umik.

__ADS_1


"Jadi, Abi tidak usah khawatir Umik pergi ataupun berpaling! karena bagi Umik Abi sudah menjadi garwo dalam bahasa jawa sigarane nyowo atau bisa di bilang separuh dari nyawa Umik," kini tangan Umik beralih menggenggam kedua tangan Abi.


Cup ....


Satu kecupan Sayang sukses mendarat di kening Umik.


"Terima kasih Sayang, Aku begitu beruntung mendapatkanmu sebagai jodohku." Ujar Abi Ilzham.


Umik yang mendengar ucapan Abi hanya bisa tersenyum penuh rasa syukur, pasalnya sejak awal menikah sampai saat ini Abi Ilzham sedikitpun tak berubah. Sikapnya tetap lembut, posesif, penyayang dan romantis. Meski umur mereka sudah tak muda lagi.


Abi Ilzham juga bersyukur mendapatkan jodoh seperti Umik yang setia dan tak mudah tergoda, meski Rifki sang mantan yang notabennya memiliki umur yang jauh lebih muda darinya, dan juga memiliki ketampanan yang sama di tambah harta yang di miliki Rifki juga tak bisa di bilang sedikit. Tak membuat Umik gentar apa lagi berpaling dari Abi yang terkadang memiliki sifat posesif yang menyebalkan.


"Sudahlah, Abi tidak usah khawatir! lebih baik sekarang Abi berangkat ke pondok putera untuk mengajar." Umik mengingatkan kegiatan yang harus Abi jalani.


"Baiklah Abi berangkat dulu Umik," Abi Ilzham mengulurkan tangan ke hadapan Umik yang di sambut senyuman dan ciuman dari Umik.


"Hati-hati Abi!" ujar Umik.


"Iya Umik, Abi pamit Assalamualaikum," pamit Abi berjalan keluar kamar setelah mendaratkan satu kecupan sayang di kening Umik.


"Waalaikum salam," jawab Umik yang ikut berjalan mengantarkan Abi sampai di depan kamar.


Kembali Ke Asrama di mana Arum berada ....


Plak,


tepukan lembut sukses mendarat du pundak Arum yang sedang berjalan sambil melamun.


"Jangan suka melamun di pesantren! kalau kesurupan entar repot jadinya." Ujar Desy yang kini berada tepat di samping Arum.


"Desy, kamu ini ngagetin aja!" tegur Arum yang masih terkejut mendapat tepukan di pundak dari Desy.

__ADS_1


"Kamu kenapa? sejak tadi Aku perhatiin kok ngelamun aja?" tanya Desy.


"Gak apa-apa cuma kangen keluarga pengen pulang," jawab Arum berbohong, dia masih belum siap untuk cerita ke orang lain tentang masalahnya itu, sekalipun orang itu Desy sahabatnya di pesantren.


__ADS_2