Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Titah Umik untuk Desy


__ADS_3

Pagi hari yang sangat sibuk bagi keluarga Hasan dan Arum, mempersiapkan sebuah resepsi bukanlah hal yang mudah ada banyak barang yang mesti di beli dan di hias.


"Desy!" panggil seorang santri yang baru saja masuk ke dalam kamar Desy, hari ini segala kegiatan sengaja di liburkan selama tiga hari untuk mempersiapkan acara resepsi besar pemilik pesantren.


"Iya, ada apa Mbak?" sahut Desy yang baru selesai berias.


"Mbak Desy di panggil Umik." Ujar Santri yang tadi memanggilnya.


"Oh iya mbak, Umik di mana?" tanya Desy yang tak tahu harus pergi ke mana untuk menemui Umik.


"Umik di dapur ndalemnya Mbak," jawab Sang santri.


"Baiklah sebentar lagi saya ke sana." Ujar Desy.


"Kalau begitu saya permisi dulu ya mbak." Pamit sang santri melenggang pergi meninggalkan Desy yang kini meraih kerudung dan memakainya.


Dengan langkah pasti dan penuh semangat Desy berjalan menemui Umik, seperti biasa dia akan mendapat beberapa tugas untuk membantu Umik jika di pesantren ada acara.


"Assalamualaikum Umik," ucap Desy setelah sampai di dapur, Desy langsung masuk sambil meraih tangan Umik dan mencium punggung tangannya.


"Waalaikum salam, Desy bisa bantu Umik?" tanya Umik.


"Bisa Umik," jawab Desy penuh hormat.


"Desy tolong belikan beberap barang yang sudah Umik catat di kertas ini, kamu bisa bawa satu temenmu untuk membantu dan nanti biar Huda yang nganter." Titah Umik.


'Kenapa bareng Mas Huda sih? apa Psk Marto gak ada ya?' batin Desy.


Akhir-akhir ini Desy sering sekali bertemu dengan Huda, dan pertemuan itu membuat rasa kagum yang timbul di hati Desy semakin tumbuh dan berkembang.


"Desy!" tegur Umik yang merasa heran melihat Desy tak langsung mengambil kertas beserta uang yang di sodorkan padanya. Desy malah terdiam mematung dengan tatapan kosong.


"Iya, Umik," sahut Desy tersadar dari lamunan setelah mendengar panggilan dari Umik.


"Kamu sakit?" tanya Umik khawatir.


"Tidak Umik, saya sehat kok," sahut Desy.

__ADS_1


"Yasudah kamu bisa panggil temanmu setelah itu langsung ke halaman saja. Huda sudah ada di sana." Titah Umik yang langsung di turuti oleh Desy.


"Baik, Umik, Desy berangkat dulu." Pamit Desy sambil mengucapkan salam kemudian beralih mencium punggung tangan Umik dan melenggang pergi meninggalkan Umik yang kembali sibuk dengan aktifitasnya.


Desy sebenarnya ingin menghindari Huda karena perasaan yang di miliki untuk Huda terasa semakin besar dan mendalam, Desy takut jika perasaan itu bisa menguasai dirinya.


"Shinta! sini!" panggil Desy saat melihat Shinta sang sahabat berdiri seorang diri mengambil jemuran yang tergantung indah di tempatnya.


"Apa? pagi-pagi udah berisik." Keluh Shinta.


"Aku mau ngajakin kamu jalan-jalan ke pasar mau gak?" tawar Desy.


Di perintah untuk berbelanja barang ke pasar adalah perintah yang paling menyenangkan bagi seorang santri, meski mereka keluar dengan tujuan tertentu tapi tetap saja mereka merasa senang.


Kapan lagi mereka bis pergi melewati gerbang besr yang biasanya hanya bisa mereka lihat dari tingkat sekolah, melihat jalanan di luar pesantren terasa jauh berbeda dengan jalanan yang ada di dalam pesantren. Ada rasa sejuk dan lega yang menyeruak dalam hati.


Perasaan yang selama berbulan-bulan tak bisa di rasakan, berada di pesantren memang sangat menyenangkan, tapi jika bisa keluar dari lingkungan pesantren pasti terasa begitu menyenangkan.


"Hah? apa? jalan-jalan? mau donk," sahut Shinta langsung mempercepat gerakannya agar bisa segera selesai mengangkat cucian yang sudah kering meski baru di jemur kemarin sore.


"Iya, kamu mau ikut atau enggak?" tanya Desy dengan maksud menggoda agar Shinta semakin mempercepat gerakannya.


Dengan secepat kilat Shinta pergi meninggalkan Desy yang justru tersenyum lucu menanggapi sikap Shinta.


Dengan santainya Desy berjalan mengikuti langkah Shinta masuk ke dalam kamar.


"Jangan dandan lama-lama Shin! kita sudah di tungguin sama Mas Huda!" ujar Desy sedikit berteriak agar Shinta mendengarnya karena jarak mereka kedua cukup jauh.


"Tunggu!" Shinta yang sudah menaruh baju-baju yang tadi di ambil di tempat seharusnya kini kembali berjalan menghampiri Desy yang masih berjalan mendekat ke arahnya.


"Ada apa?" tanya Desy sambil mengerutkan dahi bingung dengan respon yang di berikan oleh Shinta.


"Kamu jalan-jalan bareng Mas Huda, terus Aku sama siapa? jangan bilang kamu mau jadiin aku obat nyamuk." Tebak Shinta yang mendengar jika mereka akan peegi bersama Huda.


""Kata siapa aku jalan-jalan sama Mas Huda? aku mau beli beberapa barang yang di minta oleh Umik kalau kamu gak percaya ini lihat buktinya." Desy menunjukkan kertas berisi daftar belanjaan yang harus di beli oleh Desy.


"Oh, ok tunggu bentar!" ujar Shinta melipir pergi menuju kamarnya kembali.

__ADS_1


"Eh Shinta! kamu mau ke mana?" seru Desy dengan ekspresi wajah bingung.


"Tunggu bentar! aku mau pasang alis dulu." Sahut Shinta.


"Aku kasih kamu waktu lima menit. Jangan lama-lama! kalau kelamaan aku tinggal." Ancam Desy yang kini duduk di depan kamar menunggu Shinta bersiap pergi bersamanya.


Lima menit tepat Shinta sudah siap dengan dandanan yang lumayan tapi satu hal yang membuat Desy merasa terusik.


"Ishhh kamu pakai parfum berapa banyak sih Shin?" tanya Desy yang tak tahan dengan bau parfum Shinta yang terlalu menyengat hidung.


"Sebotol, udah jangan hiraukan parfumku! yang penting sekarang kita pergi dulu." Shinta tak memperdulikan celotehan Desy tentang parfum yang dia pakai, Shinta justru menarik tangan Desy untuk ikut bersamanya.


"Emang kamu tahu Mas Huda nunggu kita di mana?" Desy sedikit jengkel dengan sikap Shinta dan mengutarakannya.


"Enggak, aku lupa kalau tadi yang ngajak kamu, hehe ... sorry ya," Shinta hanya bisa nyengir kuda menyadari jika sikapnya memang salah.


"Yaudah ayo ikut!" Desy menuntun Shinta untuk ikut bersamanya.


Keduanya berjalan menuju halaman pesantren di mana Huda berada, dari kejauhan terlihat Huda sedang menyiapkan mobil untuk mereka berangkat.


"Desy!" panggil Huda.


"Iya Mas Huda," sahut Desy seraya mendekat ke arah Huda.


"Sudah siap?" tanya Huda dengan wajah berbinar.


"Sudah," jawab Desy.


"Ini siapa?" tanya Huda yang baru menyadari jika ada orang lain di samping Desy.


"Oh kenalin, Ini sahabatku Shinta." Jawab Desy menperkenalkan Shinta padanya.


"Hay Shinta, kenalin aku Huda," sahut Huda dengan senyum yang terlihat begitu menawan.


"Saya Shinta," sahut Shinta penuh hormat.


"Ayo masuk! biar aku antar." Ujar Huda membukakan pintu tengah untuk kedua gadia yang sekarang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Terima kasih," ucap Desy.


"Sudahlah, jangan berterima kasih! kita kan udah cukup lama kenal. Jadi santai saja." Sahut Huda yang masih setia tersenyum di hadapan Desy dan Shinta.


__ADS_2