Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Mengalah


__ADS_3

"Kenapa kamu gak izin pulang aja sama Umik atau Abi?" usul Desy.


"Pulang? emang bisa?" tanya Arum yang sedikit terkejut mendengar saran Desy.


"Ya bolehlah, biasanya Umik akan memberi keistimewaan untuk santri baru sepertimu." Jawab Desy.


"Keistimewaan? maksudnya?" Arum yang tak mengerti maksud dari ucapan Desy kembali bertanya.


"Setiap santri baru boleh izin pulang hanya untuk mengobati rindu, karena menjadi santri itu juga butuh proses, tak semudah yang di lihat. Santri butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan." Jelas Desy.


"Lingkungan di pesantren itu jauh berbeda dengan lingkungan di rumah. Jika di rumah kita bisa melakukan apapun yang kita inginkan, tapi semua yang bisa kita lakukan di rumah tak semuanya bisa kita lakukan di pesantren (Desy sejenak diam mengambil nafas kemudian membuangnya perlahan) misal jika kita di rumah bisa main ponsel atau nonton TV sepuasnya, tapi jika di pesantren ada aturan-aturan tertentu yang harus di patuhi jika ingin bermain ponsel ataupun menonton TV. Maka dari itu pengasuh memberi sedikit keistimewaan untuk santri baru agar mereka bisa menyesuaikan diri dengan aturan yang ada di pesantren." Desy menjelaskan semua alasan secara detail.


"Oh, begitu," sahut Arum sambil manggut-manggut tanda jika dia sudah mengerti.


"Apa kamu berminat untuk pulang?" tanya Desy.


"Entahlah, Aku masih belum memikirkannya. Karena jika pulang Aku pasti butuh waktu yang lebih lama untuk itu." Jawab Arum menerawang ke atas.


Perjalanan pulang yang cukup memakan waktu membuat Arum berfikir dua kali untuk pulang ke Australia menemui sang bunda, karena dia yakin waktu pulang yang di berikan oleh Umik dan Abi tidak akan banyak.


"Hey, malah ngelamun lagi ni anak." Ujar Desy membuyarkan lamunan Arum.


"Astaghfirullah, sudahlah dari pada Aku jadi ngelamun mulu, Lebih baik kita berangkat ngaji." Ajak Arum yang baru ingat jika sekarang waktunya untuk mengaji Al-qur'an bersama Ustadzah di mushollah.


Malam ini terasa begitu panjang, Arum yang memang masih belum bisa menyesuaikan diri secara sempurna merasa begitu tersiksa dengan tempat tidur seadanya yang ada di pesantren. Meski begitu Arum tetap berusaha tegar dan mencoba melewati semuanya dengan penuh kesabaran.


Malan panjang telah berlalu berganti pagi cerah yang di penuhi dengan kicauan burung di sawah dekat pesantren.


"Arum Kita berangkat dulu ya, assalamualaikum," pamit Desy dan Sinta yang kini sudah siap berangkat sekolah dengan tas punggung yang sudah melekat rapi di punggung mereka.

__ADS_1


"Iya, hati-hati ya!" sahut Arum yang sesekali menunjukkan kekekhan lucu.


Arum yang di pamiti kedua gadis itu, dia l jadi merasa tua dan lucu.


"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Fifi yang sejak tadi berdiri di samping Arum tapi sedikitpun tak di sapa olehnya.


"Biasa Mbak baru dapet lotre," jawab Arum enteng.


"Hus anak santri kok omongannya litre-lotre segala." Tegur Fifi.


"Upss sorry Mbak keceplosan," Arum mengacungkan dua telunjuk jari tengah dan telunjuk menunjukkan sebuah perdamaian.


Fifi hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Arum yang teringat sedikit selengek'an.


"Mbak Aku pamit berangkat belajar dulu ya, Assalamualaikum," Arum berjalan keluar kamar seraya berpamitan setelah mengambil buku yang akan dia gunakan untuk belajar bersama Hasan.


"Assalamualaikum," ucap Arum setelah sampai di depan pintu rumah Umik.


"Waalaikum salam," sahut Mbak Hana yang kebetulan lewat dan mendengar suara salam Arum di balik pintu.


"Mbak Hana, Kak Huseinnya ada?" tanya Arum.


"Mas Husein sedang duduk di ruang keluarga Mbak," jawab Hana dengan senyum yang tak pernag luntur dari bibirnya.


"Oh, terima kasih Mbak. Aku masuk dulu ya!" ucap Arum berjalan masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum Kak Husein," ucap Arum yang melihat Husein sedang duduk di ruang keluarga dengan remote TV di tangannya, terlihat jelas jika saat ini Husein sedang menonton berita.


Klik ....

__ADS_1


Saluran televisi di matikan, "Waalaikum salam," sahut Husein mengalihkan pandangannya ke arah Arum.


"Duduklah!" Husein menggeser duduknya agak menjauh dari sudut sofa, seperti memberi ruang untuk Arum duduk.


Arum yang mendengar perintah Husein hanya bisa menurutinya tanpa banyak berkomentar. Materi pelajaranpun di sampaikan tapi dengan suasana yang berbeda Husein lebih banyak diam dan berbicara seperlunya dan terkesan dingin membuat Arum bingung dengan sikap berbeda yang di tunjukkan oleh Husein.


"Kak Husein gak apa-apa?" tanya Arum sesaat setelah selesai belajar.


"Hah? memangnya Aku kenapa?" bukannya menjawab Husein malah berbalik bertanya pada Arum.


"Kenapa Kak Husein diem aja sejak tadi?" Arum yang memang tak pernah bisa tahan jika orang di dekatnya bersikap berbeda langsung meluncurkan kembali pertanyaan yang sejak tadi bersarang di benaknya.


"Aku diam? gak juga. Ini Aku sednag berbicara denganmu." Jawab Husein yang membuat Arum sedikit emosi.


"Kakak gak bersikap seperti biasa, sikap Kakak jadi mirip sama Kak Hasan," ucap Arum.


"Mungkin karena Kakak sedikit lelah, jadi sikap Kakak sedikut berbeda." Jawab Husein dengan senyum lembutnya.


Arum hanya bisa menghembuskan nafas pasrah mendengar jawaban Husein yangs sebenarnya tak melegakan dirinya.


"Jika Kakak memang lelah Aku pergi saja, maaf sudah mengganggu Kak Hasan," ucap Arum yang langsung berdiri meninggalkan Husein dengan perasaan yang campur aduk.


Husein yang mendengar ucapan Arum hanya bisa menghembusakan nafas kasar, sebenarnya bersikap dingin dan acuh pada Arum adalah hal tersulit yang Husein lakukan, tapi keadaan memaksanya.


Setelah semalam tanpa sengaja Husein mendengar percakapan Umik dan Abinya di kamar membuat Husein menyerah dan berusaha mengalah melupakan Arum yang sudah dia sukai sejak kecil. Bukan karena dia tak ingin berjuang hanya saja dia tak ingin mengecewakan Umik dan Abinya jika harus bersaing atau berselisih dengan sang Kakak hanya karena seorang gadis.


Saat ini Husein sedang berusaha keras menghilangkan semua rasa yang ada di dalam hatinya untuk Arum.


Semalam saat Husein ingin mengutarakan niatnya yang ingin melamar Arum tak sengaja mendengar Umik dan Abi membicarakan masalah pinangan yang akan di lakukan tanggal dua bulan depan, waktu itu pintu kamar Umik tak tertutup rapat, jadi Husein bisa mendengar semuanya dengan jelas.

__ADS_1


__ADS_2