
Hasan dengan segala ujiannya mencoba untuk terus bertahan demi seseorang yang sebenarnya sudah halal untuknya, bermain solo adalah hal terakhir yang bisa dia lakukan saat hasratnya telah memuncak tak tertahankan.
"Abi, cepatlah sedikit! nanti kita kesorean di jalan." Ujar Arum yang sejak tadi menunggu Hasan setelah bersiap.
"Iya, bentar," sahut Hasan dari dalam mobil.
"Ahh dasar wanita maunya di mengerti tapi gak mengerti, gak tahu apa kalau Aku harus bermain solo gara-gara dia," gerutu Hasan.
Hasan tak menghiraukan panggilan Arum lagi, dia lebih memilih mempercepat permainannya dan segera keluar dari kamar mandi penuh nista itu.
"Tumben mandinya lama banget Bi," seru Arum yang duduk di ujung kasur menunggu sang suami yang saat ini baru selesai mandi.
"Aku lama mandinya gara-gara kamu Syei'," jawab Hasan.
"Loh kok gara-gara Aku sih Bi?" Arum mengernyitkan dahi bingung dengan ucapan Hasan.
"Sudahlah jangan di bahas lagi!" Hasan melenggang pergi meninggalkan Arum menuju ruang ganti baju.
"Aneh, mandi lama gara-gara Aku, memangnya Aku ngelakuin apa?" lirih Arum yang masih tak mengerti kenapa Hasan menyalahkan dia.
Perjalanan menuju rumah saudara Oma cukup jauh karena berada di daerah pegunungan, terlihat pemandangan yang begitu indah dengan sawah yang membentang di kiri dan kanan jalan.
"Rumah saudara Oma lumayan jauh ya Syei'," celetuk Hasan yang merasa sepi karena sejak tadi tak ada yang memulai percakapan.
"Lumayan Bi, tapi pemandangan dan hawa di sana benar-benar enak Bi, sejuk dan indah," sahut Hasan.
"Sejuk apa dingin?" tanya Hasan.
"Kalau siang sejuk tapi kalau malem dingin banget Bi," jawab Arum.
"Bagaimana kalau kita nginep di sana nanti?" usul Hasan yang tiba-tiba memiliki ide cemerlang agar bisa semakin dekat dengan Arum.
"Boleh juga, Bunda sama yang lain nanti pasti nginep," jawaban sempurna yang di harapkan Jasan terdengar dari bibir Arum.
__ADS_1
"Baiklah, kita nanti nginep saja di sana." Hasan tersenyum senang mengingat rencana yang telah di susun dengan sempurna.
"Bi, nanti setelah perempatan kita berhenti sebentar di supermarket sebentar ya." Pinta Arum yang juga memiliki ide di kepalanya.
"Kamu mau beli apa di sana?" tanya Hasan penasaran, karena saat di perjalanan tadi Arum sempat membelikan beberapa kue sebagai buah tangan.
"Aku berencana mau ajak yang lain bakar-bakar ikan dan jagung nanti. Suasana akan jadi lebih seru dan hidup jika kita melakukannya bersama." Jawab Arum.
"Nanti kita akan turun di sana, tapi saat ini yang terpenting kamu jangan banyak tingkah! jalanannya licin." Husein mulai merasa konsentarinya terpecah karena ocehan dan tingkah Hasan.
"Abi kita naik mobil bukan sepeda, apa pengaruhnya?" tanya Arum yang justru merasa bingung dengan apa yang di perintahkan oleh Hasan.
"Konsentrasiku hilang gara-gara lihat kamu Syei'," jawab Hasan, kini dia memalingkan wajah menatap lurus ke depan tanpa memperdulikan Arum yang terlihat masih bingung.
Perjalanan jauh telah terlewati, tibalah Hasan dan Arum di sebuah rumah besar yang mirip dengan sebuah Villa, letaknya cukup strategis dengan pemandangan indah yang tersuguh di sana.
Hasan merasa badannya cukup lelah hanya bisa merenggangkan otot-ototnya seraya menikmati indahnya alam sekitar, udara segar terasa begitu menusuk ke dalam hidung memberi sensasi tersendiri bagi Hasan yang jarang sekali menikmati udara sesejuk itu.
"Indah sekali," ucap Arum.
"Sudahlah Bi, jangan menggombal terus! lebih baik kita masuk dan ku perkenalkan Abi dengan keluargaku yang lain." Arum langsung menarik tangan Hasan tanpa permisi dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
"Pelan-pelan Syei'! jangan buru-buru! Aku gak bakal lari kok." Hasan sengaja menggoda Arum tang terlihat begotu antusias mengajaknya masuk dan berkenalan dengan keluarga yang lain.
"Ishhh Abi!" ucap Arum sambil melepas pegangan tangan dan menghentikan langkahnya.
"Kenapa Syei?" sahut Hasan santai tanpa dosa membuat Arum jengkel karenanya.
Tanpa berbicara lagi Arum langsung pergi dengan langkah kaki lebar meninggalkan Hasan yang tersenyum bahagia karena bisa menggoda Arum.
Bagi Hasan menggoda Arum sudah menjadi hal yang biasa dan menyenangkan untuk dia lakukan, melihat pipi Arum yang merah merona karena malu atau blushing memberikan kebahagiasn tersendiri bagi Hasan.
Arum adalah warna di kehidupan Hasan yang hanya berhiaskan hitam dan putih, Arum adalah pelengkap dalam hidup Hasan.
__ADS_1
"Assalamualaikum," ucap Arum dan Hasan hampir bersamaan, meski tadi Hasan sempat tertinggal karena Arum berjalan lebih dulu tapi kini keduanya berada di tempat yang sama dan saling berdampingan.
"Waalaikum salam," sahut Bunda Fia yang kebetulan lewat di ruang tamu.
"Masya Allah anak-anak Mama sudah datang, ayo masuk, kita kumpul bareng yang lain." Ajak Bunda Fia yang langsung menggandeng lengan Arum dan memberi isyarat pada Hasan untuk berjalan mengikutinya.
"Oma! lihatlah siapa yang datang!" ucap Bunda Fia yang sangat mengerti jika sebenarnya sang Oma telah lama merindukan Arum yang jarang sekali bisa dia temui.
"Arum cucuku kemarilah Nak!" titah Oma Arum.
kemarin Oma meninggalkan Arum dan pergi ke rumah saudaranya karena dia baru saja mendapat kabar jika saudaranya sedang sakit dan tak ada yang menemani, semua anak dan cucunya ada di luar negeri juga ada di luar kota, rencana awalnya Oma akan menginap dua hari, tapi rencana itu gagal karena saudaranya itu merengek dan meminta Oma Arum untuk tetap tinggal di sana dan menemaninya.
"Oma!" sahut Arum berlari mendekat ke arah sang Oma dan memeluknya penuh rindu.
"Bagaimana kabarmu Arum?" tanya Oma.
"Alhamdulillah baik Oma," jawab Arum tanpa melepas pelukannya.
"Sudah jangan pelukan terus! kasihan menantu tampanku ini," sela Bunda Fia.
"Tante Sofi kenalin ini Hasan menantuku," Bunda Fia mengenalkan Hasan pada Sofi yang notabennya Adik dari Oma Arum yang berarti Oma Arum juga.
"Selamat datang di gubukku Nak, semoga kamu betah," ujar Sofi dengan senyum ramah yang menghiasi wajahnya.
"Terima kasih Oma," sahut Hasan sembari mencium punggung tangan Oma Sofi.
Arum mulai memperkenalkan Hasan pada keluarganya yang lain dan benar saja Hadan yang mendadak ramah begitu cepat menyesuaikan diri bercengkrama dan mengobrol santai dengan keluarga Arum.
Sikap yang di tunjukkan oleh Hasan saat ini jauh berbeda dengan sikap yang biasa di tunjukkan di pesantren.
"Tetima kasih Bi," ujar Arum saat keduanya telah berada di dalam kamar.
"Terima kasih untuk apa Syei'?" sahut Hasan yang tak mengerti dengan ucapan terima kasih yang di ucapkan oleh Arum.
__ADS_1
"Terima kasih karena Abi sudah bersikap ramah dan begitu menyenangkan di hadapan keluargaku." Jawab Arum yang sangat tahu bagaimana sikap Hasan di pesantren. Meski hanya beberpa bulan Arum berada di pesantren tapi dia cukup tahu bagaimana dinginnya Hasan pada santriwati yang ada di sana.
"Semua itu gak gratis Syei', harus ada imbalannya." Ujar Hasan dengan berbagai ide cemerlang yang selalu muncul di saat yang tepat.