Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Calon Teman Hidup


__ADS_3

"Memangnya siapa gadis yang kamu maksud Huda?" Buya kembali bertanya.


"Dia salah satu santri Umik dan Abi Buya," jawab Huda, kini dia mulai berani mengakui perasaannya di hadapan Buya dan yang lain.


"Dia Desy Buya," sahut Umik yang gemas mendengar jawaban Huda yang tak teransparan.


"Oh, kalau Desy Buya setuju dia gadis yang baik orang tuanya juga baik," sahut Buya membuat seutas senyum muncul di bibir Huda.


"Baiklah, saya peemisi dulu." Pamit Huda sambil melangkah meninggalkan ruang makan menuju halaman belakang, tapi sebelumnya Huda meminta tolong pada salah satu asisten rumah tangga untuk membantunya memanggil dan mencari keberadaan Desy yang saat ini entah berada di mana.


Huda duduk di kursi tempat favorite para cucu Ummah untuk menghabiskan waktu bersantai saat berada di rumah Ummah, yaitu meja kursi yang ada di halaman belakang. Dengan perasaan senang Huda menunggu tanpa rasa bosan ataupun jengah, semua hal terasa begitu indah saat hal itu berhubungan dengan Desy.


"Mas Huda manggil saya ada apa?" suara Desy terdengar begitu lembut di telinga Huda, meskipun yang keluar dari bibir Desy sebuah pertanyaan.


"Duduklah Desy!" bukannya menjawab Huda malah memerintahkan Desy untuk duduk.


Desy yang mendengar perintah dari Huda langsung duduk tanpa banyak bertanya lagi.


"Maaf permisi Mas Huda," suara sang asisten rumah tangga mengejutkan Huda yang sedang menatap wajah Desy yang baru saja duduk di hadapannya.


"ini minuman yang Mas Huda pesan." Sambung sang asisten langsung menaruh dua gelas teh hangat berukuran cukup besar di ats meja tak jauh dari dua porsi makanan ysng tadi di bawa oleh Huda.

__ADS_1


"Terima kasih Bik," ucap Huda dan Sang Asisten hanya tersenyum sambil mengangguk menanggapi ucapan terima kasih Huda yang terdengar begitu tulus.


"Seperti apa yang pernah aku bilang padamu, kita akan makan bersama setiap pagi dan sore sebelum aku kembali ke Australia, dan sekarang sudah waktunya makan, jadi aku ingin kita makan bersama, kamu pasti belum makan saat ini iya, Kan?" Huda yang biasanya tak banyak berbicara kini berubah menjadi banyak bicara jika berada di hadapan Desy, sebenarnya saar ini dia merasa enggan untuk kembali ke Australia dia ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan Desy. Tapi sedetik kemudian fikiran Huda berubah saat dia sadar jika dia pergi ke Australia untuk mendapatkan ilmu yang akan bermanfaat di kehidupannya mendatang membuat Huda perlahan menepis membuang jauh fikiran itu demi masa depan yang lebih cerah.


Desy yang mendengar ucapan Huda langsung tersenyum manis ke arahnya seraya menyuapkan satu sendok menu makanan yang di bawa oleh Huda. Keduanya makan bersama dengan khidmat.


"Setelah ini kamu bisa membersihkan diri dan sejenak beristirahat dulu di kamar yang semalam kamu tempati. Mumpung para tamu masih belum datang, mereka biasanya akan datang agak siang sedikit. Jadi kamu punya sedikit waktu untuk rebahan dulu di kamar." Tutur Huda yang sangat mengerti dengan keadaan dan apa yang di rasakan oleh Desy.


Sejak kedatangan mereka kemarin Desy terus membantu Umik tanpa mengeluh hingga menjelang malam hari, Desy beristirahat sejenak saat sholat, dan kembali membantu Umik menyiapkan segalanya, kemarin adalah hari pertama kematian jadi tamu dan saudara yang ingin mengucapkan rasa simpati mereka.


"Sebenarnya kamar yang aku tempati itu kamar siapa Mas Huda?" tanya Desy, biasanya jika Desy berkunjung dan menginap di rumah Ummah dia akan menempati kamar yang biasa di gunakan untuk para asisten rumah tangga, karena kamar para asisten cukup bagus untuk di tempati.


Tapi kali ini Desy di minta istirahat di kamar khusus tamu dengan ruangan yang jauh lebih luas dan semua yang di butuhkan sudah lengkap di sana membuat Desy heran dengan keadaan yang terjadi.


"Pantas saja kamarnya jauh berbeda dengan kamar yang biasa aku gunakan," Desy langsung menutup mulutnya setelah menyadari jika dirinya keceplosan.


Huda yang melihat tingkah Desy hanya bisa tersenyum lucu, saat ini Desy lebih mirip seperti seorang gadis kecil yang sedang menutup mulutnya karena keceplosan.


"Maaf," lirih Desy dengan ekspresi wajah penuh penyesalan.


'Ya allah dia begitu lucu dan menggoda, seandainya sudah halal pasti bakal aku bungkus dan ku bawa pulan dia.' Batin Huda menatap lekat ke arah Desy tanpa berkedip, jika saat ini Huda merasa gemas pada Desy berbeda lagi dengan Desy yang merasa tidak nyaman dengan tatapan yang di tunjukkan oleh Huda.

__ADS_1


"Maaf Mas Huda, apa ada yang salah denganku?" tanya Desy merasa sedikit risih karena di tatap lekat oleh Huda.


"Iya," jawab Huda singkat membuat Desy terkejut, sontak saja dia membelalakkan mata seraya menepuk pelan pipinya mencoba menyadarkan diri dengan jawaban yang di ungkapkan oleh Huda.


"Apa yang salah? apa ada tepung di wajahku? atau ada hal lain?" tanya Desy.


Desy baru saja dari dapur membantu para asisten membuat adonan kue kering untuk di berikan pada para tamu.


"Tidak ada, kamu hanya terlihat lucu saat ini dan kau tahu aku sangat suka melihatnya." Jujur Huda tanpa mengalihkan pandangannya dari Desy yang kini tertunduk malu menyembunyikan semburat merah yang muncul di pipinya.


"Terima kasih untuk semuanya Mas Huda," Desy selalu saja berterima kasih atas semua yanh di berikan pada Huda, semuanya dia lakukan bukan tanpa alasan melainkan karena Desy merasa masih belum pantas untuk mendapatkan apa yang dia dapatkan dari Huda saat ini, mengingat jika mereka masih belum punya hubungan apapun.


"Jangan terlalu sering mengatakan terima kasih padaku! karena aku melakukan semua ini dengan tulus juga dengan harapan kamu bisa jadi teman hidupku," jawab Huda yang sukses membuat Desy bingung.


"Teman hidup bagaimana maksudnya Mas Huda?" tanya Desy yang tak mengerti dengan arti teman hidup yang di ungkapkan oleh Huda.


"Sudah jangan di fikirkan atau pun di tanyakan! nanti kamu akan tahu sendiri maksud dari ucapanku jika waktunya telah tiba." Jawaban yang sungguh membuat Desy jengah, Huda selalu saja menarik ulur perasaannya. Semua terlihat seolah Huda menyukai Desy tapi selalu saja di patahkan oleh ucapan Huda yang tak membenarkan apa yang ada di fikiran Desy.


"Kalau begitu aku permisi dulu Mas Huda. Ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan." Pamit Desy membuat Huda bingung, karena tadi Huda sudah mengatakan dengan jelas agar Desy beristirahat bukan melanjutkan pekerjaannya.


"Bukankah tadi aku menyuruhmu beristirahat, kenapa kamu malah mau melanjutkan pekerjaanmu?" sahut Huda yang kurang suka dengan ucapan Desy.

__ADS_1


"Maaf maksudnya aku permisi mau ke kamar istirahat dulu." Mengalah adalah hal terbaik yang bisa di lakukan oleh Desy saat ini, dia tengah malas untuk berdebat.


__ADS_2