
"Demi kamu dan calon mertua, sakit juga gak apa-apa Desy," sahut Huda yang sukses membuat Desy bersemu merah karena malu.
"Bisa tidak Mas Huda jangan menggombal di saat yang genting seperti ini!" sahut Desy menutupi rasa malunya.
"Santai saja, aku cuma sakit perut biasa, nanti juga sembuh sendiri," jawab Huda sambil tersenyum manis dengan tujuan merubah suasana genting menjadi lebih rileks.
"Yang namanya sakit ya tetep aja sakit Mas Huda," ujar Desy sambil menampakkan wajah heran mendengar ucapan Huda.
"Baiklah, karena sekarang aku sakit maka kamu harus merawat dan menemaniku makan," ujar Huda.
Sejak kecil Huda memang selalu merasa sakit perut setelah makan nasi jagung, dan rasa sakit itu akan hilang saat dia susah minum obat sakit perut biasa dan kembali makan setelahnya. Meski terdengar aneh tapi Huda bisa sembuh karenanya.
Waktu terus berlalu, saat ini sudah sepekan dan sekaranglah saat yang di tunggu-tunggu telah tiba, hari di mana Huda akan mengikrarkan janji suci pernikahan, mengikat Desy untuk dirinya dan menjadikannya teman hidup.
Suasana riuh terlihat di sebuah gedung pencakar langit, pernikahan Huda memang sengaja di gelar di hotel mewah yang ada di kotanya. Semua keluarga sudah hadir dan Desy pun telah di rias dengan begitu cantik nan anggunnya.
"Masya allah anak Ibu cantik sekali," decak kagum Ibu Desy saat melihat kecantikan dan keanggunan yang terpancar dari wajah Desy.
"Iya, Ibu Desy cantik sama seperti Ibunya," sahut Shinta.
"Kenapa kamu baru datang? hah?" celetuk Desy saat melihat Shinta yang baru saja datang dengan satu kotak hadiah berbungkus kertas kado cantik berwarna merah hati.
"Ake ke sini mau ikut acara pesta mewah ini bukan mau bantuin cuci piring, jadi aku harus datang sekarang. Kalau aku satang tadi pagi, kamu pasti nyuruh aku bantu-bantu nyuci piring," Shinta tersenyum sumringah sambil berceloteh.
"Aku mengundangmu emang buat aku suruh nyuci piring, kan lumayan alu bisa dapet pelayan gratis," sahut Desy, dia bersyukur Shinta datang tepat waktu, jadi dia bisa mengalihkan rasa gugup yang kini mulai hinggap.
__ADS_1
"Ibu, anakmu jahat sekali, masak gadis secantik aku mau di suruh nyuci piring," Shinta mulai memainkan dramanya, dia berpura-pura menangis dan menunjukkan wajah sedihnya di hadapan Ibu Desy.
"Ishhh, dasar drama," ejek Desy.
"Sudah-sudah jangan main drama-dramaan! sebentar lagi acara ijabnya akan di mulai, diam dan dengarkan baik-baik!" Ibu Desy yang mulai jengah dengan sikap sengklek keduanya langsung mengingatkan jika saat ini bukan waktu yang tepat untuk bermain drama.
"Astaghfirullah, sampai lupa aku, ini kado untukmu." Shinta memberikan kado yang sejak tadi masih setia berada di tangannya pada Desy.
"Wah kamu kenapa repot-repot bawa kado, harusnya kamu bawa yang lebih banyak dari ini bukannya cuma bawa satu," seruh Desy.
"Dasar sahabat sengklek bukannya berterima kasih malah minta yang lebih banyak," ujar Shinta kemudian keduanya saling melempar senyum karena apa yang mereka ucapkan bukanlah hal yang serius.
"Eh Desy adikmu ke mana? aku kok gak lihat dia dari tadi?" tanya Shinta yang baru menyadari jika sejak dia datang tadi, dia tak melihat Vina adik Desy.
"Gak tahu tu anak, mejeng kali, padahal tadi ada di sini tapi entah ke mana dia sekarang," jawab Desy jujur.
"Dasar remaja labil," ujar Shinta.
"Emang kamu udah tua bukan remaja lagi? samapi-sampai adik aku aja kamu bilang remaja labil, padahal situ juga sama, labil kalau lihat yang bening," sahut Desy saat mendengar Shinta mengatakan jika Vina sang adik di bilang remaja labil.
"Ishh, kalau aku beda Desy, aku sedang dalam pencarian cinta sejati untuk hidupku, makanya aku mau nyari yang terbaik agar aku bisa bahagia," Shinta berkilah dari apa yang di katakan oleh Desy.
"Nyari cinta sejati atau nyari yang paling bening bin ganteng untuk di pandang? hm?" tanya Desy yang begitu memahami watak sang sahabat.
"Kalau bisa dapat dua-duanya lah Desy," jawab Shinta sambil terkekeh mengingat jika apa yang di katakan oleh Desy ada benarnya.
__ADS_1
"Dasar maruk kau," ejek Desy.
"Eh coba denger! bukankah itu suara Mas Huda, sudah jangan ngomong lagi! dengerin tu calon suamimu mengucapkan ijab kabul!" sela Shinta yang mendengar dengan jelas suara Huda mulai menyahuti ucapan penghulu.
Suasana kamar hotel yang tadi sedikit riuh karena ocehan Desy dan Shinta kini mulai hening karena keduanya mulai menyimak suara penghulu dan Huda yang sengaja di diperdengarkan di kamar hotel dengan alat khusus.
Desy langsung menegang saat mendengar Huda mulai menyahuti ucapan penghulu, dengan satu tarikan nafas akhirnya Desy telah sah menjadi istri seorang Huda.
"Alhamdulillah," ujar Shinta sambil memeluk Desy dari samping, terlihat jelas raut wajah bahagia di wajah Shinta dan kelegaan di wajah Desy.
"Alhamdulillah," lirih Desy.
"Akhirnya, kamu benar-benar jadi istri Mas Huda, selamat ya, semoga pernikahanmu bisa langgeng sampai tua dan bisa menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warohmah," ujar Shinta sesaat setelah memeluk Desy sang sahabat.
"Terima kasih sudah jadi sahabat terbaikku Shinta, semoga kamu bisa secepatnya nyusul," sahut Desy yang di amini oleh Shinta.
"Menantuku, sudah waktunya keluar, ayo!" ajak Imah yang baru saja masuk ke dalam kamar bersama Ibu Desy dan Vina yang ada di belakangnya.
Desy mendapatkan paket lengkap dalam hidupnya yang akam membuat hidupnya makin sempurna, suami yang baik, mertua yang ramah dan penuh perhatian, juga keluarga yang siap dua puluh empat jam untuk membantunya.
"Iya, Ibu" sahut Desy yang kini mengubah panggilannya pad Ibu Huda.
"Ayo keluar sayang!" ucap Imah menggandeng tangan kiri Desy sedang sang Ibu hanya tersenyum sambil menggandeng tangan kanannya.
Desy melangkah keluar kamar dengan langkah pasti di apit oleh Ibunya dan Imah, sedang Shinta dan Vina berjalan tepat di belakang Desy. Acara resepsi hari ini memang sengaja menjadi satu dengan acara akad nikah, begitu pula dengan tamu undangan dari keluarga kedua mempelai juga di jadikan satu, semua di lakukan atas persetujuan keduanya demi mempersingkat waktu dan tenaga.
__ADS_1
Semua mata tertuju pada Desy yang kini berjalan menuju pelaminan menemui Huda yang sudah duduk dengan tampannya di sana setelah menandatangani buku nikah, Huda dan Desy terlihat seperti raja dan ratu dengan balutan baju pengantin yang memperindah pemandangan.