Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Ide Zahra


__ADS_3

"Mulai dah," gumam Hasan.


Arum memang sering ngambek jika apa yang dia inginkan tak dia dapatkan, meski Arum tak pernah mengatakannya, tapi Hasan sudah mengerti dengan sikap Arum yang tiba-tiba diam tanpa banyak kata.


"Syei'!" panggil Hasan yang kini sudah berada di kamar menyusul sang istri.


Arum terlihat sudah memakai baju rapi dan sedang memakai hijab sebagai pelengkap, dia berdiri di depan cermin seperti seseorang yang bersiap untuk pergi.


"Apa, Bi?" sahut Arum tanpa menoleh ke arah Hasan, dia masih sibuk mengaitkan jarum pentul dengan hijab yang dia pakai.


"Kamu mau ke mana?" pertanyaan Hasan berubah setelah melihat Arum bersiap di depan kaca.


Arum yang mendengar pertanyaan Hasan langsung mengalihkan pandangannya, dia berjalan mendekat ke arah Hasan kemudian mengalungkan kedua tangan ke leher Hasan dengan senyum manis semanis madu terlihat di wajahnya.


Sikap Arum sukses membuat Hasan terkejut, dia yang mengira saat ini Arum sedang ngambek karena tak bisa mendapatkan kolak kacang hijau tiba-tiba bersikap manis. Sungguh Bumil yang satu ini tidak bisa di tebak maupun di pahami. Hasan hanya bisa menatap heran ke arah Arum dengan mengerutkan dahi bingung.


"Abi, kita pergi cari kolak kacang hijau di luar aja ya. Atau kita beli bubur kacang hijaunya saja?" ujar Arum, membuat Hasan merasa kaget sekaligus bersyukur dengan apa yang di ucapkan oleh Arum.


"Bi? kok diem sih?" sambung Arum setelah melihat Hasan sang suami hanya terdiam tanpa membalas ucapannya.


"Eh, a~ayo berangkat!" sahut Hasan mencoba mengumpulkan segala kesadarannya dan meyakinkan diri jika saat ini dia tidak sedang bermimpi.


"Ayo!" Arum mengurai pelukannya di leher sang suami kemudian beralih menyatukan jemarinya dan menari tangan Hasan agar ikut bersamanya.


"Tunggu, Syei'!" Hasan sedikit menarik tangan Arum agar dia berhenti dan menoleh ke arahnya.


"Ada apa Bi?" tanya Arum yang kinu terlihat heran.


"Aku siap-siap dulu." jawab Hasan.

__ADS_1


Saat ini dia sedang memakai sarung yang di padukan dengan kaos putih polos pres bodi yang melekat di tubuhnya yang mulai mengembang, Hasan mengalami hal yang hampir sama seperti Arum, yang membuatnya berbeda adalah ukuran perut Arum yang jauh lebih besar karena di memang sedang mengandung.


Arum memperhatikan penampilan sang suami yang terlihat begitu santai, tanpa banyak berkomentar dia justru berjaln menuju lemari dan mengambil satu baju kokoh agar bisa di pakai oleh Hasan.


"Pakai ini saja, Bi!" ujar Arum memberikan satu baju kokoh ke arah Hasan.


Hasan hanya bisa pasrah menerima baju kokoh yang di pilihkan oleh Arum, meski sebenarnya baju kokoh pilihan Arum merupakan baju yang kurang di sukainya.


"Ayo, Bi!" Arum sedikit memaksa Hasan yang masih mengaitkan kancing bajunya. Sedang Arum terus saja menarik tangan Hasan agar berjalan mengikutinya.


"Iya," jawab Hasan singkat sambil mengikuti langkh Arum keluar dari rumah menuju halaman Umik di mana sudah ada satu mobil yang siap untuk di gunakan.


"Silahkan masuk Mas Hasan, Neng Zahra!" sambut Pak Marto sambil membukakan pintu mobil yang ada di hadapan keduanya.


"Loh Pak Marto kok sudah siap di sini?" tanya Hasan merasa semakin bingung dengan apa yang terjadi.


"Tadi aku sempat chat Pak Marto agar nyiapin mobil untuk kita pakai." Jawab Arum sambil masuk ke dalam mobil.


Mobil terus melaju menyisir jalanan yang terlihat sangat ramai dan sibuk, Arum terus saja menatap setiap jalan yang dia lewati mencari penjual bubur kacang hijau atau kolak kacang hijau hingga dia menemukan apa yang dia cari, dan drama kacang hijau yang cukup mengejutkan Hasan berakhir.


Arum telah menemukan apa yang dia cari. Tapi hal itu berbeda dengan Zahra yang masih merasa jengkel karena Husein tak kunjung mengabulkan apa yang dia inginkan.


Zahra masih setia duduk di kursi taman, tatapannya menelusuri setiap tumbuhan yang ada di hadapannya, gurame bakar dan suasana pantai masih saja mengganggu fikirannya, hembusan angin, pemandangan indah dan suara deburan ombak dengan seporsi gurame bakar akan menjadi hal yang paling pas untuk di nikmati saat cuaca tak terlalu panas seperti saat ini.


"Andai aku bisa pergi sendiri ke sana," gumam Zahra.


Zahra yang begitu menginginkan gurame bakar di tepi pantai akhirnya menemukan ide untuk mewujudkan apa yang dia inginkan, dengan langkah penuh semangat Zahra melangkah masuk ke dalam kamar mengambil ponsel yang dia letakkan di sana. Di dalam kamar terlihat Husein masih sibuk dengan laptopnya, dia hanya melihat sekilas ke arah Zahra yang baru saja masuk ke dalam kamar kemudian kembali fokus mengerjakan pekerjaannya.


'Aku akan tetap pergi ke pantai meski tanpa kamu, Mas,' batin Zahra.

__ADS_1


Zahra mengambil dompet dan ponsel kemudian kembali keluar dari kamar meninggalkan Husein yang masih fokus menatap laptop tanpa menoleh ke arah Zahra yang sudah keluar dari kamar membawa dompet dan ponsel di tangannya.


Zahra terus berjalan turun menuju ruang tamu sambil menelfon seseorang.


Tut ... tut ... tut ....


Suara nada tersambung tapi masih belum ada sahutan hingga nada sambung ke dua akhirnya terangkat.


"Iya, Dek, kenapa?" sahut Zein.


Ternyata Zahra menelfon Zein sang Kakak, tadi Zahra terfikir untuk meminta Zein mengantar dan menemaninya makan gurame bakar di tepi pantai.


"Apa Kakak sibuk hari ini?" tanya Zahra dengan nada bicara penuh harap.


"Tidak, kamu mau apa?" sahit Zein yang sudah hafal dengan kelakuan sang Adik yang akan menelfon dan menanyakan sang Kakak sibuk atau tidak itu tandanya dia menginginkan sesuatu.


"Kak, anterin aku ke pantai yuk!" pinta Zahra.


"Pantai? mau ngapain ke pantai, Dek?" tanya Zein bingung dengan apa yang di minta Adiknya kali ini, fikiran Zein melayang ke mana-mana mengingat sang Adik yang sekarang sudah punya suami, tapi mengapa Zahra malah menelfonnya dan meminta Zein untuk mengantarkannya ke pantai. Bukankah ada Husein yang dia tahu saat ini pasti ada di rumah karena Husein sempat bercerita padanya jika dia akan selalu berada di samping Zahra selama dia hamil.


"Aku pengen makan gurame bakar di tepi pantai Kak," jawab Zahra.


"Kenapa harus sama Kakak? bukankah di sana sudah ada Husein?" tanya Zein yang semakin penasaran dengan apa yang terjadi pada Adiknya itu.


"Sudahlah Kak, nanti aku ceritain, yang terpenting sekarang jemput aku dan temani makan gurame bakar!" pinta Zahra tegas.


"Tapi bagaimana dengan Husein, Dek? apa kita ke sana dengannya juga?" Zein masih merasa tidak tenang jika harus menuruti keinginan sang Adik tanpa Husein tahu.


"Kakak datang aja dulu! nanti aku kasih tahu." Zahra tak lagi menerima pertanyaan Zein.

__ADS_1


"Aku tunggu Kakak di rumah titik!" pinta Zahra tak terbantahkan.


__ADS_2