Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Laki-laki Idaman Shinta


__ADS_3

"Rey, loe denger gue ngomong atau enggak?" sahabat Reyhan meninggikan satu oktaf nada suaranya karena Reyhan tak merespon apa yang dia tanyakan.


"Ayo!" Reyhan tak membalas ucapan sang sahabat dia langsung menarik tangannya dan membawanya menuju kantin.


Tanpa ada sepatah kata lagi Reyhan memilih tempat duduk yang strategis, tempat di mana dia bisa melihat Desy duduk dan makan. Kantin sekolahan terletak di belakang kelas dengan ruangan yang terpisah, ruangan khusus buat laki-laki dan ruangan khusus perempuan, keduanya di sekat dengan kawat yang berbentuk jaring. Meski di beri sekat siswa maih bisa melihat satu sama lain.


"Kamu mau pesan apa Rey?" tanya sang sahabat sebelum pergi menuju stand beberapa makanan yang berjajar di sana.


"Bakso," jawab Reyhan asal.


Sang sahabat langsung berjalan menuju stand bakso dan memesan dua mangkok untuk dirinya dan Reyhan. Selama sang sahabat memesan bakso, Reyhan masih saja asyik menatap Desy yang menikmati semangkok mie di atas meja sambil sesekali bergurau dengan Shinta yang setia duduk di sampingnya.


"Desy," lirih Shinta yang sejak tadi merasa jika laki-laki tampan yang berada tak jauh dari tempat keduanya duduk terus saja menatap lekat ke arah mereka.


"Iya, ada apa?" tanya Desy heran.


"Jangan panik ataupun terlihat bingung ketika aku mengatakan apa yang aku lihat nanti," Shinta kembali berkata dengan nada lirih membuat Desy penasaran, Shinta berkata tanpa menoleh ke arah Reyhan yang masih saja menatap Desy.


"Oke, kasih tahu aku ada apa?" sahut Desy mencoba bersikap biasa saja dan tetap tenang meski sebenarnya dalam hatinya sedikit kacau.


"Kayaknya ada yang memperhatikan kamu sejak tadi," Shinta memberitahukannya dengan nada tetap lirih.


"Di mana?" sahut Desy mencoba tetap tenang tanpa menggerakkan kepala mencari tahu di man orang yang di maksud oleh Shinta.


"Di arah jarum jam dua belas, dia laki-laki yang duduk menghadap ke arah kita dan sejak tadi menatap ke arahmu." Jawab Shinta.


Perlahan Desy melirikke arah yang di maksud oleh Reyhan, dan benar saja, saat ini dia masih menatap ke arah Desy meski Desy sudah meliriknya.


"Kamu benar Shin, lihatlah dia masih saja melihat ke arah kita," ujar Desy setelah meliriknya sekilas.


"Sepertinya aku mengenal siapa orang itu," sahut Shinta.


Shinta sejenak berfikir mengingat-ingat siapa laki-laki yang sedang memperhatikan sahabatnya itu.

__ADS_1


"Ahh, aku ingat!" seru Shinta tiba-tiba membuat Desy sedikit terkejut karenanya.


"Astaghfirullah," ucap Desy.


"Sorry, aku kelepasan," Shinta hanya nyengir kuda saat menanggapi kata istighfar yang keluar dari bibir Desy.


"Pelan kenapa Shin! bikin orang jantungan aja," protes Desy.


"Kan barusan aku udah bilang maaf Desy," bela Shinta.


"Emang dia siapa?" tanya Desy.


"Dia Putera juragan tanah yang terkenal ganteng penuh karisma, royal dan yang pasti tajir bernama Reyhan Wibowo," jawab Shinta singkat padat dan jelas.


"Wah, kau sangat tahu sekali tentang dia, apa kamu menyukainya?" Desy memicingkan mata menatap lekat ke arah Shinta menelisik apakah sahabatnya itu jujur atau malah sebaliknya.


"Aku bukan menyukainya, tapi dia itu salah satu laki-laki idaman yang memiliki berjuta-juta, eits ralat, kebanyakan kalau berjuta-juta, Reyhan itu laki-laki yang memiliki banyak banget pengagum dan yang menyukainya juga," jelas Shinta.


"Dan kau termasuk dari salah satunya," sahut Desy.


"Terus tipemu yang seperti apa? dan bagaimana kamu bisa tahu sedetail itu tentang dia kalau kamu tidak ikut-ikutan jadi fansnya?" Desy memberondongi Shinta dengan berbagai pertanyaan, dia malah lebih tertarik untuk mengintrogasi Shinta dari pada mengurusi Reyhan yang menatapnya sejak tadi.


"Aku tahu tentang Reyhan dari teman-teman kita yang biasa ngerumpi di pojok belakang kelas, dan tipe laki-laki idamanku itu harus mapan, tampan dan punya usaha sendiri, bukan banggain kekayaan orang tuanya tipeku kurang lebih dia kayak Mas Huda," jawab Shinta enteng sedang Desy yang mendengar nama Huda di sebut langsung tersedak salivanya sendiri.


"Ukhuk ... ukhuk ... ukhuk ...." Desy terbatuk-batuk mendengar jawaban Desy.


"Sorry-sorry, aku cuma bercanda, gitu aja di anggap serius sampek keselek begini," Shinta mendekatkan satu gelas air minum ke arah Desy yang tengah mengontrol dirinya agar batuknya berhenti.


"Habis kamu bikin aku kaget aja, aku kira kamu beneran suka sama Mas Huda," seru Desy dengan ekspresi wajah terkejutnya.


"Mas Huda memang laki-laki idamanku, tapi aku tak berminat untuk memilikinya ataupun menyukainya lebih dari sekedar kagum aja, karena aku tahu hatinya sudah ada yang memiliki dan aku tak mau merebutnya dari sang pemilik hati," jelas Shinta yang berkata dengan tegas.


"Baguslah jika kamu tak menyukainya," spontan Desy membuat Shinta tersenyum simpul.

__ADS_1


"Dasar sahabat bucinku, takut amat pangerannya di embat," ejek Shinta.


"Bukan takut Shin, hanya sedia payung sebelum hujan," sahut Desy.


"Apa hubungannyadengan sediapayung sebelum hujan?" tanya Shinta yang justru tak mengerti hubungan antara topik yang sedang mereka bicarakan dengan pepatah yang di ucapkan Desy.


"Aku harus berjaga-jaga sebelumterlanjur di ambil orang," jawab Desy.


"Astaga, segitu bucinnya kamu sama Mas Huda, padahal status aja masih gantung kayak jemuran belum kering," ledek Shinta.


"Meski gantung dan aku gak tahu ke mana akhirnya hubunganku dengan Mas Huda, tapi aku akan tetap menunggunya seperi yang dia suruh, jika memang takdir tak mempersatukan kita aku yakin suatu saat nanti pasti akan ada pengganti dia yangakan di berikan padaku." Jelas Desy yang cukup membuat Shinta tercengang, karena dari apa yang di ucapkan Desy sangat terlihat jelas jika saat ini sahabatnya itu sudah mencintai Huda dengan begitu dalamnya.


"Jangan pernah mencintai atau terlalu berharap pada manusia! karena tak semua manusia bisa mencintaimu balik seperti kamu mencintainya dan tak semua manusia bisa mewujudkan harapanmu," ucap Shinta.


"Tumben kali kau jadi bijak," seru Desy heran.


"Aku emang bijak dari dulu kale," sahut Shinta.


"Sudahlah, lebih baik kita balik ke kelas, lagi pula makanannya udah habis juga." Ajak Shinta.


Keduanya justru asyik mengobrol sendiri dan melupakan Reyhan yang tdi sempat jadi topik pembicaraan, bahkan keduanya juga lupa tentang kotak yang nama pengirimnya juga sama Reyhan.


"Rey!" tegur Iwan saat melihat Reyhan memasukkan cukup banyak sambal ke dalam mangkok, padahal Reyhan bukan tipe orang yang suka makan pedas.


"Eh, apa? kenapa?" sahut Reyhan setelah sadar dari lamunannya.


"Itu sambal, bukan saos," jawab Iwan membuat Reyhan sadar dengan kesalahannya.


"Tuker!" Reyhan menukar baksonya dengan bakso milik Iwan yang masih murni belum di campur apapun.


"Ishh, kamu ini kebiasaan, itu kan bakso bagianku," protes Iwan.


"Sudah jangan protes! kamu Kan suka pedas, jadi gak bakal masalah bukan, dan satu lagi, baksonya entar aku yang bayar. Kamu aku traktir," ucap Reyhan membuat Iwan tersenyum senang karenanya.

__ADS_1


"Kalau aku mau nambah satu mangkok lagi boleh?" tanya Iwan yang justru mengambil kesempatan dari mood Reyhan yang terlihat sedang baik.


"Beli aja, nanti aku yang bayarin semua!" jawab Reyhan dan Iwan semakin melebarkan senyumannya karena hari ini dia bisa makan dua mangkok bakso gratis.


__ADS_2