
Husein terus saja menatap laptop dan sesekali melirik ke arah Zahra yang masih terlelap dalam tidurnya, berharap jika sang istri segera bangun dan Husein bisa mengajaknya ke dokter untuk mengetahui apa yang di katakan Bik Sumik benar, Cukup lama Zahra tertidur hingga pekerjaan Husein selesai.
"Sudah bangun, Dek?" Husein langsung berjalan mendekat ke arah Zahra dan duduk tepat di sampingnya saat melihat dang istri membuka mata.
"Hmm," sahut Zahra dengan wajah bingung melihat sang suami yang tiba-tiba mendekat dan duduk di sampingnya.
"Apa kamu masih ngantuk?" pertanyaan konyol muncul dari bibir Husein membuat Zahra semakin bingung di buatnya.
"Maksudnya?" bukannya menjawab Zahra malah balik bertanya.
"Emm, sebenarnya aku mau ngajak kamu ke suatu tempat. Apa kamu mau?" Husein kembali bertanya.
"Kemana?" Zahra menjawab pertanyaan Husein dengan balik bertanya.
"Ke Dokter," jawab Husein.
"Ke Dokter? memang mau ngapain? siapa yang sakit?" Zahra yang tadi masih berbaring di tempat tidur langsung duduk mendengar Husein mengatakan jika dia ingin mengajaknya ke dokter.
"Aku hanya ingin memeriksakan keadaanmu. Apa kamu ingat kapan terakhir kamu datang bulan?" Husein yang terlihat tak sabar langsung bertanya pada intinya.
Zahra yang mendengar pertanyaan Husein langsung teringat jika dirinya sudah telat satu bulan, seharusnya dia sudah kedatangan tamu bulannya tapi sampai saat ini tamunya itu tak kunjung datang.
"Harusnya sudah datang, Mas," jawab Zahra.
"Bagaimana kalau kita ke dokter untuk memastikan apa kamu hamil atau tidak?" tawar Husein.
"Tunggu, Mas! aku ingin memastikannya dulu." Cegah Zahra.
Kebetulan dia baru bangun tidur, tanpa banyak berfikir Zahra berjalan menuju lemari mencari tespack yang selalu dia simpan di sana, selama ini diam-diam Zahra sering menggunakan alat tes kehamilan dan membelinya dengan stok yang cukup banyak, dan hasilnya selalu saja negatif hingga satu bulan yang lalu dia menyerah untuk melakukan tes itu, Zahra memang memiliki jadwal menstruasi yang kurang teratur kadang datangnya telat kadang juga tepat waktu.
"Sejak kapan kamu punya alat itu, Dek?" tanya Husein yang bingung melihat Zahra berjalan menuju kamar mandi dengan tespack yang ada di tangannya.
"Sudah lama, Mas," jawab Zahra tanpa menoleh ke arah Husein, dia terus melangkah masuk ke dalam kamar mandi kemudian mencoba menggunakan alat tes kehamilan yang dia bawa.
__ADS_1
Cukup lama Zahra berada di kamar mandi, hal itu sukses membuat Husein yang sejak tadi menunggunya sedikit khawatir.
"Dek, apa kamu masih lama di dalam sana?" tanya Husein seraya mendekatkan telinganya di pintu kamar mandi.
"Tunggu sebentar, Mas!" sahut Zahra.
'Ceklek'
"Astaghfirullah," ucap Husein yang hampir saja jatuh ke dalam kamar mandi karena Zahra tiba-tiba membuka pintu tanpa memberitahukannya.
"Mas, kenapa ada di depan pintu?" seru Zahra dengan ekspresi terkejutnya melihat sang suami hampir jatuh ke dalam kamar mandi.
"Habis kamu lama, Mas jadi khawatir, takut terjadi apa-apa sama kamu di dalam," jawab Husein.
"Bagaimana hasilnya?" sambung Husein menatap penuh harap ke arah Zahra yang kini justru menunduk menampakkan raut wajah sedih.
"Jika masih negatif tidak apa-apa, Dek, jangan bersedih seperti itu! kita masih punya banyak waktu untuk berusaha," Husein kembali berkata mencoba menghibur Zahra yang terlihat bersedih di hadapannya.
"Bingung kenapa" tanya Husein antusias.
"Ini itu positif atau negatif?" Zahra menunjukkan tespack yang tadi dia gunakan, di sana terlihat satu garis yang terlihat jelas dan satu garis lagi masih samar.
"Kok samar ya, Dek?" tanya Husein bingung dengan hasil tes yang di lakukan sang istri.
"Aku juga gak tahu, Mas, bingung aku," ujar Zahra.
"Dari pada bingung lebih baik kita langsung ke dokter aja bagaimana?" tawar Husein, dia begitu penasaran bercampur rasa tak sabar untuk memastikan apa sang istri hamil atau tidak.
"Baiklah, kalau begitu aku siap-siap dulu ya, Mas," jawab Zahra yang kembali masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedang Husein kini melenggang pergi meninggalkan kamar menuju kamar sebelah untuk mandi di sana agar dia bisa langsung pergi setelah Zahra siap.
Keduanya berangkat menuju rumah sakit untuk memastikan kehamilan Zahra. Sebenarnya Husein memiliki dokter pribadi yang bisa dia panggil kapan saja, tetapi dia memilih pergi ke rumah sakit karena dokter pribadinya Merupakan laku-laki, dan Husein merasa tak rela jika istrinya di sentuh oleh laki-laki lain, sekalipun dia seorang dokter, kecuali jika keadaan sudah mendesak maka Husein akan mempertimbangkannya.
"Permisi," ucap Husein pada resepsionis yang menjaga di rumah sakit.
__ADS_1
"Iya, ada yang bisa saya bantu Pak?" sahut seorang resepsionis yang berjaga.
"Ruang obgyn ada di mana ya?" tanya Husein yang baru pertama kali pergi ke ruangan yang dia tanyakan.
"Bapak lurus saja nanti sana ada ruangan dokter Melati, berada di sebelah kanan dan Bapak bisa masuk ke sana." Tutur sang resepsionis.
"Terima kasih," ujar Husein singkat dia kembalu melangkah menuju ruangan yang di maksud sang resepsionis dengan menggandeng tangan Zahra.
Dengan langkah pasti dan ekspresi penuh harap Husein berjalan melewati setiap ruangan yang terisi beberapa pasien di dalamnya. Hingga dia sampai di ruang obgyn milik dokter Melati.
Tok ... tok ... tok ....
"Permisi Dok," ucap Husein sambil mengetuk pintu ruangan yang bertuliskan Dr. Melati.
"Masuk!" sahut seorang wanita paruh baya yang terlihat masih segar tersenyum menyambut kedatangan keduanya.
"Silahkan duduk!" sambungnya.
"Terima kasih Dok," ucap Husein sedang Zahra hanya tersenyum manis ke arah sang dokter.
"Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter bername tag Melati.
"Begini Dok, saya baru saja melakukan tes kehamilan dengan tecpasck ini, dan hasilnya kurang jelas," Zahra mengatakan apa yang menjadi keluhannya.
"Coba saya lihat dulu alatnya." Sahut Dokter Melati, setelah mendengar ucapan dokter melati Zahra langsung mengambil alat yang tadi dua gunakan dan memberikannya pada Dokter Melati.
Dokter Melati memperhatikan alat yang di berikan pada Zajra kemudian tersenyum ke arahnya.
"Ibu bisa ikut saya. Biar kita pastikan dulu dengan usg," ajak Dokter Melati yang langsung di ikuti oleh Husein dan Zahra.
"Selamat ya Pak, istrinya positif hamil, dan ini sudah masuk usia kandungan tiga minggu, masih terlalu muda, jadi tolong di jaga denhan baik! jangan terlalu banyak fikiran dan gerak juga pola makannya di jaga ya." Tutur Dokter Melati panjang lebar sambil menunjukkan titik putih yang terlihat seperti biji kacang di layar monitor yang ada di samping Zahra yang tengah tidur berbaring.
"Alhamdulillah, akhirnya, aku akan jadi Ayah," ucap Husein penuh rasa syukur dengan ekspresi wajah bahagia.
__ADS_1