
"Bau, Mas," Zahra masih kekeh mengatakan jika Husein memang bau membuat sang empu menyerah untuk berdebat lagi.
"Baiklah, Mas memang bau, sekarang Kamu maunya bagaimana?" menyerah sudah, dari pada terus berdebat tanpa ujung Husein memilih untuk mengalah.
"Mas, mandi aja dulu. Habis itu baru ke sini lagi." Jawab Zahra.
Entah mengapa hari ini terasa begitu berbeda, bagi Zahra dan Husein.
"Baiklah, aku mandi dulu." Pamit Husein meraih handuk yang tergantung tak jauh dari tempatnya berdiri kemudian melenggang pergi meninggalkan Zahra untuk membersihkan diri.
Sedang Zahra yang melihat Husein pergi ke kamar mandi merasa begitu lega, senyumnya langsung merekah menatap ke arah Husein yang terus melangkah menjauh.
Kali ini Husein membutuhkan waktu cukup lama untuk membersihkan diri, dia sengaja menghabiskan waktu lebih lama dari biasanya karena dia ingin tercium lebih wangi dan Zahra tak protes lagi dengan bau badannya.
Usai mandi Husein berjalan keluar dari kamar mandi berjalan santai menuju lemari untuk mengambil baju ganti, tadi saat masuk kamar mandi dia lupa membawa baju ganti gara-gara berdebat dengan Zahra. Semerbak wangi sabun dan shampoo menguar ke seluruh ruangan, apalagi saat ini Husein hanya memakai handuk yang dia lilitkan di pinggang, hal itu sukses menarik perhatian Zahra yang sejak tadi terdiam memejamkan mata menikmati rasa mual yang masih tersisa.
"Hmm, harum," lirih Zahra sambil menileh ke arah Husein yang tak menyadari jika Zahra memperhatikannya sejak tadi.
Husein kini terlihat begitu tampan nan menggoda, kulitnya yang kuning langsat badannya juga sedikit berotot di tambah buliran air yang maaih menetes di sana, keadaan seperti ini bisa membuat siapapun akan tergoda oleh pesonanya.
"Mas!" Zahra sedikit mengeraskan suaranya memanggil Husein yang sedang serius memilih baju di dalam lemari.
__ADS_1
"Hmm," sahut Husein singkat tanpa menoleh, dia tetap saja serius mencari baju yang pas untuk di pakai.
"Ihh, aku di cuekin, Mas! jangan cuek donk!" Zahra kembali bersuara, kini suaranya terdengar sedikit tak enak di telinga membuat Husein langsung menoleh ke arahnya dengan hati bingung.
"Yang cuek siapa, Dek? Mas lagi serius milih baju. Bentar lagi juga bakal ke situ." Jawab Husein menghentikan sejenak aktifitasnya dan menoleh ke arah Zahra yang kini duduk tegak menatap ke arah Husein dengan wajah cemberut.
"Habis kamu di panggil dari tadi cuma hmm doang jawabannya, sebel tau, Mas," tutur Zahra dengan wajah yang masih cemberut.
"Maaf, Mas tidak bermaksud seperti itu, Sayang, ada apa?" tanya Husein dengan senyum yang mengembang menatap balik ke arah Zahra, dia mengurungkan niat untuk mengambil baju ganti dia hanya mengambil satu boxer dari dalam lemari kemudian membawanya mendekat ke arah Zahra.
"Pakai dulu boxernya, Mas!" Zahra kembali memberi perintah.
Sungguh pagi ini Husein harus menyiapkan segunung kesabaran untuk menghadapi istri tersayang nya itu, jika tidak mungkin sejak tadi pasti akan ada perang dunia kedua yang akan mengubah suasana pagi yang tenang menjadi pagi penuh keributan.
"Isshhh, Mas kok langsung di buka sih?" Zahra kembalu protes saat melihat belalai panjang yang kini ada di hadapannya.
"Memangnya kenapa, Dek?" bukannya merasa bersalah, Husein justru bertanya tanpa ada rasa dosa.
"Itu, belalai kamu kelihatan," jawab Zahra.
"Oh, cuma belalai, bukankah ini sudah jadi milikmu? lagi pula kamu juga sudah pernah merasakannya apalagi kamu juga sering memainkannya, jadi santai saja Sayang, lagi pula cuma kamu yang bisa lihat," ujar Husein santai, lalu berjalan memdekat ke arah Zahra dan duduk tepat di hadapannya tanpa memakai baju.
__ADS_1
"Mas, duduk sini aja!" Zahra kembali meminta agar Husein duduk lebih dekat dengannya.
Tanpa banyak kata, Husein langsung mendekat dan duduk tepat di samping Zahra, tanpa di duga Zahra yang melihat Husein sudah duduk di sampingnya langsung melingkarkan kedua tangannya ke perut Husein kemudian menghirup dalam-dalam aroma tubuh Husein dan sesekali menciuminya.
"Kamu mau menggodaku, Zahra? atau kamu mau minta jatah hati ini?" ucap Husein seraya memejamkan mata menikmati sentuhan yang di berikan oleh Zahra, apa yang di lakukan Zahra saat ini berhasil membangunkan sesuatu yang sejak tadi tertidur.
Sentuhan Zahra terasa seperti aliran listrik yang menyengat dengan tegangan tinggi, Husein tak bisa lagi berkutik, dia hanya bisa memejamkan mata menikmati setiap hal yang di lakukan oleh Zahra pada dirinya.
"Aku tidak bermaksud menggodamu, Mas, tapi aroma di tubuhmu ini benar-benar harum dan aku menyukainya," jujur Zahra tanpa menghentikan kegiatannya, dia terus saja menghirup aroma sabun yang ada di tubuh sang suami tanpa berhenti meski sebenarnya dia tahu jika Husein saat ini tengah tergoda dan menahan sesuatu karena kelakuannya.
Husein yang sejak tadi hanya diam menahan segala sesuatu yang bergejolak dalam dirinya, dan menahan sesuatu yang tadinya tertidur dan kini sedang gencar-gencarnya memberontak di bawah sana akhirnya tak tahan dan mulai membalas apa yang di lakukan oleh Zahra.
Tanpa banyak kata lagi Husein langsung mengarahkan tangannya ke tempat yang menjadi favoritnya, gunung kembar dengan puncak berwarna kemerahan yang selalu jadi tempat paling indah untuk menjelajah, Zahra yang saat ini memakai piama berkancing semakin memudahkan Husein untuk menelusup masuk ke dalam dan mulai menjelajah di sana.
"Emm, Mas," lirih Zahra menikmati setiap sentuhan yang kini di berikan oleh Husein.
Sejak tadi Zahralah yang terus menggoda dan membuat keinginan Husein bangkit, kini giliran Husein yang mulai membuat Zahra melayang jauh ke dunia anta berantah, Husein mulai mengusap lembut gunung favoritnya, perlahan usapanpun berubah jadi remasan penuh gairah, jari jemari Husein mulai berkelana menari-nari indah di atas puncak gunung membuat sang empu menggeliat tak karuan.
"Sejak tadi kamu menggodaku, sekarang giliran aku yang akan membuatmu memintanya Sayang," bisik Husein tepat di telinga Zahra sambil sedikit menggigit kecil di sana. Hal itu membuat Zahra semakin tak terkendali.
Pelan tapi pasti satu persatu pengait piama yang sejak tasi saling mengait kini mulai terlepas, terlihatlah gunung kembar berwarna putih mulus yang keluar dari bungkusnya, keindahan ciptaan tuhan yang tersaji di depan mata Husein semakin membuatnya bersemangat untuk memainkannya.
__ADS_1
Husein tersenyum mesum ke arah Zahra yang sejak tadi sudah setengah sadar, matanya sedikit tertutup menikmati permainan Husein, kini bukan hanya tangan Husein yang bermain di sana, melihat puncak gunung berwarna merah muda membuat Husein tak lagi bisa menahannya. Dia langsung melahap dan menjilatinya seperti memakan ice cream. Apa yang di lakukan Husein benar-benar membuat Zahra semakin hilang kendali, tanpa menunghu aba-aba Zahra meremas gemas rambut Husrin dan memindahkannya ke sisi yanh lain dengan suara merdu yang mulai terdengar, sikap Zahra semakin membuat Husein bersemangat untuk terus menikmati puncak gunung yang kini memenuhi mulutnya, keduanya kini tengah terbakar api cinta menikmati setiap permainan yang mereka ciptakan hingga suara ketukan pintu menghentikan kegiatan panas keduanya.
Tok ... Tok ... Tok ....