
Sekuat tenaga Husein menahan perasaannya, sungguh menahan perasaan terhadap seorang gadis yang sudah cukup lama mengisi relung hati adalah hal tersulit yang harus di lewati bagi semua manusia.
Husein hanya mampu terus tersenyum menutupi rasa sakit yang sedang dia rasakan. Meski berat dia harus tetap bertahan demi kebahagiaan sang Kakak.
"Husein!" panggil Umik yang melihat Husein sedang diam menatap lurus ke arah Arum, tak ada yang menyadari karena semua orang sibuk dengan kegiatannya sendiri-sendiri.
Hasan sedang serius menatap layar ponsel, mengecek beberapa email yang baru saja masuk begitu pula dengan Abi. Sedangkan Imah dan Desy sedang menunduk ke bawah karena saat ini mereka merasa canggung berada di antara keluarga Umik.
"Iya Umik, ada apa?" sahut Husein mengalihkan pandangannya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Umik basa basi, tadi Umik menegur Husein karena Umik tahu jika Husein sedang menatap Arum.
"Alhamdulillah baik Umik." Jawab Husein singkat.
"Tuan, ini lobsternya." Seorang pelayan memberikan enam porsi lobster yang berukuran cukup besar, sejak tadi mereka menunggu lobster asam manis yang merupakan menu baru di restauran Husein.
"Ini lobster asam manis menu baru di restauranku, silahkan di coba." Ujar Husein.
"Wah sejak kapan menu ini di luncurkan Dek?" tanya Hasan yang terlihat begitu menyukai lobster karena sejak lobster di hidangkan dia langsung menyambar dan mencicipinya.
"Baru kemarin Kak," jawab husein.
"Terus bagaimana respon pelangganmu Nak?" kini giliran Abi yang bertanya.
"Alhamdulillah mereka menyukai lobster asam manis yang Husein jual," jawab husein.
"Alhamdulillah kalau memang begitu, semoga restauran ini semakin maju dan berkembang di tanganmu Nak," sahut Umik yang begitu bangga melihat anaknya menjadi orang yang punya kesuksesan bukan hanya soal pekerjaan tapi juga soal pelajaran agama yang sudah dia ajarkan.
Semuanya makan dengan suasana hening hanya dentingan sendok yang terdengar karena saat ini mereka sedang berada di ruang vvip di restauran yang sudah jadi milik Husein.
Usai makan semua keluarga termasuk Husein kembali melanjutkan perjalanan menuju bandara, Husein yang di ajak satu mobil bersama dengan Hasan menolak dengan tegas tapi di sertai dengan senyuman.
"Maaf Kak, Aku pengen rebahan. Jadi Alu ikut mobil Abi saja." Tolak Husein saat Hasan mengajaknya untuk ikut satu mobil bersamanya.
Dan Hasan hanya bisa mengikuti keinginan sang Adik karena dia sama sekali tak punya hak untuk menolak ataupun memaksanya, seperti awal perjalanan mobil masih terasa begitu sunyi semua terasa senyap tak ada satupun yang berbicara, sungguh keadaan yang membosankan membuat Arum yang ceria merasa mengantuk, Ac yang dingin, perut yang kenyang juga suasana yang sunyi semakin mendukungnya untuk terlelap dalam dunia mimpi.
Mobil terus saja melaju dengan kecepatan sedang terasa begitu lancar tanpa hambatan, karena jalan menuju bandara begitu mulus tanpa ada lubang ataupun cela.
__ADS_1
"Hasan," lirih Umik.
"Iya Umik," jawab Hasan.
"Sepertinya Arum tertidur, ambilkan bantal untuknya!" titah Umik.
"Umik, apa gak lebih baik Desy bangunkan saja?" tanya Desy yang merasa kasihan melihat Arum jika harus di tinggal sendirian.
"Tidak usah, Arum terlihat begitu lelah. Jadi buarkan dia tidur" Ujar Umik.
"Baik Umik," Desy hanya bisa mengikuti perintah Umik tanpa bisa membantah.
Perlahan Umik meletakkan kepala Arum yang bersandar pada bahunya ke atas bantal yang sudah dia letakkan di samping Arum, bukannya bangun Arum malah menggeliat mencari posisi nyaman untuknya.
'Astagfirullah Arum, kamu tidur ngebo banget sampai gak sadar gitu,' batin Desy sambil menggelengkan kepala heran dengan tingkah Arum yang sama sekali merasa tak terganggu dengan gerakan yang di lakukan Umik untuk memindahkannya.
"Hasan," Umik kembali memanggil puteranya.
"Iya, Umik," jawab Hasan berjalan mendekat ke arah sang Umik.
"Baik Umik," Hasan yang memang penurut hanya bisa mengikuti perintah sang Umik tanpa bisa protes.
"Ingat Hasan! Jangan macam-macam!!" Umik memberi peringatan pada Hasan.
"Umik tenang saja Hasan akan jagain Arum tanpa menyentuhnya, tapi kalau lirik-lirik boleh kan Umik?" Hasan berucap sambil tersenyum menghoda sang Umik.
"Gak boleh! bukan muhrim, inget hukumnya haram." Jawab sang Umik yang membuat Hasan tertawa.
"Siap Umik, Hasan gak bakal ngapa-ngapain kok tenang aja." jawab Hasan.
Desy yang melihat percakapan Hasan dengan Umik begitu terkejut pasalnya Hasan tak pernah terlihat bercanda, menggoda ataupun sesumringah barusan, biasanya dia begitu dingin dan irit bicara.
"Umik pergi dulu. Assalamualaikum," pamit Umik melenggang pergi meninggalkan Hasan sendiri di luar mobil.
Husein yang melihat Hasan tak ikut dan tak melihat Arum keluar dari mobil membuatnya terus berfikir dan bertanya-tanya, Di mana Arum berada? dan kenapa Hasan tak ikut masuk ke dalam bandara.
"Umik," bisik Husein.
__ADS_1
"Iya, ada apa Nak?" jawab Umik.
"Arum ke mana Umik? dan kenapa Kak Hasan gak ikut masuk?" Husein yang sudah tak tahan untuk tidak bertanya langsung melontarkam pertanyaan ke arah Umik.
"Arum ketiduran Nak, jadi Umik tinggal di dalam mobil dan Kakakmu Umim suruh jagain." Jawab Umik dan Husein hanya menganggukkan kepala tanda dia mengerti meski hatinya sedang berdenyut merasakan perih meski tak lagi tertusuk duri.
Semua keluarga masuk ke dalam bandar menunggu Syafa yang sebentar lagi akan sampai.
Setelah lima menit menunggu muncullah Syafa dan Firman beserta puteranya Muhammad Aly Zein yang sudah berusia satu tahun.
"Aly!!" panggil Umik histeris, iya Umik begitu menyukai Aly yang memang tampan dan menggemaskan juga memiliki tingkah yang konyol.
"Umiiikkk!!!" sahut aly yang mulai meronta-ronta minta di turunkan dari gendongan Papanya.
"Aly, Umik kangen." Ujar Umik yang langsung menggendong dan mencium pipi gemul sang keponakan.
"Bagaimana kabar kamu Dek?" tanya Abi yang tak lain adalah Ilzham sang Kakak.
"Alhamdulillah baik Kak, kabar Kak bagaimana?" tanya Syafa.
"Alhamdulillah baik," jawab Abi setelah Syafa meraih dan mencium punggung tanga Abi.
"Kabar kamu gimana Firman?" Abi juga melempar pertanyaan ke arah Firman.
"Alhamdulillah baik juga," jawab Firman.
"Keponakan tante makin ganteng aja, gimana kabarmu?" tanya Syafa yang kini beralih mendekat ke arah Husein yang berdiri di belakang Abinya.
"Baik tante," jawb Husein.
"Kapan kamu nikah?" pertanyaan yang selalu Husein dapat saat bertemu dengan Syafa.
"Besok, tante jangan khawatir Husein bisa nikahi lima gadis sekaipun." Jawab husein.
"Halah lima gadis, satu aja gak dapat-dapat." Ejek Syafa yang membuat keduanya tertawa.
Seperti biasa Desy hanya akan menjadi patung hias saat kedua keluarga di hadapannya baru bertemu karena mereka akan asyik menanyakan kabar satu sama lain.
__ADS_1