
Husein yang mendengar penjelasan Mama Rina langsung melirik ke arah Zahra yang sejak tadi juga melihat ke arahnya.
"Bagaimana? apa kamu bersedia?" tanya Husein.
Beri Aku sedikit waktu untuk berfikir dan menentukan pilihanku Kak!" jawaban yang sama sekali tidak di harapkan oleh Husein, tapi Husein merasa tidak masalah yang penting Zahra tidak menolaknya meski dia tak langsung menerima Husein.
"Kenapa jadi serius gini sih? udahan bahas nikahnya! Aku aja Kakaknya belum nikah kenapa jadi bahas nikahan kamu sih Dek?" sela Zein yang mulai merasa keadaan menjadi canggung.
Akhirnya sarapan bersama di barengi pengakuan Husein yang ingin menjadi menantu Mama Rina telah usai.
Jika Husein sedang berjuang dengan cinta barunya, yang berarti pengganti Arum, maka berbeda lagi dengan Arum yang memulai pagi harinya dengan status baru yang dia miliki. Meski statusnya saat ini masih belum sepenuhnya di umumkan tapi tetap saja dia sekarang istri seorang Hasan putera dari seerang Abi Ilzham, pengasuh Pondok Thoriqul Jannah.
"Bunda lagi ngapain?" tanya Arum yang baru saja masuk ke dapur dan melihat sang Bunda sedang membuat sesuatu di sana.
"Bunda sedang buat minuman untuk Ayah dan Kakakmu. Apa kamu tidak membuatkan sesuatu untuk suamimu Nak?" jawaban Bunda membuat Arum berfikir jika dia juga harus melakukan hal yang sama seperti apa yang di lakukan sang Bunda. Tapi langkahnya terhenti saat berada tepat di samping Bunda karena Arum ingat jika dirinya tak tahu minuman apa yang harus dia buat untuk Hasan. Dan apa Hasan juga minum kopi seperti sang Ayah atau teh atau dia lebih menyukai susu? pertanyaan itu terus saja berputar-putar di otak Arum.
__ADS_1
Arum yang masih bingung langsung memutar langkahnya hendak kembali ke kamar.
"Loh kok gak jadi? kamu mau ke mana Nak?" suara sang Bunda membuat Arum berhenti dan melihat ke arahnya.
"Bunda, Arum belum tahu minuman apa yang biasa di minum Kak Hasan jika pagi, dan Arum mau menanyakannya dulu sebelum membuat dari pada nanti salah dan akhirnya gak diminum kan sayang Bun," Jelas Arum yang membuat Sang Bunda tersenyum
"Hasan biasanya minum kopi Nak, tapi kopinya tidak terlalu manis satu sendok kopi di campur dengan satu sendok gula, sudah tidak usah di tanyakan! lebih baik kamu langsung buatkan kopi seperti yang Bunda bilang tadi." Bunda Fia yang tahu lumayan banyak tentang Hasan dari Uqi kini memberitahukan pada Arum apa yang dia ketahui dan sisanya menjadi tugas Arum untuk melaksanakannya.
Apa yang di ketahui oleh Bunda Fia tentang Hasan adalah informasi yang dia dapat dari Uqi begitu pula Uqi yang mendapat informasi banyak dari Bunda Fia tentang Arum untuk di sampaikan pada Arum. Apa yang di lakukan keduanya merupakan salah satu usaha yang mereka lakukan untuk mendekatkan keduanya.
Arum yang sudah tahu minuman apa yang dia harus dia buat langsung berjalan kembali ke arah sang Bunda dan mulai membuat minuman.
"Loh kenapa kuta harus ke pasar Bunda? bukankah Bibik ada, kenapa kita yang harus berangkat bukan Bibik aja?" Arum yang sebelumnya sekalipun tak pernah menginjakkan kaki di pasar merasa bingung dengan ajakan Bundanya yang tak biasa itu.
"Sayang, sekarang kamu itu sudah jadi seorang istri, Bunda tahu jika Hasan suamimu itu mampu membayar seorang pembantu untuk membantumu mengurus rumah tangga, tapi satu hal yang harus kamu ingat Nak! hidup berumah tangga itu tak selalu indah dan bahagia, ada banyak ujian yang harus kamu dan Hasan lewati bersama." Bunda Fia mulai memberikan wejangan untuk sang Putri yang dia tahu masih belum tahu banyak tentang lika liku kehidupan pernikahan dan tugas-tugasnya sebagai seorang istri.
__ADS_1
"Maksud Bunda apa ?" Arum yang belum sepenuhnya mengerti maksud dari ucapan sang Bunda kembali bertanya.
"Ayo duduk dulu!" Bunda Fia mengajak Arum untuk duduk di kursi meja makan yang berada tak jaub dari tempatnya berada saat ini.
"Tapi kopinya belum selesai Bunda," cegah Arum yang masih meracik hendak memasak air.
"Bunda sudah memasak air untuk minuman yang akan kamu buat. Dan Bunda sudah menyimpannya di termos, kamu bisa menuangkannya nanti." Bunda Fia yang merasa perlu mengajari sang Putri lebih memilih menunda untuk memberikan minuman yang dia buat pada Suami dan puteranya, bagi Bunda Fia mengajari Arum tentang tugasnya menjadi seorang istri yang baik akan jauh lebih penting dari pada memberikan minuman yang bisa dia lakukan nanti.
Arum yang mengerti jika sang Bunda bukanlah orang yang bisa dia tolak atau dia ajak berdebat hanya bisa mengikuti apa yang di inginkannya tanpa bisa protes.
"Dengarkan baik-baik apa yang akan Bunda katakan padamu! karena apa yang akan Bunda katakan pasti akan berguna untuk rumah tanggamu nanti." Ujar Bunda Fia yang kini duduk menghadap ke arah Arum.
"Iya, Bunda," jawab Arum yang mulai menyiapkan telinga untuk mendengar apa yang akan Bundanya katakan.
"Arum Putriku, kehidupan berumah tangga itu tak seperti jalan tol yang selalu mulus tanpa hambatan, ada kalanya kita di hadapkan pada sesuatu yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya, maka dari itu sebagai seorang Istri yang baik kamu harus siap dwngan segala keadaan terburuk yang akan terjadi." Bunda Fia memberi jeda pada ucapannya.
__ADS_1
"Mulai dari sekarang Bunda akan mengajarkan kamu bagaimana caranya menjadi istri yang baik untuk suamimu, besok kita ke pasar untuk berbelanja. Karena hidup berumah tangga tidak selamanya bergelimang harta, ada kalanya kita harus berhemat demi sesuatu yang kita tidak tahu itu apa. Dan kamu tidak boleh menjadi istri yang manja, Kamu harus bisa menghadapi setiap kesulitan. Satu lagi, jika nanti dalam berumah tangga kamu mengalami perselisihan ataupun pertengkaran karena sesuatu maka kamu harus bisa mengalah, jadilah air saat suamimu menjadi api. Bunda juga akan mengajarimu bagaimana caranya mengurus rumah dan suami dengan baik, maka selama seminggu ke depan kamu tetap berada di sini sebelum kembali ke pesantren." Wejangan demi wejangan yang Bunda Fia ucapkan membuat Arum sedikit mengerti apa yang harus dia lakukan nanti.
Bunda Fia memberikan wejangan kepada sang putri karena dia mengerti jika puterinya itu masih muda dan belum tahu apapun tentang kehidupan berumah tangga, selama ini Arum hanya tahu caranya berbakti pada orang tua dan mengukir prestasi sebisa mungkin, tapi Arum tak pernah tahu bagaimana caranya menjalani hidup berumah tangga dan mengurus rumah tangga itu.