Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Ketiduran


__ADS_3

Hasan yang terkenal tegas di kantor dan dingin di pesantren kini lebih mirip seperti balita, sungguh pemandangan yang langkah.


"Syei'," lirih Hasan melihat Arum hanya diam dengan tangan masih menempel di dahinya.


"Iya, Bi, apa ada yang harus aku lakukan?" sahut Arum.


"Tidurlah di sebelahku!" titah Hasan.


Arum yang mendengar perintah Hasan tak langsung mengerjakannya. Dia malah diam mematung sambil mengerutkan dahi bingung melihat sikap Hasan.


"Kenapa aku harus tidur di sana Bi? bukankah kamu akan merasa semakin gerah dan sesak jika aku juga ikut tidur di sana?" tanya Arum yang bingung dengan perintah yang Hasan berikan.


"Dingin Syei'," keluh Hasan.


Tanpa banyak berfikir Arum langsung merangkak naik ke atas kasur setelah Hasan mengatakan alasannya menyuruh Arum untuk tidur di sampingnya.


"Mendekatlah Syei'!" titahnya lagi.


Arum memang tidur dengan jarak yang cukup jauh.


"Sini peluk Abi!" Hasan sunggu berubah menjadi balita yang banyak permintaan.


"Apa seperti ini?" tanya Arum yang kini melingkarkan tangannya ke perut Hasan dan menyandarkan tangan di bahunya.


"Hmm, nyaman sekali," celetuk Hasan seraya mengusap-usapkan dagunya ke kepala Arum.


Aroma tubuh Arum benar-bemar membuat Hasan ketagihan, aroma shampoo yang begitu kuat melekat di tambah aroma tubuh Arum membuat Hasan merasa semakin lebih baik, rasa tenang dan damai yang menyelusup dalam diri Hasan mampu meredakan sakit kepala yang sejak kemarin bersarang.


Apa yang di rasakan Hasan juga ikut di rasakan oleh Arum, aroma tubuh Hasan bercampur dengan parfum maskulin yang membuat Arum merasa tenang. Perlahan tapi pasti Arum merasa nyaman dan ngantuk hingga dia lupa dengan apa yang seharusnya dia lakukan di kamar ini.


"Mas Ha~" suara Mbak Hana menggantung di udara, sungguh saat ini dia lupa jika ada Arum di kamar Hasan.


Hana biasa mengetuk pintu dan langsung masuk tanpa menunggu jawaban saat di panggil ataupun di minta membuatkan sesuatu oleh Hasan, karena Hasan akan selalu menunggunya dengan duduk di meja belajar.


"Maaf Mas Hasan, saya kembali lagi nanti saja." Ujar Hana, mengurungkan niatnya untuk memberikan bubur pesanan Hasan.


Dan Hasan hanya mengangguk sambil tersenyum tanpa suara, pertanda jika dia menyetujui ucapan Hana.


Arum yang semakin lelap membuat Hasan perlahan ikut terlelap hingga malam semakin larut, Arum yang terlelap mulai terjaga.


Arum yang sudah terbiasa bangun di tengah malam untuk melaksanakan sholat malam bersama Desy kini perlahan mulai membuka mata.

__ADS_1


"Astaghfirullah," lirih Arum saat menyadari di mana sia tidur.


"Maaf Bi, Arum ketiduran," lirih Arum.


Perlahan tapi pasti Arum mulai bangkit dan berjalan menjauh dari Hasan hendak pergi ke kamar mandi, menunaikan sholat malam yang selalu dia kerjakan.


Untung saja di kamar Hasan sudah ada beberapa barang yang dia tinggalkan, jadi Arum tak perlu keluar kamar untuk mengambil mukenah dan peralatan sholat lainnya.


Sedang Hasan yang baru terbangun merasakan ada yang hilang di sampingnya, dengan gerakan kasar Hasan langsung duduk mencari Arum yang tadi ada di sampingnya.


Mata Hasan tertuju pada seseorang yang sedang duduk bersila dengan tangan menengadah menandakan jika si empu sedang berdo'a.


"Sungguh istri yang sempurna," lirih Hasan dengan senyum yang mengembang.


"Abi sudah bangu?" cicit Arum setelah selesai memanjatkan do'a dia langsung melipat kembali mukenah dan menyimpannya di tempat semula kemudian berjalan perlahan menghampiri Hasan yang duduk bersandar di ranjang.


"Sudah Syei'," jawab Hasan.


"Maaf ya Bi, bukannya menemani Abi. Arum malah ketiduran bersandar di bahu Abi pula. Saat ini bahu Abi pasti sakit, sini biar Arum yang pijitin!" Arum duduk di sebelah Hasan dengan niat ingin memijit bahu Hasan.


Bahu Hasan memang sakit tapi rasa sakit itu tak seberapa di bandingkan dengan rasa lapar yang mulai menyerangnya, tadi Hasan tak jadi makan karena Arum terlelap di bahunya.


"Astaghfirullah maaf Bi, gara-gara Aku ketiduran Abi sampai kelaparan. Tunggu sebentar biar aku masakin bubur untuk Abi." Arum yang mendengar penjelasan hasan langsung berdiri hendak pergi keluar dari kamar.


"Syei'!" panggil Hasan menghentikan langkah Arum.


"Iya, Bi, apa ada yang ingin di minta lagi selain bubur?" tawar Arum.


"Tadi Mbak Hana sudah buatin. Kamu tinggal angetin dan ambilkan beberapa buah saja untukku." Jawab Hasan.


"Baik Honey, tunggu di sini ya!" jawab Arum membuat Hasan sedikit terkejut, pasalnya Arum memanggilnya dengan sebutan Honey.


"Dasar penggoda iman, kamu selalu bisa bikin aku salah tingkah dan berbunga," ujar Hasan setelah melihat Arum pergi dan menghilang di balik pintu.


Awalnya Arum merasa biasa saja hingga dia berada di dapur yang terlihat begitu sepi cukup menguji nyalinya. Entah mengapa malam ini Arum merasa sedikit takut padahal biasanya dia tak pernah setakut sekarang, dengan gerakan kilat Arum memanaskan bubur yang sudah ada di atas kompor kemudian mengambil buah yang ternyata sudah di kupas dan di siapkan di dalam lemari pendingin.


Dengan langkah lebar dan kilat Arum berjalan menuju kamar di mana Hasan berada.


"Makan dulu Bi!" ujar Arum sambil berusaha menetralkan nafasnya yang sedikit terengah-engah karena langkah kilatnya tadi.


"Kamu habis maraton Syei'?" tanya Hasan yang merasa aneh melihat Arum yang ngos-ngosan.

__ADS_1


"Enggak Bi, tadi cuma lari bentar." Jawab Arum singkat.


"Kenapa harus lari? apa ada yang ngejar kamu?" timpal Hasan sambil mengerutkan dahi bingung mendengar jawaban Arum.


"Ada," Arum kembali menjawab seenak hatinya.


"Kamu di kejar apa?" Hasan mulai berlagak seperti wartawan yang terus saja bertanya.


"Di kejar rasa takut," Arum tak begitu fokus menjawab pertanyaan Hasan dia malah sibuk menyiapkan bubur yang akan dia suapkan pada Hasan.


"Astaghfirullah Syei', sudah besar masih aja penakut, lagi pula kamu taku apa sih?" sahut Hasan.


"Sudah gak penting bahas rasa takut, sekarang yang penting itu Abi makan dulu!" Arum menyodorkan satu sendok bubur ke hadapan Hasan.


"Ayo buka mulut! aaaa ...." Arum menyuapi Hasan dengan telatennya. Sesuap demi sesuap telah masuk ke dalam mulut hingga suapan terakhir.


"Alhamdulillah," Hasan yang menghabiskan satu mangkuk penuh bubur berucap syukur.


"Kenapa buburnya jadi selezat ini ya Syei'?" tanya Hasan.


Hasan merasa jika bubur yang dia makan berbeda dengan bubur tadi pagi yang dia makan. Bubur kali ini terasa jauh lebih enak.


"Mbak Hana memang pintar memasak Bi, makanya bubur ini terasa enak," jawab Arum.


-


-


-


-


-


Kakak pembacaku yang baik dan tersayang, author minta maaf jika jarang sekali membalas komentar kalian, tapi Author selalu baca dan komentar kalian bikin author senang juga semangat buat up.


Author juga berharap kalian bisa mendukung karya author dengan vote ataupun like biar author makin semangat nulisnya.


Dan terima kasih untuk kalian yg udah dukung author juga tetep setia nungguin karya author yg tak seberapa ini.


Lope-lope untuk kalian semua 😍😍😍😘😘😘😗😗😗😙

__ADS_1


__ADS_2