
"Iya, pergilah!" sahut Umik.
Desy hanya bisa diam tak mengeluarkan sepatah katapun saat Hana pergi meninggalkan dapur. Meski sebenarnya ingin sekali Des bertanya pada Hana ke mana dia mau pergi dan meninggalkan dirinya sendiri bersama dua orang penting di pesantren.
Imah terus saja bertanya tentang banyak hal pada Imah yang sedang memasak, sesekali Imah membantu dan menyicipi masakan Imah.
'Masakan gadis ini enak juga, puteraku pasti akan jadi laki-laki gendut jika bersamanya nanti,' batin Imah samnil menatap lekat ke arah Desy yang masih melanjutkan acara memasaknya.
"Bagaimana, Kak?" bisik Umik tepat di telinga Imah.
Imah tak menjawab pertanyaan Umik dengan kata-kata, dia malah tersenyum seraya mengangguk dan menunjukkan jari jempol tanda jika pilihan sang anak memang tepat dan Imah menyukainya.
"Umik, Neng Imah, semua masakannya sudah selesai, saya mohon pamit mau kembali ke pesantren." Pamit Desy setelah menaruh hasil masakannya yang terakhir.
"Pergilah! tapi nanti setelah sholat isya' kamu bisa ke sini sebentar." Jawab Umik sambil memberi perintah pada Desy.
"Baik, Umik, kalau begitu saya permisi dulu. Assalamualaikum," ucap Desy melenggang pergi meninggalkan Umik dan Imah yang masih setia duduk di kursi meja makan menatap kepergian Desy dengan senyum yang terlihat cerah.
"Assalamualaikum, Umik!" panggil Husein yang baru saja sampai di rumah sang Umik bersama sang istri yang tak lain adalah Zahra.
"Waalaikum salam, masuklah Husein!" sahut Umik, meski Husein belum sampai di dapur di mana Umik dan Imah berada, tapi Umik yang sudah sangat hafal dengan suara sang putera langsung menyuruhnya masuk.
"Loh, Budhe ada di sini?" seloroh Husein saat melihat Imah sedang duduk di samping Umik.
"Wah keponakanku yang paling uwwuu datang, kebetulan sekali kamu ke sini pas Budhe di sini," sahut Imah dengan senyum yang mengembang.
"Budhe," lirih Zahra sambil meraih tangan Imah dan mencium punggung tangannya.
"Kebetulan kalian datang pas makanannya baru aja matang, ayo makan dulu!" ajak Umik.
"Kami sudah makan Umik, nanti saja," jawab Husein.
__ADS_1
"Kalau kamu gak mau ya sudah, Umik mau nawarin menantu Umik saja, ayo Zahra makan dulu!" ujar Umik membuat Zahra bingung harus bagaimana? pasalnya sebelum pergi ke rumah Umik, Zahra dan Husein mampir dulu di warung pecel lele dekat pesantren.
"Emm, anu Umik ...." Zahra tergagap bingung untuk menjawab ajakan Umik.
"Maaf, Zahra baru saja selesai makan," lirih Zahra dengan ekspresi wajah penuh penyesalan.
"Sudah, tidak apa-apa, kalau sudah makan lebih baik kita duduk dan mengobrol di ruang keluarga saja." Sela Imah berdiri merapikan makanan yang ada di meja.
Umik tersenyum ke arah Zahra yang terlihat bingung bercampur ekspresi penyesalan yang tampak jelas di wajahnya.
"Ayo ke ruang keluarga!" ajak Umik pada menantunya.
Umik berjalan mendekat merangkul bahu Zahra dan mengajaknya masuk ke dalam rumah untuk duduk dan mengobrol di ruang keluarga. Zahra sangat mudah akrab dengan Umik san Imah yang juga senang bercanda tak memberi jarak antara ketiganya.
"Umik, Budhe, sebenarnya kami ke síni ingin menjenguk Kak Arum," sela Husein saat melihat keasyikan yang tercipta di antara ketiganya, dan seperti tak ada jeda untuk beristirahat apalagi berhenti mengobrol.
"Apa kalian sudah ke rumahnya?" tanya Umik mengalihkan pandangannya ke arah Husein.
"Belum, Umik, tadi dari rumah langsung ke sini." Jawab Husein.
'Perasaan dari tadi yang bikin lama Umik sama Budhe, kenapa sekarang jadi aku dan Zahra yang di salahin' batin Husein menggerutu tapi bibirnya masih menunjukkan senyum manisnya.
"Kalian ke rumah Hasan saja! sebelum maghrib, nanti setelah sholat isya' kembalilah ke sini! suruh Hasan dan Arum juga ikut bersama kalian." Ujar Umik yang langsung di turuti oleh Husein dan Zahra.
"Kita pergi dulu Umik, Budhe," pamit Husein mencium punggung tangan Umik dan Imah bergantian dan Zahra juga melakukan hal yang sama.
"Pergi dulu, Umik, Budhe," pamit Arum.
Keduanya melenggang pergi meninggalkan Umik dan Budhe yang kembali mengobrol dengan asyiknya. Sedang Zahra dan Husein berjalan menuju rumah Hasan.
"Assalamualaikum, Kakak!" panggil Husein.
__ADS_1
"Kak, bukain pintunya!" sambung Husein yang tampak tidak sabar berdiri di depan pintu.
"Masya Allah, Adikku yang satu ini memang tak punya akhlak, bertamu kok pakek teriak-teriak udah kayak kenek angkutan umum aja," gerutu Hasan yang langsung mempercepat jalannya menuju ruang tamu untuk membukakan pintu sang Adik.
"Waalaikum salam," ujar Hasan ketika sudah sampai di depan pintu dan membukanya. Meski sahutan salam yang di ucapkan Husein sangat terlambat, tapi Hasan tetap menjawab salam sang adik.
"Ke mana aja sih Kak? buka pintu aja lama," omel Husein.
Hasan yang mendengar Husein menggerutu hanya bisa terdiam menatap lekat ke arah Husein.
'Ini kenapa jadi aku yang di omeli sih?' batin Hasan kembali bertanya saat mendengar Husein justru lebih dulu mengomel.
"Masuklah!" Hasan yang sudah hafal dengan sikap dan sifat Husein tak mau membalas ucapan sang Adik, karena menurutnya saat ini perdebatan itu tak penting.
mendengar perintah Hasan membuat Husein bingung, dia mengerutkan dahi seraya terus melihat ke arah Hasan.
"Gak usah bingung ataupun heran! aku lagi males berdebat sama kamu," ujar Hasan seolah mengerti apa yang ada di fikiran Husein sang saudara kembar.
"Tumben," seru Husein seraya duduk tepat di samping Zahra.
"Eh, Kakak ipar ke mana?" tanya Husein sambil celingukan mencari istri sang Kakak yang belum terlihat.
"Ngapain tanya Kakak Ipar kamu?" tanya Hasan sedikit sinis.
"Kuta ke sini emang mau jengukin dia, Kakak ngapain sinis gitu?" sahut Husein.
"Ini kita bawain buah-buahan buat Kak Arum, katanya Kak Arum sering muntah-muntah, barang kali kalau makan buah muntahnya hilang," ucap Zahra yang sejak tadi hanya diam menyaksikan interaksi saudara kembar yang ada di hadapannya.
Hasan dan Husein memang terlihat memiliki wajah yang sama, hanya sebuah tai lalat yang membedakan keduanya, tapi sifat mereka bagai bumi dan langit, yang satu begitu dingin dan pendiam, sedang yang satu selengek'an.
"Sebentar, aku panggilkan dulu." Pamit Hasan berjalan masuk ke dalam rumah untuk memanggil Arum yang kebetulan sedang rebahan di kamar.
__ADS_1
Sejak hamil Arum memang lebih sering menghabiskan waktu untuk beristirahat merebahkan diri dan sedikit beraktifitas, entah mengapa badannya lebih cepat lelah dari sebelumnya.
"Syei'!" suara lembut Hasan terdengar di telinga Arum yang belum terlelap, dia hanya merebahkan diri di atas sofa yang ada di ruang tamu dengan mata tertutup merasakan setiap hal aneh yang tak pernah dia rasakan sebelumnya.