
"Ummah, bagaimana kabarnya?" sapa Arum yang baru saja masuk ke dalam kamar Ummah dengan satu kantong manggis di tangannya.
"Arum, kemarilah Nak!" sahut Ummah yang terlihat masih lemah terbaring di atas ranjang tempat tidurnya.
Arum yang mendengar perintah sang Ummah langsung berjalan menghampirinya dan duduk tepat di samping Ummah.
"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Ummah seraya menggenggam tangan Arum yang berada di atas perut Ummah, meski keadaannya terlihat lemah tapi Ummah masih bisa berbicara dengan lancar meski dengan suara yang lancar.
"Alhamdulillah baik Ummah," jawab Arum dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
Hasan yang baru saja masuk ke dalam kamar Ummah langsung tersenyum bahagia melihat sang istri terlihat begitu akrab dengan Sang Ummah.
"Pagi Ummah," sapa Hasan seraya berjalan masuk ke dalam kamar menghampiri Ummah yang sedang berbaring dengan Arum yang ada duduk di sampingnya.
"Pagi, Nak!" sahut Ummah dengan senyum sumringah terlihat begitu berbinar dengan kedatangan Hasan.
"Bagaimana keadaan Ummah? apa masih ada yang sakit?" tanya Hasan sembari duduk tepat di bawah kaki sang Ummah dan memijat lembut kaki sang Ummah.
"Alhamdulillah Ummah merasa jauh lebih baik sekarang, apalagi setelah melihat kalian berdua Ummah merasa sudah sehat," jawab Ummah dengan senyum lembutnya, begitu tampak binar kebahagiaan di wajahnya yang sudah keriput di makan usia.
"Alhamdulillah jika Ummah bisa sehat," sahut Hasan.
"Oh iya, Ummah Arum bawain buah manggis permintaan Ummah, apa Ummah mau memakannya? atau mau Arum suapi?" tawar Arum seraya mengambil satu buah manggis dari dalam kantong plastik.
"Jika kamu tidak keberatan, Nak, Ummah pengen di suapi." jawab Ummah membuat Arum tersenyum senang karena apa yang di minta Ummah menandakan jika dirinya di terima dengan baik oleh keluarga Hasan.
__ADS_1
Arum menyuapi Ummah dengan lembut dan telaten membuat Ummah merasa bahagia karenanya, begitu pula dengan Hasan yang begitu bahagia melihat keakraban yang terlihat di depan matanya.
"Assalamualaikum, Ummah," ucap Husein sesaat setelah masuk ke dalam kamar Ummah.
"Waalaikum salam, Husein, masuklah!" sahut Ummah yang melihat kembaran cucunya juga datang.
"Ummah sudah sehat?" tanya Husein seraya berdiri tak jauh dari tempat Hasan duduk.
"Ummah sangat bahagia melihat kalian sudah mau datang untuk menjenguk nenek tua ini, Ummah selalu berharap dan berdo'a semoga kebahagiaan selalu menyertai kalian." Untaian do'a indah terdengar dari bibir Ummah yang di amini oleh ketigangya.
"Abi mau makan apa? biar Arum yang masakin." Tawar Arum saat melihat Hasan duduk di ruang keluarga bersama dengan Husein.
Saat ini ketiganya sesang bersantai di ruang keluarga setelah melihat sang Ummah sudah lelap dalam tidurnya.
"Sudah jangan masak! biarkan Bibik yang masak, lebih baik kamu duduk di sini!" ajak Hasan seraya menepuk sofa kosong yang ada di sebelahnya.
"Sudah sini! duduk sama Abi." Kekeh Hasan yang tak bisa di tentang.
Arum yang mendengar perintah sang Abi langsung melangkah mendekat ke arah Hasan dan duduk di sampingnya. Sedang Husein yang melihat sang Kakak begitu perhatian dan Arum yang begitu nurut dengan perkataan Hasan membuat Husein tersenyum bahagia karenanya, meski Arum bukan jodohnya tapu setidaknya dia bisa melihat Arum bahagia bersama sang Kakak yang juga terlihat bahagia bersama Arum.
"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri, Dek?" tanya Hasan yang merasa aneh melihat Husein terus-terusan tersenyum menatap ke arahnya dan Arum.
"Aku seneng banget lihat Kakak sama Ka Arum yang terlihat bahagia seperti sekarang, meskipun Kak Arum bukan di takdirkan untukku setidaknya dia bahagia bersamamu Kak," jujur Husein membuat Hasan sedikit jengkel dan senang sekaligus. Sedangkan Arum terdiam mematung menatap Husein dengan ekspresi herannya.
"Kakak tenang aja, perasaan aku yang dulu untuk Kak Arum sudah pupus, karena sekarang aku punya Zahra yang insya allah memang jodoh yang di siapkan tuhan untukku." Jelas Husein yang melihat wajah tak enak di pandang Hasan.
__ADS_1
"Baguslah kalau kamu sudah memiliki pilihan hati, semoga saja dia benar-benar jodohmu," untaian harapan keluar dari bibir Hasan dengan nada sedikit dingin sedang Arum yang mendengar penjelasan Husein hanya bisa tersenyum di iringi rasa syukur karena dia tak lagi harus merasa bersalah karena tak memilih Husein.
Obrolan ringanpun terjadi, melihat Husein tak lagi memandang Zahra penuh cinta membuat Hasan merasa begitu lega, meski sebenarnya Hasan sudah tahu jika Husein sudah memiliki calonnya sendiri tapi Hasan tetap cemburu sebelum Husein menjelaskan perasaannya pada Hasan.
Detik jam terus terdengar yang artinya jarum jam terus berjalan ke arah kanan mengikis habis waktu yang berjalan.
"Dek, aku tinggal sholat dulu ya." Pamit Hasan setelah mendengar suara azdan dzuhur terdengar.
"Pergilah Kak! sebentar lagi aku juga mau sholat." Jawab Hasan mengakihkan pandangannya pada ponsel yang kini sudah berada di hadapannya.
Hasan yang mendapat persetujuan dari Husein untuk meninggalkannya sendiri di ruang keluarga kini melenggang pergi meninggalkan Husein sendirian.
Arum dan Hasanpun melaksanakan kewajibannya bagi seorang muslim dengan Hasan yang menjadi imamnya.
"Syei'!" panggil Hasan saat keduanya sudah selesai sholat kini mereka duduk berdampingan di ranjang bersandarkan kepala ranjang sedang Arum duduk bersandarkan lengan Hasan.
"Iya, Abi," sahut Arum sambil merapatkan duduknya memeluk Hasan dari samping menikmati aroma maskulin yang menyeruak dalam hidung saat dirinya dekat dengan Hasan.
"Bagaimana rencana bulan madu kita? kira-kira kapan kita bisa berangkat ke sana?" tanya Hasan seraya mengusap lembut rambut Arum yang kini tak lagi memakai kerudung.
"Kalau aku terserah Kakak saja baiknya kita kapan berangkat, tapi sepertinya kita tak bisa ke mana-mana dulu sebelum acara resepsi pernikahan Husein di laksanakan," Arum mengutarakan apa yang mengganjal di hatinya.
"Kamu benar Syei', akan sangat mengganggu ketenangan kita jika Kita pergi di saat semua orang sedang sibuk menyiapkan resepsi Husein," ujar Hasan yang baru menyadarinya.
"Padahal Abi begitu ingin pergi ke Australia untuk mengetahui kehidupanmu di sana, dan aku juga ingin tahu apa saja yang bisa kamu lakukan di sana." Hasan kembali memberitahukan alasannya yang ingin segera pergi ke Australia di mana Arum pernah tinggal.
__ADS_1
"Bersabarlah Kak, jika waktunya telah tiba kita pasti akan pergi ke sana. Dan aku akan mengantarmu ke manapun yang kakak ingin di sana." Timpal Arum yang di sambut sebuah senyuman kebahagiann oleh Hasan, sejak menikah Hasan jauh lebih sering tersenyum meskipun sikapnya pada orang lain selain Arum masih dingin dan terkesan seenaknya tapi yang terlenting saat ini Arum merasa bahagia hidup bersama Hasan yang begitu menyayanginya.