Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Perhatian Umik


__ADS_3

"Kamu kok terkejut gitu? memang ada yang aneh jika aku ngaji bareng Mas Husein?" tanya Arum yang justru heran melihat reaksi Sinta.


"Biasa Arum, Sinta itu fans fanatiknya Mas Husein. Kau tahu dia suka banget ngirim surat yang isinya begitu puitis dan dia termasuk orang yang suka kepo sama Mas Husein baik di dunia nyata maupun di dunia maya." Desy yang sudah tahu sejak lama jika Sinta begitu ngefans sama Mas Husein menjelaskan pada Arum yang memang tak tahu apa-apa.


"Kamu serius??" tanya Arum yang kurang yakin dengan apa yang di jelaskan Desy.


"Seriuslah, di fikir Aku tukang bohong apa?" gerutu Desy yang merasa kurang di percaya oleh Arum.


"Okey Aku percaya." Jawab Arum yang langsung berjalan mendahului kedua temannya, melenggang pergi menuju kamar untuk mengambil bulpen dan buku, tak menghiraukan panggilan Sinta yang memanggilnya dengan intonasi sedikit meninggi.


"Arum!! woiii!! jelasin dulu!" panggil Sinta sedikit berteriak, tapi Arum malah semakin mempercepat jalannya.


"Sudahlah Sin, jangan teriak-teriak gitu! kalau memang jodoh gak bakal lari kemana kok." Desy menepuk punggung Sinta mengingatkannya agar tidak terus berteriak.


"Huftt, kamu benar Desy, Aku harus berusaha jadi lebih baik agar bisa sepadan." Sinta menghela nafas mencoba memperbesar sabarnya.


"Dan ingat! jangan lupa berdo'a juga usaha, ngomong aja kagak ada fungsinya Sinta." Desy kembali mengingatkan apa yang harus dia lakukan jika ingin mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Kamu benar Desy," ucap Sinta yang masih berjalan beriringan menuju kamar.


"Tapi juga gak boleh lupa satu hal." Ujar Desy.


"Apa lagi?" tanya Sinta yang merasa sedikit jengkel dengan apa yang di ucapkan Desy.


"Kamu harus inget jika jodoh itu sudah di atur oleh Allah." Desy mencoba mengingatkan sebuah takdir yang sudah pasti pada Sinta, Desy tak ingin sahabatnya ini terlalu berharap dan ujung-ujungnya kecewa.


"Maksudnya Desy?" na'asnya Sinta yang di ingatkan justru tak mengerti maksud dari ucapan Desy.


"Astaghfirullah, besarkan sabarku ya Allah. Semoga Aku masih mampu memberi jalan yang lurus pada sahabatku yang tersesat karena cinta, Ya Allah." Desy mengusap pelan dadanya menandakan betapa lelahnya dia jika harus menjelaskan apa yang baru saja di ucapkannya.


"Are you okey Desy?" ucap Sinta yang sejak tadi memperhatikan tingkah dan ucapan Desy.


"Sudahlah, ngomong sama kamu gak ada ujungnya." Gerutu Desy sambil mempercepat jalannya meninggalkan Sinta yang kini terlihat semakin bingung.


"Kok gak ada ujungnya sih, apa hubungannya coba." Gumam Sinta yang masih belum mengerti dengan kebingungan yang dia rasakan.


"Sudah jangan banyak mikir! buruan ganti baju kita bisa telat masuk sekolah, kalau kamu terus di situ!" Desy yang mulai geram melihat tingkah Sinta langsung berteriak menyadarkan Sinta yang masih diam mematung.


"Astaghfirullah, iya Aku bisa telat." sahut Sinta setelah sadar, dia langsung berlari menyusul Desy yang sudah lebih dulu sampai di kamar.


*****

__ADS_1


Dengan hati penuh semangat Arum berjalan menuju rumah Umik untuk mencari keberadaan Husein.


"Assalamualaikum," ucap Arum setelah sampai di depan rumah Umik.


"Waalaikum salam," sahut Hana yang kebetulan sedang berjalan melewati ruang tamu.


Ceklek ....


Hana membuka pintu nampaklah Arum yang sedang berdiri mematung di depan pintu.


"Mbak Arum, silahkan masuk!" ucap Hana mempersilahkan Arum masuk.


"Apa Kak Husein ada Mbak?" tanya Arum.


"Mas Husein lagi ada di kamarnya Mbak," jawab Hana sopan.


"Aku permisi ke sana dulu ya Mbak." Pamit Arum yang di jawab anggukan dan seulas senyum oleh Hana.


Dengan langkah pasti Arum berjalan menuju kamar Husein. Hampir semua Keluarga ndalem termasuk Hana dan suaminya Marto sudah tahu rencana perjodohan keduanya kecuali Husein. Hasan mengetahui rencana perjodohan secara tak sengaja jadi, Umik dan yang lain tak tahu jika Hasan sudah mengerti rencana perjodohan itu. Yang mereka tahu Hasan dan Husein sama-sama tak mengerti.


"Kak Husein!" panggil Arum tepat di depan pintu kamar Husein.


"Kak!" Arum mengulangi panggilannya karena tak mendapat respon dari sang empu.


"Ada apa?" sambung Husein setelah membuka pintu untuk Arum.


"Kok tanya ada apa sih Kak? emang Kakak lupa kalau hari ini Kakak mulai ngajarin Aku?" Arum mengingatkan tujuannya menemui Husein karena sepertinya Husein lupa akan janji yang sudah mereka buat kemarin.


"Astaghfirullah, maaf Arum Kakak lupa. Tunggu kakak di ruang keluarga! sebentar lagi Kakak akan susul ke sana." Ujar Husein kembali menutup pintu meninggalkan Arum yang masih berdiri di depan pintu.


"Arum!" suara lembut Umik terdengar begitu familiar di telinga Arum, meski baru beberapa hari tinggal Arum sudah hafal dengan suara Umik.


"Umik!" sahut Arum berbalik badan menghadap ke arah Umik.


"Kamu sedang apa di sini, Nak?" tanya Umik.


"Aku tadi nyariin Kak Husein, mau belajar agama Umik." Jawab Arum jujur.


"Apa kamu sudah ketemu sama Husein?" tanya Umik yang kini berdiri tepat di samping Arum.


"Sudah Umik," jawab Arum.

__ADS_1


"Terus bagaimana katanya?" Umik kembali melontarkan pertanyaan.


"Katanya Aku di suruh nunggu di ruang keluarga." Arum menjawab apa adanya.


"Ayo kota tunggu di sana, biar Umik temenin Arum." Umik merangkul pundak Arum menuntunnya ke ruang keluarga dan mengajak Arum duduk di sofa.


"Arum sudah makan?" tanya Umik penuh perhatian.


"Alhamdulillah sudah Umik," Jawab Arum.


"Bagaimana masakan di kantin? apa kamu cocok?" Umik kembali bertanya, sejak tadi Umik terus saja melontarkan pertanyaan ke Arum dan dengan sabar Arum menjawab semua pertanyaan Umik.


"Bukan cocok saja Aku malah suka banget. sama masakan di sana Umik, rasanya enak." Jawab Arum dengan mata berbinar.


"Memang Mbok Darmi tadi masak apa?" tanya Umik yang begitu penasaran dengan menu di kantin pagi tadi, dia begitu penasaran saat melihat ekspresi Arum yang berbinar saat bercerita.


"Tempe goreng, tahu, telor sama oseng buncis. Rasa masakannya enak Umik, Arum saja sampai nambah beli tempe goreng." Tutur Arum.


"Masakannya yang enak atau memang Arum yang suka makan tempe?" tanya Umik yang kini mengerti kenapa Arum sampai berbinar saat menceritakan menu yang ada di kantin. Fia sempat cerita jika Arum begitu menyukai menu tempe baik itu tempe goreng atau di masak apa saja yang penting tempe, tapi yang paling di sukai Arum orek tempe.


"He he he, Arum memang suka banget sama tempe Umik." Arum yang mendengar pertanyaan Umik hanya bisa mengaku sambil nyengir.


"Baiklah, Umik akan masak orek tempe untuk nanti siang. Jadi belajarlah yang giat!" ujar Umik memberi semangat.


"Benarkah? wah terima kasih Umik," Arum memeluk Umik yang masih duduk di sofa.


"Khem," suara deheman seorang pria menyadarkan keduanya.


-


-


-


-


-


Kakak-kakak pembacaku yang baik dan ter sayang. Author minta bantuan buat dukung karya author dengan cara like, vote dan komen.


Author akan sangat senang jika mendapat vote, like dan komen sebagai dukungan dari kalian.

__ADS_1


lope lope sekebon buat pembacaku yang tersayang😘😘😍😍😍


__ADS_2