Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Hari Pertama .


__ADS_3

"Arum!" panggil Stev sang kakak yang melihat Arum berjalan menuju dapur.


"Iya Kak," sahut Arum menghentikan langkahnya mendekati Stev yang duduk di ruang keluarga.


"Sini!" Steve melambaikan tangan mengisyaratkan agar Arum mendekat.


"Ada apa Kak?" Arum yang tak mengerti kenapa Kakaknya memanggil kembalu bertanya.


"Suamimu mana?" Stev tak menjawab pertanyaan Arum tapi dia justru balik bertanya.


"Kak Hasan masih tidur Kak," jawab Arum.


Setelah sholat Hasan yang mengerti jika Arum masih belum siap untuk jadi istrinya itu langsung merebahkan diri di atas tempat tidur, mengistirahatkan badan juga fikiran yang sejak kemarin merasa tegang memikirkan ijab kabur yang membuat Hasan takut salah dalam pengucapannya.


Sedang Arum yang melihat Hasan langsung tidur merasa lega karena sejak tadi dia bingung mau melakukan dan menjawab apa jika Hasan langsung meminta haknya sebagai seorang suami. Arum yang melihat Hasan tidur memilih pergi ke dapur untuk mengisi tenggorokannya yang terasa kering.


"Ini hadiah dari Kakak untukmu dan yang ini untuk suamimu sebagai tanda jika kakak menyetujui pernikahan kalian." Steven memberikan dua kotak kado pada Arum.


"Emang apa isinya Kak?" tanya Arum sambil membolak balikkan kado yang dia pegang.


"Sudah kamu bawa ke kamarmu aja dan buka di sana bareng suamimu!" titah Steve yang tak ingin menjawab pertanyaan sang Adik, Steve yang merasa sudah memberikan kado yang telah di siapkan langsung melenggang pergi menuju kamarnya sebelum Arum terus bertanya dan mendesaknya untuk menjawab pertanyaan Arum.


"Lah malah balik ke kamar, belum juga di jawab," keluh Arum yang merasa kecewa karena tak mendapat jawaban dari sang kakak.


Arum yang tak mendapat jawaban ikut pergi ke kamarnya, meninggalkan ruang keluarga yang terdapat beberapa pelayan masih membersihkan sisa acara.


"Alhamdulillah masih tidur," lirih Arum yang hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri saat melihat Hasan telah berbaring tampan di atas tempat tidur.


Melihat Hasan yang tidur di atas tempat tidurnya membuat Arum bingung, saat ini dia juga ingin beristirahat tapi dia bingung harus tidur di mana? kalau dia tidur di sofa yang berada tak jauh dari tempat tidur dia takut Hasan berfikir yang enggak-enggak tentang dia, tapi kalau tidur di tempat tidur bersama Hasan rasanya masih kurang nyaman dan takut tiba-tiba di terkam.

__ADS_1


Cukup lama Arum berdiri mematung di sebelah tempat tidur setelah meletakkan dua kado hadiah dari sang kakak di atas nakas.


"Apa Aku tidur di kamar Oma aja ya," Arum kembali bermonolog sedang Hasan yang sebenarnya belum bisa tidur hanya diam berusaha menahan tawa mendengar ucapan Arum yang terdengar begitu bingung.


Hasan jarang sekali bisa marah jika berhubungan dengan Arum, bagi Hasan semua yang di lakukan Arum terkesan lucu dan menyenangkan untuk di lihat atau di dengar. Seperti saat ini, Hasan tahu benar jika Arum masih belum bisa menjadi istrinya yang sempurna dan bingung dengan sikap yang akan dia ambil. Tapi Hasan tak merasa sakit hati karena semua yang Arum rasakan, bagi Hasan apapun yang di lakukan Arum tak masalah selama yang di lakukannya itu tak berhubungan dengan laki-laki lain selain Hasan.


Arum yang masih bingung mencoba berjalan mendekat ke arah Hasan kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Hasan yang terlihat begitu lelap dan damai dalam tidurnya.


"Sudah pulas," asumsi Arum setelah memperhatikan Hasan.


Arum yang melihat Hasan sudah pulas memilih untuk tidur di sampingnya demi menjaga hati sang suami, perlahan tapi pasti Arum merangkak naik ke atas tempat tidur dan mulai memejamkan mata, memulai hal baru di negeri antah berantah.


Awalnya terasa begitu sulit untuk tidur hingga rasa lelah mampu membawanya hanyut ke alam mimpi. Dan Hasan yang ternyata masih belum bisa tidur langsung membuka mata setelah merasa jika Arum telah lelap dalam tidurnya.


Perlahan tapi pasti Hasana merubah posisinya yang semula tidur di tepi tempat tidur kini berganti mendekat ke arah Arum dan mulai menggerakkan tangannya untuk melingkar sempurna di atas perut Arum.


Hanya dengan cara menunggu Arum tidur Hasan bisa memeluknya dengan sesuka hati, karena saat dia bangun pasti akan ada alasan yg akan dia cari untuk menghindarinya.


******


Jika kedua sejoli itu bingung dengan apa yang akan mereka lakukan, tapi Husein justru duduk di kursi dekat meja karena jarak meja kursi untuk makan berada tepat di samping keduanya.


"Kamu sudah Siap?" pertanyaan yang membuat siapapun langsung menoleh ke arah sumber suara.


"Belum, ini masih mau minum." Sahut Husein


Saat ini Husein berencana untuk menemui Zahra dan mengutarakan niatnya untuk meminangnya.


"Terus mau berangkat kapan?" Umik yang merasa sudah tak sabar dan ingin segera bertemu dengan calon istri dari Husein mencoba menanyakan kapan Husein bisa segera menemui Zahra agar Umik bisa datang ke rumahnya untuk meminangnya.

__ADS_1


"Mungkin nanti sore Umik," Husein memberitahukan kapan dia akan pergi menemui Zahra.


"Kenapa tidak sekarang saja? bukankah hari ini kamu juga masih libur?" Umik terus saja bertanya dengan pertanyaan yang mendesak Husein untuk segera menemui Zahra.


"Umik, kalau jam segini Zahra itu sibuk di butik. Jadi Husein tidak bisa mengganggunya." Husein yang benar-benar tak bisa menemui Zahra saat ini karena dia tahu dengan pasti jam segini Zahra masih sibuk di butik.


"Wahh Zahra mengelola butik Nak?" wajah Umik begitu berbinar saat mendengar penjelasan Husein jika Zahra adalah pemilik sebuah butik.


"hmm," satu kata yang mewakilkan jika apa yang Umiknya tebak itu benar.


"Butik apa namanya, Nak?" Umik terlihat begitu antusias saat mendengar jika Zahra memiliki butik yang merupakan tempat ke tiga kesukaan Umik setelah rumah dan salon juga.


"Namanya Butik Az Zahra Bunda," Husein yang biasanya sangat malas jika sang Umik membahas tentang Butik kini justru terlihat begitu senang dan bangga saat menyebut nama Butik yang di kelolah oleh Zahra.


"Apa yang kamu maksud Butik Az Zahra yang ada di jalan merdeka itu?" Umik Husein menanyakan kepastian tempat Butik yang si maksud sang Putra.


"Iya, Umik kok tahu?" mendengar tebakan Umik membuat Husein terkejut karena Umik seperti sudah tahu tempatnya.


"Umik pasti tahu karena Umik pernah beli baju di sana. Dan kau tahu pelayanan di sana itu the best, orangnya ramah-ramah." Umik yang merasa jika butik di tempat Zahra memang baik kini mengungkapkan nya pada Husein sang calon suaminya.


-


-


-


-


-

__ADS_1


-


Kakak2 maaf ya up sebelumnya gk lengkap dan berantakan, author tadi ketiduran di tengah2 author nulis gak tahunya udah ke kirim tu naskah setengah jadi. entah itu karena tersentuh author atau anak author yang mainan mohon di maakan. salam peluk dari Ku 🤗🤗🤗🤗🤗


__ADS_2