Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Pergi Ke Villa


__ADS_3

Hasan berjalan masuk ke dalam lift memencet tombol satu untuk turun ke lantai satu di ikuti Arum yang terus mengekor di belakangnya tanpa ada suara.


"Selamat siang Pak Hasan," sapa Irfan asisten pribadi Hasan.


"hm," jawab Hasan singkat menoleh sekilas ke arah Irfan kemudian kembali melangkah masuk ke dalam mobil setelah sang sopir membukakan pintu untuknya.


Arum yang ikut masuk menggeser tempat duduknya sedikit menjauh dari Hasan, karena saat ini Hasan dan Arum sedang duduk di bagian belakang kemudi. Meski bersebelahan tapi jarak meraka lumayan jauh, Irfan yang saat ini menjadi asisten pribadi Hasan hanya bisa melirik tingkah dua sejoli yang ada di kursi penumpang bagian belakang kemudian kembali mengalihkan pandang lurus ke depan.


'Sebenarnya siapa wanita yang ada di samping Tuan Hasan ya?' batin Irfan yang merasa aneh dengan apa yang di lakukan oleh bosnya, karena ini yang pertama sang bos membawa gadis pergi satu mobil bersamanya.


Mobil terus berlalu meninggalkan pelataran parkir area perusahan, melaju dengan kecepatan sedang menuju sebuah pantai yang terlihat begitu indah. Sebelum berangkat Hasan sempat mengirim pesan pada supir yang saat ini mengantarnya untuk pergi ke tempat favorite Hasan.


Setiap kali Hasan merasa rindu dan ingin bertemu dengan gadis kecil pencuri hatinya, Hasan selalu pergi ke pantai dan menghabiskan waktu bermalam di villa milik Abinya.


"Masya Allah, pantainya begitu indah." Gumam Arum.


Hasan yang mendengar Arum bergumam memuji tempat yang akan di tuju membuatnya tersenyum samar.


"Di sini memang indah tapi tak seindah dirimu," ucap Hasan menatap lekat ke arah Arum, sedang Arum yang sejak tadi menatap keluar jendela langsung menoleh ke asal suara.


"Kak Hasan bilang apa tadi?" Arum menanyakan kembali kata yang telah di ucapkan Hasan, saking fokusnya menatap pemandangan Arum tak begitu jelas mendengar ucapan Hasan, begitu juga dengan Hasan yang berucap dengan suara pelan hampir terdengar sedikit samar di telinga Arum.


"Tidak ada, memangnya kamu berharap saya bilang apa?" tanya Hasan menutupi rasa gugupnya karena telah keceplosan memuji Arum.


"Tapi Aku seperti mendengan suara Kak Hasan," lirih Arum yang masih di dengar oleh Hasan.

__ADS_1


"Memang apa yang kamu dengar?" Hasan terus saja mengelak dari apa yang sebenarnya, dia terus saja menjawab ucapan Arum dengan sebuah pertanyaan.


Arum yang mendengar pertanyaan Hasan hanya bisa menggelengkan kepala dan kembali menatap ke arah luar jendela dan tak lagi bertanya tentang kata yang dia dengar.


'Padahal jelas terdengar kalau tadi dia memujiku meski Aku tak mendengarnya dengan jelas tapi Aku yakin tadi dia memujiku.' Arum hanya bisa menggerutu dalam hati, sedang Hasan malah tersenyum lebar merasa menang dari perdebatan yang terjadi.


Irfan yang sejak tadi mendengar dan melirik kejadian dan perdebatan yang terdengar dari belakang kursi penumpang, hanya bisa tersenyum sambil menahan rasa ingin ketawa yang sejak tadi hinggap.


Waktu terus berjalan jarak antara kantor dan pantai tempat yang akan di tuju lumayan jauh, Hasan sampai di pantai tepat setelah melakukan Satu setengah jam perjalanan.


"Silahkan Tuan!" ucap Sang asisten yang membukakan pintu untuknya sedang Sang sopir membukakan pintu untuk Arum.


"Silahkan Nona!" ucap Sang supir membuka lebar pintu untuk Arum.


"Terima kasih, Pak" ucap Arum tersenyum lembut ke arah Sang Supir.


"Ini di mana?" tanya Arum sambil memperhatikan pemandangan yang tampak di sekeliling villa.


"Ini Villa milik Abiku, masuklah!" Hasan berjalan mendahului Arum setelah memberinya perintah untuk ikut bersamanya. Dan asisten Irfan mengekor berjalan di belakang keduanya.


"Selamat datang Tuan Muda," sapa seorang wanita paruh baya yang menyambut kedatangan keduanya.


"Siang," sahut Arum tersenyum manis ke arah Arum.


Arum memang berasal dari keluarga yang lumayan kaya dan tak kekurangan, di rumahnya Arum juga memiliki pembantu. Tapi karena didikan keras Fia yang selalu mengajarkan Arum agar terus tetap menjadi pribadi yang sederhana dan membuang jauh rasa sombong yang terkadang hadir di saat yang tak di inginkan. Hal itulah yang membuat Arum menjadi gadis mandiri dan rendah hati tak pernah membanggakan apa yang dia punya. Arum menjadi gadis yang punya rasa empati tinggi terhadap sesama.

__ADS_1


"Apa makanannya sudah siap?" tanya Hasan.


"Sebentar lagi siap Tuan," jawab asisten rumah tangga yang bertugas membersihkan rumah dan memasak.


"Baiklah, siapkan seperti yang ku perintahkan!" titah Hasan.


"Naik,Tuan," jawab sang asisten.


Setelah mendengar jawaban sang asisten Hasan berjalan keluar Villa, Arum dan Irfan hanya bisa mengikutinya dari belakang.


"Duduklah!" titah Hasan setelah sampai di luar villa.


Dari tempat ketiganya terlihat hamparan ombak yang saling menggulung menerpa pasir putih yang membentang, suara terdengar begitu menenangkan.


"Khem," dehem Hasan yang membuat Irfan langsung mendekat, sejak tadi Irfan hanya berdiri tak jauh dari tempat Hasan dan Arum duduk. Saat ini Hasan dan Arum duduk di kursi yang ada di teras samping Villa, kursi yang di sediakan khusus untuk bersantai dengan tida kursi dan satu meja bundar dengan payung yang menancap di tengah meja.


"Ada apa Tuan?" tanya Irfan.


"Duduklah di sana!" titah Hasan menunjuk ke arah sebuah kursi panjang yng biasa di gunakan untuk berjemur. letaknya memang sedikit lebih jauh dari tempat keduanya duduk tapi masih bisa terlihat.


"Mas Hasan kenapa ngajak Arum ke sini? katanya mau jalan-jalan." Tanya Arum yang sejak awal mengira jika Hasan akan mengajaknya jalan-jalan memperkenalkan beberapa tempat yang belum pernah di temui Arum, seperti Husein yang mengajaknya bermain ke sawah.


"Jalan-jalannya tidak sekarang, pergi ke Villa dan makan di tepi pantai sambil melihat sunset menurutku rencana yang bagus, apa kamu tidak menyukainya?" tanya Hasan setelah mengutarakan pemikirannya.


"Aku suka kok, tapi kenapa Kak Hasan tiba-tiba ngajak Aku ke sini?" tanya Arum yang merasa aneh dengan sikap Hasan yang dingin tapi lembut saat berbicara juga romantis dalam memilih tempat, sejenak terbesit di benak Arum jika Hasan punya perasaan padanya, tapi perasaan itu segera di tepis karena mereka baru saja bertemu.

__ADS_1


'Kenapa Aku merasa jika saat ini Aku dan Kak Hasan seperti orang yang sedang berkencan ya,' batin Arum yang mulai tenggelam dalam pemikirannya sendiri.


Suasana menjadi sunyi, Arum yang bergelut dengan pemikirannya sendiri sambil menatap indahnya senja di sore hari, Cahaya putih dari sinar matahari yang mulai berubah menjadi oranye di tambah gulungan ombak yang terus mengeluarkan suara membuat Arum semakin larut dengan pemikirannya sendiri.


__ADS_2