Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Perasaan Yang Tak Bisa Di Atur


__ADS_3

Keadaan di pesantren pagi ini terasa begitu berbeda bagi Desy, biasanya dia akan pergi ke halaman belakang untuk menjemur baju tapi pagi ini Desy hanya duduk di sudut kamar setelah mandi dan bersiap untuk berangkat sekolah.


Tanpa terasa Desy sudah terbiasa sarapan bersama Huda setiap pagi setelah setelah menjemur baju. Sejak kemarin Desy sama sekali tak melihat Huda sampai dia kembali ke pesantren, entah ke mana gerangan Desy tak tahu, rasa rindu kini mulai menyelimuti hatinya meski berjuta-juta kali Desy berusaha menepis segala rasa yang perlahan tumbuh tapi hatinya kini tak lagi bisa dia atur.


"Kira-kira ke mana ya Mas Huda?" lirih Desy yang hanya mampu di dengar oleh dia seorang.


Desy menatap kosong lurus ke depan memikirkan apa yang sedang dia rasakan, perasaan yang tak seharusnya hadir dalam hatinya kini justru tumbuh tak terkendali.


"Ciyeee yang lagi rindu," goda Shinta sambil duduk di samping Desy, entah sejak kapan pengganggu itu datang.


"Apa sih, ganggu aja," keluh Desy.


"Aku perhatikan sejak tadi kamu hanya diam dengan tatapan kosong, apa yang sedang kamu fikirkan?" tanya Shinta.


"Benarkah? aku hanya lapar, apa kamu mau makan bersamaku?" Desy mencoba mengalihkan pembicaraan agar Shinta tak lagi bertanya apapun tentang kediamannya.


"Kebiasaan kamu, suka banget ngalihin pembicaraan tapi aku juga lapar ayo ke kantin!" ajak Shinta.


Desy merasa begitu lega saat Shinta menyetujui keinginannya, dengan langkah ringan Desy berjalan beriringan menuju kantin yang beberapa hari ini tak di kunjungi.


"Mbok, menunya apa hari ini?" tanya Shinta dengan nada penuh semangat.


"Oseng kangkung, tahu, tempe dan telor neng, lengkap dengan sambal bajak," jawab Si Mbok yang bertugas masak di dapur.


"Issshh itu sih menu yang sama kayak kemarin sore Mbok," sahut Shinta.


"Kalau mau ganti tunggu nanti sore ya Neng," tutur Si Mbok.


"Memangnya nanti sore menunya apaan Mbok?" Shinta sering kali kepo dengan menu yang akan di siapkan di kantin.


"Sayur sop Neng," jawab Si Mbok.

__ADS_1


"Ikannya apa Mbok?" Shinta kembali bertanya.


"Ikannya masih sama Neng, tahu sama pasangan sejatinya dan si telor dadar," Si Mbok menjawab pertanyaan Shinta dan tersenyum lucu karena ekspresi yang di tunjukkan Shinta.


"Kapan ikannya berubah?" gumam Shinta dengan wajah kecewanya.


"Sudahlah, di syukuri saja apa yang ada, ingatlah Shin kita di sini untuk mencari ilmu dan tirakat agar mengerti makna hidup sesungguhnya," ujar Desy mencoba mengingatkan Shinta tujuan mereka menjadi santri.


"Iyalah, aku ikut apa katamu saja," sahut Shinta dengan senyum yang mengembang.


Keduanya makan dengan lahap meski yang mereka makan hanya menu sederhana, tapi kesederhanaan itulah yang membuat rasa nikmat itu muncul.


~


"Kamu mau ke mana, Nak?" tanya Imah yang melihat sang putera sudah rapi hendak pergi dari rumah.


"Mmm, aku mau ke pesantren Bu," jawab Huda dengan ekspresi wajah bingung.


"Bukankah jadwal ngajarnya masih nanti sore?" Imah merasa curiga dengan sikap Huda yang ingin pergi ke pesantren pagi-pagi.


"He he he, Ibu tahu saja," jawab Huda sambil cengengesan.


"Kalau mau ketemu Desy nanti saja, sekarang temenin Ibu makan! apa sekarang Desy jauh lebih penting dari Ibu?" ucapan Imah sukses membuat Huda mati gaya dan di penuhi rasa bersalah.


"Mana ada seperti itu, Ibu tetap yang nomer satu buat Huda," tutur Hudasambil merangkul bahu Sang Ibu kemudian berjalan masuk kembali ke dalam rumah menuju ruang makan di mana semua hidangan telah siap di makan.


"Masya allah banyak sekali menu makanannya Bu," sambung Huda yang melihat betapa banyaknya menu makanan yang ada di atas meja makan.


"Hari ini spesial Ibu masak sendiri semua menu ini hanya untuk menyambutmu, Nak," ujar Imah dengan penuh semangat.


"Terima kasih Bu," Huda kembali memeluk sang Ibu mengungkapkan rasa bahagianya karena sudah mendapatkan Ibu sebaik Imah.

__ADS_1


"Khem, sudah baligh jangan main peluk-peluk sembarangan!" hardik Arif yang baru saja datang kamar.


"Ishhh dasar pelit," gerutu Huda sambil mengurai pelukannya, kini dia memilih duduk menunggu anggota keluarga yang lain datang.


Sebelum subuh Imah sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk Huda dan yang lain, dengan penuh semangat Imah memasak satu persatu menu makanan yang menjadi menu favorite sang Putera dan mertuanya hingga semua menu matang dia masak sendiri tanpa bantuan siapapun, asisten rumah tangga yang di tugaskan Arif dan Uqi untuk membantu sang mertua kini hanya bertugas untuk membersihkan rumah dan cucian bekas Imah memasak.


"Tumben banyak banget menunya," celetuk Ibu Uqi sambil duduk di meja makan.


"Hari ini ada Huda Bu, jadi Imah masak lebih banyak menu makanan. Maklum putera kesayangannya jarang pulang jadi sekali pulang apapun di masak sama Imah." sahut Arif yang membuat semua anggota tersenyum.


"Huda jarang sekali pulang Bu, jadi saya suka khilaf dalam segala hal Bu," jujur Imah.


"Sudahlah, jangan ribut masak! mending kita makan apa yang sudah ada di hadapan kita." Sela Ayah Uqi menghentikan obrolan yang tidak akan berujung dan selesai jika di teruskan.


Semua keluarga makan dengan tenang, hanyae dentingan sendok yang terdengar menggema di seluruh ruangan.


"Huda!" panggil Imah saat melihat Juda sedang duduk sendiri di taman belakang.


"Iya, Bu," sahut Huda sambil mengalihkan pandangan ke arah Imah yang berjalan menghampirinya.


"Kamu ngapain di sini sendirian?" tanya Imah sambil duduk di samping Huda.


"Aku hanya menikmati suasana pagi dan sinar mentari Bu, ada apa Ibu ke sini?" Huda menjawab pertanyaan sang Ibu seraya bertanya kembali.


"Kenapa harus sendirian?" Imah kembali bertanya.


"Gak ada temennya Bu, jadi aku duduk sendirian, oh ya Adek ke mana kok aku gak lihat dia sejak kemarin?" tanya Huda yang baru menyadari jika Sang Adek sama sekali tak terlihat sejak acara kematian Ummah.


"Adek kamu sedang sibuk dengan ujian, maka dari itu dia tidak ikut." Jelas Imah.


"Pantas saja aku tak pernah melihatnya," sahut Huda.

__ADS_1


"Nak, Ibu hanya bisa berdo'a sembari berharap agar kamu dan adikmu bahagia, sekarang Ibu mau bertanya apa kamu sudah serius dengan pilihanmu?" tanya Ibu dengan wajah kecewanya.


"Pilihanku sudah bulat dan mantap Bu, dan Ibu tenang saja pilihanku tidak akan salah karena aku sangat yakin jika Desy memang yang terbaik dan seseorang yang aku cari selama ini." Jawab Huda dengan lantang dan ekspresi penuh keyakinan, sikap dan ekspresi yang di tunjukkan oleh Huda membuat rasa ragu yang sempat singgah di hati Imah langsung sirna.


__ADS_2