Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Cinta Pertama Hasan


__ADS_3

Dengan telaten Husein mengambil dua porsi makanan dengan ukuran yang berbeda, sedang Aly menunggu Husain di sudut ruangan sambil asyik meminum es buah yang di sediakan.


"Aly, ini untukmu." Husein memberikan satu porsi makanan untuk Aly.


"Dan ini untukmu, makanlah dulu!" sambung Husein memberikan satu porsi lagi makanan untuk Desy.


"Tidak usah Mas Husein, saya mau nyuapi Mas Aly." Tolak Desy yang merasa sungkan untuk mengambil makanan yang telah diambilkan oleh Husein.


"Jangan menolak rezeki! kamu tahu dengan pasti kan kalau menolak rezeki itu gak baik," ucap Husein yang tak ingin pemberiannya di tolak.


"Baiklah Mas Husein, nanti saya makan setelah menyuapi Mas Aly."Jawaban Desy benar-benar membuat Husein jengkel, bukannya langsung di makan Desy malah menunda untuk memakannya dengan alasan menyuapi Aly.


"Saya tidak suka di bantah atau pun di tolak, jadi makanlah biar Aly saya yang suapi." Perkataan Husein membuat Desy tak bisa lagi menunda, dia langsung mengambil satu porsi makanan dari tangan Husein kemudian memakannya.


"Apa yang di lakukan Husein sama dengan apa yang di lakukan oleh Hasan, setelah acara tukar cincin dan do'a bersama yang telah di panjatkan semua keluarga mulai menikmati hidangan yang sudah di sediakan.


Hasan berjalan mengambil beberapa makanan untuk dirinya dan Arum sang calon istri, Orek tempe juga capcay adalah menu pilihan Hasan meski terkesan tidak nyambung tapi kedua menu itu termasuk makanan yang Arum sukai.


"Makanlah!" Hasan menyodorkan satu porsi makanan yang telah dia ambilkan.


"Terima kasih," sahut Arum dengan senyum yang terlukis indah di bibirnya.


Keduanya terlihat canggung dan saling diam, tak ada satupun yang memulai pembicaraan hanya dentingan sendok yang terdengar hingga isi di dalamnya tandas tak tersisa.


"Arum," panggil Hasan setelah menghabiskan seluruh makanan yang ada di piringnya.

__ADS_1


"Iya Kak," sahut Arum menoleh ke arah Hasan yang terlihat sedang menatapnya.


"Terima kasih," ucap Hasan membuat Arum bingung dengan ucapan terima kasih yang keluar dari bibir Hasan.


"Terima kasih untuk apa Kak?" tanya Arum dengan ekspresi bingungnya.


"Terima kasih karena kamu sudah mau menerima pinanganku, dan Aku akan berusaha untuk mendapatkan hatimu." Jawab Hasan dengan senyum manis di bibirnya.


"Harusnya Aku yang berterima kasih padamu Kak, dan Aku harap Kakak bisa menerima Aku apa adanya dan menjaga hatiku sampai nanti," ucap Arum.


"Aku tak bisa berjanji padamu Arum, tapi percayalah jika Aku akan terus berusaha menjaga dan membahagiakanmu apapun yang terjadi kelak," Hasan berusaha meyakinkan Arum agar dia bisa sepenuhnya percaya dan memberikan hatinya untuk Hasan.


"Aku akan terus berusaha mencintaimu Kak, semoga takdir berpihak pada kita." Untaian harapan keluar dari bibir Arum yang spontan membuat Hasan tersenyum lebar merasa lega akan apa yang telah di utarakan oleh Arum.


Malam ini adalah malam yang indah bagi Hasan, cinta pertama yang sejak dulu di pendam kini dapat tersalurkan. Semua harapan dan keinginan yang sejak dulu terpendam kini jadi kenyataan.


********


Pagi yang cerah mentari seolah tersenyum indah menyinari dunia, suhu hangat mulai terasa mengusik setiap orang yang masih lelap dalam dunia mimpi.


Arum telah siap untuk kembali ke pesantren karena izin yang dia dapat hanya satu hari, bagi Arum yang terpenting saat ini dia ingin menjauh dan menenangkan diri di dalam pesantren mengingat Huda yang menghubunginya kemarin membuat Arum sejenak ingin menghindar.


Meski sebenarnya dari sudut hatinya yang terdalam Arum ingin menjelaskan segalanya, tapi mengingat dirinya sekarang telah resmi bertunangan membuat Arum kembali berfikir apa yang akan dia jelaskan nanti.


"Sayang apa tidak nanti sore saja balik ke pesantrennya?" tanya Bunda Fia yang merasa masih merindukan sang putri dan meminta waktu lebih lama untuk bersamanya.

__ADS_1


"Bunda, Arum ingin segera bisa mengerti tentang islam jadi biarkan Arum balik lebih awal agar punya waktu lebih banyak untuk belajar di sana," ucap Arum mencari alasan agar sang Bunda tak lagi menahannya.


Arum memang begitu merindukan sang Bunda dan Ayahnya hanya saja dia akan lebih khawatir jika Huda tiba-tiba datang ke mansion dan semua keluarga Arum tahu tentangnya.


"Sudahlah jangan di tahan! biarkan Arum memperdalam ilmunya. Nanti jika dia sudah menikah dan punya anak waktu yang dia miliki tak akan sebanyak sekarang," Ayah Arum memberi pengertian pada Bunda Fia agar dia tak lagi menahan Arum untuk kembali ke pesantren.


Dengan langkah pasti Arum berjalan menghampiri Nenek dan keluarga yang lain untuk berpamitan, meski banyak yang menahannya tapi Arum tak goyah dia yang khawatir Huda akan datang akhirnya memilih untuk segera kembali.


Perjalanan menuju pesantren terasa begitu singkat, entah karena keinginan Arum untuk kembali atau karena jalanan yang saat ini memang sedang sepi. Entahlah yang Arum tahu saat ini dia ingin segera sampai di pesantren karena hanya di dalam pesantren Arum merasa aman karena dia yakin Huda tidak akan bisa menemukannya di sana.


"Sayang kita makan dulu ya, lagi pula kamu tak bawa apa-apa untuk temanmu, jadi kita mampir dulu untuk sarapan dan beli oleh-oleh untuk teman kamarmu." Ujar Bunda Fia.


"Iya Bunda, Arum lupa. Bagaimana kalau kita mampir di warung yang bersebelahan dengan pusat oleh-oleh dekat pesantren?" usul Arum.


Warung makan ayam bakar yang jadi primadona di kalangan santri dan sering jadi buah bibir di pesantren terletak dekat dengan pesantren dan kebetulan warungnya berada di sebelah pusat oleh-oleh.


"Ide bagus Sayang, Ayah kita mampir di warung ayam bakar deket pesantren ya." Ucap Bunda.


"Siap bos," jawab Ayah.


"Bunda Kakak kok gak datang kemana? bukankah dia sudah janji akan datang pas hari pertunanganku?" tanya Arum yang tak bertemu dengan Kakaknya.


"Kakakmu ada urusan mendadak yang tak bisa di tinggal, mungkin nanti kalau urusannya sudah selesai kakakmu akan datang menjengukmu di pesantren." Jawab Bunda yang membuat Arum tersenyum dan mengangkuk tanda mengerti.


Mobil yang di tumpangi Arum terus melaju dengan kecepatan sedang hingga dia sampai di warung ayam bakar, dengan penuh semangat Arum keluar dari mobil menuju warung bersama sang Bunda dan Ayahnya.

__ADS_1


Sarapan pagi yang sudah lumayan lama tak di rasakan Arum, duduk bertiga dengan kedua orang tuanya membuat Arum begitu bahagia, karena sejak menjadi santri Arum tak bisa makan di meja yang sama bersama kedua orang tuanya, sungguh pagi yang indah di hari yang cerah.


__ADS_2