
Sejak saat itu Erwin terus datang setiap pagi dan sore hari mengantarkan makanan dengan menu yang berbeda-beda, sejak mengenal Huda hidup Desy seolah berubah seratus delapan puluh derajat, Desy yang dulu harus berhemat demi bisa menabung dan membawa sejumlah uang untuk dia bawa pulang dan di berikan sang Ibu untuk menambah uang belanja sang Ibu kini tidak lagi perlu di lakukan.
Uang jatah yang di berikan sang Ibu saat ini menjadi tiga kali lipat dari biasanya, di tambah kiriman makanan yang di kirimkan Huda lewat Erwin membuat uang jatah yang di berikan sang Ibu hanya untuk membeli makanan ringan. Dan hal itu membuat uang tabungan Desy tetap saja banyak meski dia jajan sepuasnya.
"Desy!" panggil Shinta.
"Ada apa Shin?" sahut Desy mengalihkan pandangannya yang sejak tadi fokus menatap buku yang sejak tadi berada di pangkuannya.
"Apa kamu udah denger gosip ter hot hari ini?" tanya Shinta mengambil posisi duduk tepat di samping Desy.
"Gosip apaan?" tanya Desy.
Sebenarnya Desy bukan tipe gadis yang suka menggubris sebuah gosip yang sering beredar, baginya gosip itu tidak penting tapi entah mengapa kali ini dia justru penasaran dengan gosip yang di beritahukan oleh Shinta.
"Kamu saat ini sedang jadi topik utama para netizen pesantren, apa kamu tidak tahu tentang itu sedikitpun?" Shinta membeberkan kabar yang dia dengar.
"Topik utama bagaimana maksudmu? perasaan selama ini aku tidak pernah melakukan kesalahan apapun, dan aku juga tidak melakukan hal aneh-aneh atau di luar kebiasaanku," tanya Desy masih tidak mengerti dengan gosip yang di beritahukan oleh Shinta.
"Sekarang lagi beredar gosip kalau kamu mau menikah setelah libur sekolah nanti dan kau tahu siapa yang akan menjadi calon suamimu menurut netizen," Shinta menceritakan apa yang dia dengar, sungguh Shinta adalah tempat paling akurat jika masalah gosip menggosip, dia selalu saja tahu berita terpanas yang sedang berkembang di pesantren.
"Eh gila ya, aku sendiri aja gak tahu kapan mau nikah, kenapa mereka jadi lebih tahu dariku?" ucap Desy sambil menunjukkan wajah heran yang bercampur terkejut.
"Itulah hebatnya mereka yang selalu bikin aku takjub," Shinta malah menunjukkan ekspresi wajah kagum pada Desy.
__ADS_1
"Dasar sengklek, kagum kok pada netizen yang sok tahu padahal gak tahu apa-apa," Desy menepuk pelan lengan Shinta yang masih setia menunjukkan ekspresi kagumnya.
"Ishh, sakit Desy!" keluh Shinta sambil mengusap pelan lengan yang tadi di tepuk seraya mendramatisir keadaan.
"Udah gak usah drama! bosen aku lihatnya, mending kamu kasih tahu aku siapa laki-laki yang sedang di gosipkan akan menikah denganku!" desak Desy agar Shinta segera memberitahukannya siapa laki-laki yang sedang di gosipkan bersamanya.
"Erwin," satu nama terucap dari bibir Shinta dan cukup membuat Desy kaget.
"What??? Erwin?" spontan Desy yang begitu terkejut mendengar nama laki-laki yang tengah hangat di bicarakan akan menjadi calon suaminya.
"Iya, Erwin," Shinta mengulangi ucapannya agar Desy semakin yakin dengan apa yang dia dengar.
"Kok bisa?" tanggapan Desy justru membuat Shinta gemas.
"Tapi kenapa mereka berfikir jika dia calon suamiku? kenapa tidak berfikir jika dia saudara atau sepupuku saja?" Desy masih tak percaya jika dirinya tengah menjadi topik utama di pesantren.
"Namanya juga netizen yang sok tahu, mereka akan mengatakan apa yang mereka lihat tanpa mencari tahu dulu kebenaran dan isinya, yang mereka tahu yang terlihat adalah kenyataan yang ada." Shinta kembali menjelaskan apa yang terjadi.
"Kamu benar juga, mereka pasti berfikir jika Erwin adalah calon suamiku karena tak ada teguran sedikitpun dari pihak ndalem saat dia mengirim makanan ke sini." Ujar Desy yang baru saja menyadari jika apa yang di lakukan Erwin bisa menimbulkan gosip yang bukan-bukan di pesantren.
"Tuh kamu sadar," cicit Shinta.
"Terus aku harus bagaimana menyikapi semua ini?" tanya Desy yang tak mengerti harua melakukan apa untuk menyikapi setiap gosip yang beredar.
__ADS_1
"Pura-pura gak tahu aja, berlagak bodoh menurutku jauh lebih baik dari pada menanggapi gosip receh yang semakin di gosok semakin sip," jawab Shinta.
"Maksudmu bagaimana Shin? aku kok gak ngerti ya," Desy kembali bertanya karena tak mengerti dengan maksud ucapan Shinta.
"Begini, kamu pura-pura aja gak tahu kalau sedang jadi topik utama, lakukan apa yang biasa kamu lakukan, jangan tanggapi apapun sekalipun ada yang berani bertanya padamu tentang gosip itu, slow aja, biarkan mereka terus menggunjingmu di belakang, kamu harus lakukan itu karena kalau kamu mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, maka gosip itu akan semakin lama menghilang justru akan semakin panas." Shinta menjelaskan apa yang harus di lakukan oleh sang sahabat yang belum berpengalaman di bidang gosip menggosip.
"Kalau di suruh diam dan pura-pura gak tahu, kenapa kamu beritahu Shin?" gerutu Desy karena sikap Shinta yang semakin membuatnya kesal.
"Aku cuma ngasih tahu kamu biar kamu lebih hati-hati saat berbicara ataupun menjawab pertanyaan dari teman-teman yang lain Desy," jawab Shinta membuat Desy sedikit tak enak hati karena sempat jengkel dan sedikit marah pada Shinta yang memberitahukan dirinya tentang gosip yang beredar tapi melarangnya untuk bertindak.
"Terima kasih best prend aku, kamu memang yang terbaik," ujar Desy.
"Desy! aku laper, kita makan yuk!" ajak Shinta.
"Ayo, kita makan seperti biasa atau makan sebungkus berdua?" tawar Desy.
Biasanya Desy akan makan di Aula belakang yang biasa di gunakan untuk berkumpul dan bersantai oleh para santri, Desy akan membawa makanan yang di bawa oleh Erwin sedang Shinta membeli dari kantin dan mereka akan mencampurkan keduanya san makan bersama.
"Hari ini aku dapat kiriman dari Papa, kita makan punyaku ya." Ajak Shinta.
"Kapan kamu di kirim? perasaan dari tadi kamu di sini-sini aja," tanya Desy bingung.
"Tadi aku ketemu Papa di sekolah, dia cuma mampir sebentar ngasih makanan dan uang jajan tambahan, kebetulan dia ada janji dengan cliennya yang berada tak Jauh dari sini," tutur Shinta dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
__ADS_1