
Setelah makan Hasan beralih melihat ke arah Arum yang masih tetap diam.
"Arum!" panggil Hasan.
"Iya, Mas Hasan," sahut Arum tanpa merubah posisinya.
"Jangan menunduk di hadapanku!" titah Hasan.
Arum yang mendengar titah Hasan langsung mendongak dan menatap Hasan yang sedang menatapnya.
"Baiklah, Aku punya satu jam setengah untuk mengajarimu ilmu nahwu. Jadi siapkan buku dan bulpenmu!" ucap Hasan berdiri dan berjalan menuju sebuah rak yang tersusun rapi di pojok ruangan. Mengambil satu kitab kecil yang mirip buku tulis bertuliskan al jurumiyah.
"Apa kamu sudah bisa membaca dan menulis huruf pego?" tanya Hasan menatap ke arah Arum.
"Belum Mas Hasan ," sahut Arum.
'Kenapa sikapnya berbeda ya jika bersama denganku, dia terlihat tegang dan sedikit takut padaku. Apa Aku menyeramkan di matanya?' batin Hasan mulai menerka saat melihat ekspresi Arum yang jauh berbeda saat dia bersamanya dan bersama Husein.
"Baiklah untuk saat ini kita belajar pego saja dulu, setelah kamu memahami huruf pego baru kita belajar ilmu nahwu."Jelas Hasan.
"Tadi Aku juga di ajarin tentang huruf pego sama Kak Husein." Ucap Arum.
"What? Kak Husein? kamu manggil Husein dengan sebutan Kakak?" tanya Hasan yang sedikit terkejut dengan panggilan Arum ke Husein berbeda dengan panggilan kepadanya.
"Iya, memangnya salah ya?" tanya Arum dengan ekspresi wajah polos sepolos bayi yang baru lahir. (maaf author agak lebay)
"Jika kamu manggil Husein dengan sebutan Kakak, kenapa kalau manggil Aku dengan sebutan Mas?" tanya Hasan dengan tatapan yang tak mau lepas dari wajah Arum.
"Aku hanya teringat sebutanku dulu waktu kita kecil, dan saat Aku manggil Mas Hasan justru Aku bingung harus manggil apa? waktu kecil dulu Mas Hasan jarang berbicara denganku dan selalu manggil Aku gadis setengah laki-laki. Jadi Aku putuskan memanggilmu sama seperti yang lain memanggilmu." Jelas Arum.
Dulu waktu kecil Arum memang terkenal sangat tomboy, dia jadi anak pemberani dan sebenarnya sampai sekarangpun ketomboyannya masih belum hilang dia menguasai berbagai ilmu bela diri. Tapi sifat tomboy itu tertutupi oleh penampilan feminimnya.
__ADS_1
"Kau bisa memanggilku dengan sebutan Kakak juga padaku, dan satu lagi jangan takut atau tegang jika sedang belajar denganku!" ucapan Hasan membuat Arum reflek mendongak menatap ke arah Hasan.
"Baiklah," Arum memberanikan diri menatap wajah Hasan yang menurutnya terlihat jauh begitu tampan dan mempesona.
"Arum!!" Hasan melambaikan tangan mencoba menyadarkan Arum yang sedang melamun.
"Ma~maaf," lirih Arum.
"Sudahlah, jangan meminta maaf terus! lebih baik kita mulai saja." Hasan memutuskan tetap mengajari cara membaca pego, berbeda dengan Husein yang mengajari dengan teori tapi Hasan membelajari Arum langsung dengan praktek.
Waktu terasa begitu cepat berlalu kedua sejoli yang sedang asyik belajar membaca huruf pego dari sebuah kitab ya sudah di maknai. Tak hanya mengajari membaca sesekali Hasan juga memberi tahu maksud dari makna tersebut.
Setiap makna memakai bahasa jawa sedangkan Arum hanya tahu bahasa indonesia. Jadi dengan penuh ketelatenan Hasan mengajari Arum arti dari makna yang tertulis.
"Alhamdulillah, belajarnya udah selesai, sementara sampai di sini dulu. Besok kita lanjutkan." Ucap Hasan mengakhiri materi yang di berikan untuk hari ini.
"Alhamdulillah, terima kasih Ma~ eh maksudku Kak Hasan," Arum memutuskan memanggil Hasan dengan sebutan Kakak.
"Panggilanmu terdengar lebih indah," ujar Hasan pada Arum yang justru tersenyum mendengar ucapan Hasan.
'Ya Allah wajahnya kok terlihat lebih tampan dari Kak Husein ya?' batin Arum yang langsung berkomentar lihat senyum tipis seorang laki-laki yang terkenal dengan sifat dinginnya.
"Jangan suka melamun tidak baik!" hardik Hasan berdiri melenggang pergi meninggalkan Arum yang masih duduk di sofa menaruh kembali kitab yang tadi dia bawa dan di ajarkan pada Arum.
Arum hanya diam tak berminat menanggapi ucapan Hasan.
"Setelah ini kamu mau ke mana?" tanya Hasan.
"Langsung pulang Kak," jawab Arum.
Hasan berusaha sebisa mungkin bersikap ramah agar Arum tak lagi takut atau tegang saat berada di sampingnya.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan dulu?" Hasan menawarkan sebuah ide.
Saat ini Hasan juga berusaha mendekati Arum mencoba mencuri perhatiannya, tentunya dengan menaati aturan yang selama berlaku di keluarganya. Hasan berencana mengajak Arum jalan-jalan bersama supir dan asisten pribadinya.
"Tunggu, setahuku dalam islam seorang laki-laki tidak boleh berduaan di suatu tempat atau ruang katena dapat menimbulkan fitnah dan ada banyak setan yang menggoda, tapi kita kok berdua?" tanya Arum.
Arum yang kemarin mengikuti pengajian masih jelas mengingat tentang larangan yang tertulis bagi lawan jenis.
"Memang seorang laki-laki dan perempuan di larang berduaan dalam satu ruangan atau di manapun bagi yang bukan muhrim, tapi kita berada di sini untuk belajar dan kamu lihat pintu ruanganku masih terbuka dan tepat di depan pintu itu ada sekertarisku yang sedang menjaga kita. Dan jika kita jalan-jalanpun tidak hanya berdua ada asisten dan supir pribadiku akan menemani nanti." Jelas Hasan.
Sejak tadi memang ada sekertaris Hasan yang duduk tepat di tengah pintu, bukan di pinggir lagi tapi di tengah pintu dia sedang duduk memangku laptop di pahanya. Arum yang sejak tadi sibuk dengan rasa takut juga tegangnya sampai tak menyadari keberadaan sekertaris Hasan. Sekertaris Hasan berada di tengah pintu sejak Hasan masuk ke dalam ruangan.
"Sejak kapan Sekertaris itu ada di sana?" lirih Arum tapi masih bisa di dengar oleh Hasan.
"Sejak Aku masuk ke dalam ruangan ini." Jawab Hasan.
"Maaf Aku tidak tahu," ujar Arum sambil menundukkan kepala.
"Arum jangan menunduk! Aku tidak sedang marah padamu." Hasan yang melihat sikap Arum merasa sedikit jengkel.
"Baiklah," sahut Arum.
"Ya sudah, jangan di bahas lagi! lebih baik kita berangkat saja." Ajak Hasan.
Arum yang mendengar ajakan Hasan langsung berjalan mengikutinya, berjalan keluar ruangan.
"Indri," panggil Hasan yang saat ini sudah berada di dekat Indri sekertarisnya.
"Iya, Pak," jawab Indri yang sejak tadi fokus menatap layar laptop kini beralih melihat ke arah Hasan.
"Aku akan pergi! jadi handle semua pekerjaanku setelah ini." Titah Hasan.
__ADS_1
"Baik, Pak," jawab Indri menyeret kursi yang sejak tadi ada di tengah pintu dan berdiri di pinggir pintu agar Hasan dan Arum bisa lewat.
Hasan yang melihat Indri berdiri dan menarik kursi memberinya jalan langsung berjalan keluar di ikuti Arum yang berjalan di belakangnya.