Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Menjemput Zahra


__ADS_3

"Iya, Nyonya," sahut sang asisten rumah tangga yang mendekat dengan langkah tergopoh-gopoh sedikit berlari dari dapur menuju ruang tamu untuk menemui sang majikan, sejak tadi Sang asisten harus mondar-mandir dari dapur menuju ruang tamu karena panggilan sang majikan yang terus menerus terdengar.


"Ada apa Nyonya?" tanyanya sesaat setelah sampai di ruang tamu.


"Tolong panggilkan Zein di kamarnya!" titah Rina.


"Baik Nyonya," jawabnya yang langsung pergi menuju kamar Zein seperti yang di perintahkan oleh Rina.


Zahra hanya bisa terdiam tanpa kata mendengar perintah dari sang Mama, karena sejak awal dia sudah bisa menebak jika nanti dapat izin Zein pasti harus ikut bersamanya.


"Masf sebelumnya jika ucapan Mama mungkin akan mengecewakanmu Husein," ujar Rina dengan nada lembut yang terdengar menenangkan.


"Ada apa Ma?" sahut Husein yang begitu penasaran dengan kata maaf yang terucap dari bibir sang calon mertua.


"Jujur saja sejak kecil saya tidak pernah mengizinkan Zahra keluar rumah tanpa pengawasan dari keluarga, jadi sebelum kalian benar-benar sah menjadi suami istri saya masih belum bisa mengizinkan kalian jalan berdua," jelas Rina.


Sejak kecil Zahra memang sudah di didik dan di jaga dengan ketat, bukan karena keluarganya terlalu alim atau tak menyayangi Zahra tapi malah sebaliknya, Zahra sudah seperti berlian berharga yang selalu di jaga agar tetap indah terawat tanpa ada lecet. Bagi keluarganya keselamatan Zahra adalah prioritas utama karena Zahra putri satu-satunya di keluarga itu sedangkan Zein yang notabennya seorang Kakak sudah pandai menjaga diri karena dia laki-laki.


"Dan jika saat ini kamu mau mengajak Zahra jalan keluar rumah maka kamu juga harus mengajak Zein untuk menemani jalan-jalan kalian, semua yang Mama lakukan bukan karena Mama tak percaya pada Husein tapi ini demi kebaikan kalian berdua agar tak ada fitnah," Rina menjelaskan alasannya untuk mengajak Zein bersama mereka.


"Saya tidak masalah Ma, lagi pula saya juga sudah biasa jalan bareng Zein." Jawab Husein dengan senyum mengembang meski sebenarnya jauh di lubuk hatinya merasa kurang nyaman jika Zein ikut bersamanya karena bisa di pastikan jika dia nanti akan menjadi pengganggu dalam perjalanan.

__ADS_1


"Mama manggil Zein ada apa?" tanya Zein dengan muka bantalnya dia datang.


"Emm Husein, ngapain loe pagi-pagi udah di rumah gue?" sambung Zein saat menyadari kehadiran Husein di ruang tamu rumahnya.


"Duduk dulu Zei! lagi pula kamu tidak sopan bicara seperti itu pada Husein yang sebentar lagi juga akan menjadi adik iparmu." Rina mengingatkan sang putera yang selalu saja berujar seenaknya pada Husein agar mau mengubah cara bicaranya.


"Maaf Ma, oh ya Mama manggil Zein ke sini ada apa?" Zein kembali bertanya karena tadi masih belum mendapat jawaban dari sang Mama.


"Kamu bersiap-siaplah! dan temani adikmu pergi bersama Husein." Titah Rina yang berhasil membuat Zein terkejut.


"Memangnya Adek mau ke mana Ma?" tanya Zein.


"Dia mau jalan-jalan bareng Husein dan kamu bisa menemani mereka jalan-jalan." Jelas Rina yang sukses membuat Zein tersenyum penuh arti, sungguh ini adalah kesempatan paling bagus untuk membuat Husein mati gaya di hadapannya, selama ini Husein sering sekali mengganggu acara kencannya bersama para mantannya terdahulu dengan alasan di larang pacaran karena agama melarang segala sesuatu yang berbau atau sesuatu yang mendekati Zina.


'Ishhh senyuman itu sudah aku hafal Zein, awas saja kalau kamu ganggu aku nanti, ku adukan kamu sama Amanda kalau sekarang kamu lagi dekat dengan Ayu juga,' Husein yang melihat senyum penuh arti milik Zein langsung menyiapkan senjata untuk melawan Zein.


Saat ini Zein memang sedang menjalin hubungan dengan dua gadis sekaligus, setiap kali Husein mengingatkan agar Zein segera berhenti dari kebiasaan buruknya yang selalu menggandeng lebih dari satu wanita dia selau beralasan jika saat ini dia sedang dalam pencarian cinta sejati untuk hidupnya, dan petualangan cinta itu akan berhenti saat ijab kabul telah di ucapkan.


"Kalau begitu Mama tinggal ke dalam rumah dulu. Silahkan di nikmati minuman dan camilannya!" titah Rina sebelum pergi meninggalkan ruang tamu untuk melanjutkan selancarnya di dunia maya.


"Khem," Husein berdehem untuk memecahkan keheningan yang sejak tadi tercipta, sedan Ifan sejak tadi hanya diam tanpa satu katapun yang terucap dari bibirnya.

__ADS_1


"Maaf ya Kak," lirih Zahra yang merasa tak enak hati dengan sikap sang Mama yang mungkin keterlakuan.


"Maaf untuk apa? memangnya Zahra buat kesalahan?" sahut Husein yang justru merasa bingung dengan permintaan maaf yang di ucapkan oleh Zahra.


"Maaf jika Kak Husein merasa kurang nyaman dengan sikap ataupun syart yang di ajukan oleh Mama." Zahra menjelaskan maksud dari permintaan maaf yang di ucapkan oleh Hasan.


"Zahra dengarkan Kakak baik-baik! apa yang di lakukan oleh Mama dan keluargamu memang benar bahkan sangat benar, dan aku sangat bangga bisa mendapatkanmu sebagai calin istriku." Ujar Husein dengan sneyum yang mengembang di bibirnya.


"Apa yang di lakukan orang tua dan Kakakmu menunjukkan jika mereka bertiga begitu menyayangi dan menjagamu, justru Kak Husein harusnya berterima kasih pada mereka yang sudah menjaga kamu untuk jodohmu yang semoga saja jodoh itu adalah diriku." Husein memberitahukan jika saat ini dia merasa beruntung sekali mendapat berlian terindah yang tak pernah di sentuh oleh siapapun sebelumnya.


Zahra yang mendengar penjelasan Husein hanya bisa tertunduk malu karenanya, ketiganya kini sama-sama terdiam tanpa kata dan akhirnya hanya keheningan terasa di ruang tamu hingga Zein yang sejak tadi di tunggu kini sudah siap untuk berangakt.


"Kenapa jadi pada diem gini sih?" seru Zein yang baru aja masuk ke dalam ruang tamu.


"Kamu juga kenapa Husein? sejak tadi diem mulu, kamu gak suka aku ikut kayak gini?" cerocos Husein.


"Bawel Loe!" sahut Husein.


"Udah kalian nunggu apa lagi? ayo berangkat keburu panas dan aku gak mau kulitku yang sangat putih dan mulus ini berubah menjadi warna merah atau bahkan hitam kerenanya." Tanya Zein yang begitu gemas melihat tingkah dua sejoli yang bisa di pastikan sedang kasmaran.


"Ayo berangakat!" ajak Zein yang terlihat bersemangat untuk berangkat.

__ADS_1


"Baiklah, ayo kitajalan Zahra!" sahut Husein yang membuat Zein sedikit jengkel karena sejak tadi di abaikan oleh Husein.


"Tunggu sebentar Kak! aku mau ambil tas dulu." Pamit Zahra melenggang pergi meninggalkan ketiga pria yang masih duduk manis di tempatnya.


__ADS_2