Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Usaha Reyhan part 2


__ADS_3

"Apa?? Reyhan?" Huda yang sejak tadi duduk santai di kursi kamarnya kini mulai berdiri sambil memegang telfon yang masih melekat di dekat telinganya.


Selama ini Huda selalu mengawasi setiap gerak gerik Desy di pesantren, ada satu mata-mata laki-laki dan satu mata-mata perempuan.


"Benar, Tuan, namanya Reyhan wibowo, dia tengah gencar-gencarnya mendekati Nona Desy." Jawab Iwan sang asisten pribadi yang beberapa bulan ini selalu mendapat laporan dari mata-mata yang di perintahkan untyk mengawasi Desy.


"Terus awasi setiap gerakan Desy, dan laporkan padaku!" titah Huda sebelum akhirnya dia menutup sambungan telfon tanpa mengucapkan salam.


Hati Huda bergemuruh hebat mendapat kabar jika sang tunangan tengah gencar di dekati laki-laki lain, Huda duduk termenung di kursi menatap lurus keluar jendela sambil memikirkan cara apa yang bisa di lakukan agar Desy tetap teguh dengan pendiriannya yang akan menunggunya sampai akhirnya tiba.


Huda terus memutar setiap gambar yang di kirim sang asisten lewat pesan singkat di ponselnya, terlihat jelas tatapan penuh cinta di mata Reyhan saat melihat Desy yang berstatus tunangannya. Meski Iwan sudah menjelaskan jika Desy sama sekali tak merespon setiap hal yang di lakukan Reyhan untuk mendapat hati Desy, tetap saja Huda merasa tidak tenang karena bagaimanapun juga dia tidak bisa selalu ada untuk Desy.


"Aku harus melakukan sesuatu agar Desy tidak berpaling," gumam Huda sambil berjalan mondar mandir di tempat.


Huda terus berfikir bagaimana caranya agar Desy terus memikirkannya dan tak berpaling pada Reyhan yang di ketahui Huda sedang berusaha keras dengan berbagai cara untuk mendapatkan hati Desy.


"Tidak mungkin, aku tidak bisa memberitahu Desy tentang pertunangan diam-diam yang sudah aku lakukan dengannya. Kalau dia menerima tidak apa-apa tapi kalau menolak dan bahkan marah maka aku yang akan repot," Huda terus saja sibuk dengan pemikirannya sendiri.


Huda yangs ejak tadi mondar mandir kini duduk diam di atas kursi menatap keluar jendela, terus berfikir keras hingga satu ide muncul di benaknya, dengan gerakan cepat Huda berdiri melangkah keluar dari rumah menuju tempat yang bisa membantunya membuat Desy terus mengingat dirinya.


Huda pergi menuju tokoh perhiasan yang cukup terkenal di tempat dia menimbah ilmu. Perlahan Hudan memperhatikan setiap model kalung yang di pajang di kaca tokoh. Begitu indah dan menggoda, Huda mendapat ide untuk membelikan kalung untuk Desy sebagai hadiah dan berharap Desy akan selalu mengingatnya, dia akan terus mengingat Huda yang selalu memikirkannya di tempat yang jauh.


Awalnya Huda merasa bingung untuk memilih kalung yang akan dia beli untuk Desy, di tokoh yang dia datangi benar-benar memiliki desain kalung yang begitu indah hampir semua yang di pajang di sana terlihat begitu indah.


"Sepertinya ini cocok untuk Desy," gumam Huda sambil memperhatikan satu kalung berbentuk hati dan di dalamnya terdapat bintang kecil dengan satu permata indah yang memperindah tampilannya.


Huda akhirnya memilih kalung berliontin indah berbentuk hati dengan bintang yang ada di dalamnya. Dengan langkah penuh semangat Huda berjalan keluar dari tokoh menuju rumah untuk melaksanakan ide yang ada sejak tadi dia dapat.

__ADS_1


Huda berencana untuk mengirim Desy hadiah dengan sepucuk surat yang berisi ungkapan hatinya agar Desy semakin mantap untuk menunggu kepulangannya yang tinggal beberapa bulan saja.


Setelah selesai menulis surat untuk Desy Huda bergegas meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Assalamualaikum, ada apa Tuan?" sahut seorang laki-laki dari seberang telfon.


"Iwan, aku akan mengirimkan sesuatu ke sana dan tugasmu berikan barang yang ku kirim ke Desy!" titah Huda dengan nada tegas rak terbantahkan.


"Baik, Tuan," jawab Iwan, tanpa berfikir panjang Iwan sang asisten langsung mengiyakan apa yang di perintahkan oleh Huda.


Tut ....


Sambungan telfon langsung di matikan oleh Huda setelah merasa urusannya telah selesai, Hida lanhsung bergegas mengantar kotak yang akan dia kirim ke kantor agar Iwan bisa segera memberikannya pada Desy.


"Semoga dengan ini bisa semakin meyakinkan Desy untuk tetap setia menungguku dan yak tergoda laki-laki lain, sekalipun laki-laki itu berusaha keras untuk mendapatkan hatinya," untaian harapan Huda terucap dari bibir Huda setelah menyerahkan barang yang akan dia kirom ke tempat jasa pengiriman barang.


Jika Huda sedang berusaha melakukan sesuatu agar Desy tak berpaling ataupun tergoda oleh laki-laki lain, maka lain halnya dengan Desy yang merasa risih dengan kehadiran Reyhan yang cukup mengganggunya di sekolah.


"Desy, sepertinya Reyhan benar-benar jatuh cinta padamu." Ujar Shintayang sejak tadi terlihat memperhatikan Desy.


"Mbak Desy!" panggil asik kelas Desy.


"Iya, kenapa?" sahut Desy menatap heran ke arah gadis berseragam sama tapi memakai bed penunjuk kelas berbeda dengannya.


"Ada titipan buat Mbak," jawab Sang Adik kelas.


"Titipan apa?" Desy semakin heran mendengar jawaban Sang Adik kelas yang jelas-jelas membingungkannya.

__ADS_1


"Ini untuk Mbak Desy." Sang Adik kelas memberikan kotak kecil berbentuk persegi panjang pada Desy.


"Apa ini?" tanya Desy heran.


"Aku gak tahu Mbak, tadi aku cuma di titipin aja," jawab Sang Adik kelas jujur.


"Memangnya kotak ini dari siapa?"Desy terus saja bertanya karena dia tak merasa meminta sesuatu ataupun memesan sesuatu pada seseorang.


"Ini dari Kak Reyhan, Mbak," jawab Sang adik kelas.


"Maaf, Dek, aku tidak bisa menerimanya, tolong kembalikan padanya." Desy yang tak ingin memberikan harapan apapun akhurnya memilih untuk menolak pemberian Reyhan.


"Tapi a~"


"Jika dia tidak mau ambil saja untukmu!" tolak Desy tak terbantahkan membuat Sang Adik kelas berada di posisi yang begitu membingungkan.


"Sudah jangan bingung gitu! kamu bawa aja pergi!" Shinta menengahi perbincangan keduanya saat melihat Sang Adik kelas diam mematung dengan ekspresi bingung.


"Mbak, aku tidak bisa mengambil ini, lihatlah ke depan! di sana ada Kak Reyhan yang terus memperhatikan kita," Sang Adik kelas memberi isyarat mata agar Desy dan Shinta melihat ke arah Reyhan yang masih setia menatapnya.


"Sudah jangan hiraukan dia! ambil saja! anggap aku memberikannya untukmu." Ucap Desy tegas.


"Kamu bawa balik aja barangnya! kita pergi dulu." Shinta berdiri menggandeng tangan Desy agar mengikutinya meninggalkan kantin tanpa menghiraukan Sang Adik kelas yang masih berdiri denganekspresi bingung.


"Ishhh kamu tega amat Shin," celetuk Desy setelah berada sedikit jauh dari kantin.


"Tega gimana maksudmu?" tanya Shinta bingung dengan ucapan Desy.

__ADS_1


"Kasihan tu Adek kelas, emang kamu gak lihat ekspresi bingung di wajahnya tadi?" Desy menjelaskan maksud dari ucapannya.


"Sudah jangan di fikirkan! salah sendiri mau-maunya di di suruh sama si Reyhan, kalau kita tetap di sana bakal panjang urusannya Desy, sudah jangan di fikirkan! lebih baik kita masuk kelas aja." Shinta memilih mengajak Desy masuk kelas tanpa memperdulikan Sang Adik kelas dengan kotak pemberian dari Reyhan.


__ADS_2