
Dua hari sudah berlalu sejak kejadian penolakan dari Desy pada Reyhan dan juga pemberian darinya, kini Desy merasa sedikit tenang karena Reyhan tak lagi menyuruh Adik kelas maupun menghadangnya di jalan hanya untuk menyatakan perasaan ataupun meminta Desy menerimanya.
"Seneng amat pagi ini," beo Shinta yang baru saja datang setelah mandi.
"Seneng donk, sekarang Kan hari jum'at dan kau pasti sudah tahu jika hari ini adalah hari bebas dari segala tugas," jelas Desy.
Hari jum'at memang hari merdeka bagi sebagian besar para santri, ada yang di jenguk keluarganya, ada yang ngerumpi di bawah jemuran, ada juga yang bermain lompat tali bahkan ada juga yang hanya tidur juga rebahan seharian.
Tak ada tugas sekolah, begitu juga dengan madin yang biasanya akan berlangsung setelah sholat dzuhur. Tapi khusus untuk hari jum'at hampir seluruh kegiatan di liburkan, jadi seharian penuh semua santri bisa santai menikmatnya.
"Tapi kamu masih ingat tugas yang biasa di berikan oleh Umik, Kan?" Shinta yang begitu mengerti jika Desy masih punya beberapa pekerjaan yang harus dia kerjakan di hari Jum'at sekalipun.
"Tugasnya sudah aku selesaikan semua Shin, kamu tenang aja, hari ini aku ingin menikmati hari libur, bersantai seharian. Kamu masih punya komik atau novel yang bisa aku baca gak?" tanya Desy.
Entah mengapa hari ini dia merasa ingin bersantai menikmati hidup sambil membaca novel atau komik yang biasanya paling malas dia baca.
"Ada, kamu mau baca yang mana? komik atau novelnya?" Shinta menawarkan salah satu dari koleksi tersembunyinya.
Sebenarnya di pesantren di larang untuk membawa ataupun menyimpan novel atau komik, tapi Shinya punya cara tersendiri untuk menyimpan barang kesukaannya itu, beberapa novel dan komik yang tidak dia baca akan dia simpan di laci sekolah yang selama ini selalu aman, Shinta hanya akan membawa satu atau dua dari koleksinya untuk dia baca sebagai hiburan di pesantren. Shinta juga punya tempat tersembunyi yang berada di balik loker lemari, dia selalu menyelipkan buku-buku favoritenya di sana.
"Komik aja, biar bacanya gak terlalu lama," jawab Desy.
__ADS_1
Desy juga manusia biasa, setaat apapun dia dan sesoleha apapun dia tetap saja Desy punya sisi buruk yang terkadang mendorongnya untuk melanggar peraturan di pesantren, meskipun pelanggaran itu bukan pelanggaran berat tetap saja yang namanya melanggar itu salah.
Shinta yang memang hobbi membaca dua benda tersebut bergegas mengambilnya di balik lemari dan memberikannya pada Desy.
"Ini untukmu." Ucap Shinta memberikan satu komik ke arah Desy yang langsung disambut olehnya.
Desy mulai membaca lembar demi lembar komik yang ada di tangannya dan tersembunyi di balik buku, begitulah cara para santri saat membaca komik ataupun novel, mereka selalu menaruhnya di dalam buku saat membaca agar tak terlalu terlihat dari luar kamar.
"Mbak Desy!" panggil seorang santri yang hampir setiap hari memberitahukannya jika Erwin asisten pribadi Huda datang untuk mengantar makanan.
"Iya, Mbak, ada apa?" Desy selalu menjawab panggilan santri itu dengan kalimat yang sama juga hampir setiap hari itu.
"Baiklah, terima kasih Mbak," ucap Desy sambil berdiri menyimpan kembali komik yang dia baca di balik lemari loker tersembunyi agar tak ada orang luar kamar yang menemukannya, Kemudia dia melangkah dengan langkah pasti setelah memakai hijab menuju luar gerbang pesantren putri di mana Erwin biasa menunggunya.
Beberapa bulan sudah berlalu, tapi tak satu kalipun Erwin libur untuk mengantar makanan ke pesantren. Bahkan dia datang di hari minggu, meski terkadang dia juga telat mengantarnya tapi tetap saja tak seharipun terlewati tanpa makanan darinya.
Desy begitu heran dengan sikap Iwan, dia memang benar-benar kariyawan teladan dan patuh, padahal Erwin bisa saja menyuruh orang lain untuk mengantarnya atau bahkan menyuruh gojek yang saat ini sudah tersebar hampir di seluruh indonesia.
"Nona, ini ada kotak hadiah dari Tuan Huda untukmu." Ucap Erwin sambil menyodorkan satu kotak pada Desy.
"Hadiah untuk apa? aku tidak sedang ulang tahun hari ini," jawab Desy dengan ekspresi bingung menatap kotak berwarna merah hati yang kini masih berada di tangan Erwin.
__ADS_1
"Maaf Nona, saya hanya bertugas mengantarkan kotak ini, dan saya tidak punya hak untuk mengetahui alasan Tuan mengirimkannya untukmu." Jawab Erwin jujur.
"Baiklah, terima kasih," jawab Desy dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
"Ini sudah tugas saya Nona, jadi tidak perlu sungkan, Tuan Hida juga berpesan jika Nona menginginkan sesuatu yang tidak ada di dalam pesantren, Nona bisa memintanya pada saya dan saya akan membelikannya nanti," cicit Erwin.
"Tidak, terima kasih, aku tidak menginginkan apapun saat ini, kirim salam saja sama Mas Huda, terima kasih untuk semuanya, terima kasih juga untuk kotak hadiah yang cantik ini, katakan padanya untuk berhati-hati di negara orang dan jangan lupa lekas pulang," pesan Desy sebelum dia kembali masuk ke dalam penjara suci yang selalu di penuhi oleh ilmu juga keberkahan dan kedamaian di dalamnya.
"Saya akan menyampaikan pesan Nona Desy, kalau begitu saya permisi dulu." Pamit Erwin melangkah pergi meninggalkan Desy yang kini juga masuk ke dalam pesantren.
'Tuan Huda pasti akan merasa senang mendengar pesan dari Nona, ahh sungguh cinta itu merepotkan,' batin Erwin yang sebenarnya sering menggerutu karena perintah Tuan Huda saat ini begitu berat, setiap pagi dan sore Hari Erwin harus datang ke pesantren untuk mengantar makanan tanpa bisa di wakilkan, bukan Erwin tak mau tapi datang tepat waktu ke pesantren bukanlah hal yang mudah, apalagi letak rumah Erwin yang cukup jauh sedikut menyusahkannya apalagi saat Erwin harus meeting pagi, dia akan sangat repot saat harus mengirim makanan dulu.
Bukan hanya itu saja, selama ini Erwin juga mendapat tugas untuk merekam dan membuat video saat dia datang mengantar makanan setiap pagi dan sore, entah sudah berapa puluh atau bahkan ratusan video yang sudah di kirim oleh Erwin. Meski begitu Erwin masih tetap berusaha menjalankan tugas dari Tuan Huda, meski sebenarnya tugas ini bukanlah bagian dari pekerjaannya.
"Tuan, saya sudah memberikan kotak yang Tuan kirim. Dan ini videonya, ada pesan manis dari Nona untuk Tuan."
Erwin langsung mengirimkan pesan singkat pada Tuan Huda yang di yakini bisa membuat Tuannya itu tersenyum bahagia karenanya.
"Bagus, aku akan kirimkan bonus untukmu nanti siang."
Pesan singkat juga di terima oleh Erwin, sebuah pesan yang tak kalah membahagiakan bagi Erwin, sebuah bonus dadakan yang sering kali dia dapat ketika sang Tuan merasa bahagia, inilah alasan Erwin tetap setia bekerja bersama Huda, meski Huda sering sekali menyusahkannya dengan tugas yang sebenarnya buka. tugasnya.
__ADS_1