Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Kakak Nyebelin


__ADS_3

Jalan-jalan indah yang sejak tadi pagi di bayangkan kini berubah menjadi sedikit menyebalkan, pasalnya Zein benar-benar membalas semua yang pernah di lakukan oleh Husein saat dulu dia sedang berkencan dengan mantannya.


"Hey! loe mau duduk di mana Husein?" cegah Zein saat melihat Husein hendak masuk ke dalam mobil di bagian belakang jok mobilnya.


Husein yang hendak duduk di jok mobil bagian belakang menghentikan gerakannya saat Zein mencegahnya untuk masuk ke dalam mobil.


"Gue mau duduk di belakang, emang kenapa?" sahut Husein yang bingung melihat tingkah sahabatnya yang melarangnya duduk di jok bagian belakang.


"Enak aja, belum halal, pindah ke depan sono! biar gue yang di belakang." Titah Zein yang mulai melancarkan aksinya.


"Ishh kau ini nyebelin banget jadi temen," gerutu Husein.


"Biarin, dari pada gue aduin ke Mama terus loe gak dapet izin ngajak adik gue pilih yang mana loe? nurut atau gak jadi pergi," Zein mulai mengancam Husein yang terlihat hendak melawan.


"Untung gue cinta sama adek loe kalau enggak udah aku bejek loe," lirih Husein yang hanya bisa di dengar olehnya sendiri.


Wajah Husein yang tadi berangkat terlihat begitu cerah berseri seperti mentari pagi ini kini berubah kusut dan suram seperti langit yang selalu mendung dan cahayanya redup.


Zein masuk yang melihat Husein sudah masuk ke dalam mobil dan duduk di samping pengemudi langsung ikut masuk dan duduk di samping Zahra yang hanya bisa menggelengkan kepala heran melihat sikap Kakaknya yang tidak seperti biasanya.


"Kakak kenapa sih? tumben sikap Kakak aneh," tanya Zahra dengan nada lirih yang hanya bisa di dengar oleh Zein saja.


"Gak kenapa-kenapa, cuma lagi misi pembalasan," jawab Zein singkat seraya mengambil ponsel dari saku celananya dan mulai membalas satu persatu chat dari para gebetan.


"Misi pembalasan gimana maksud Kakak?" Zahra yang mendengar jawaban Zein langsung mengalihkan pandangan menoleh ke arahnya tapi yang di lihat malah sibuk memainkan ponselnya.

__ADS_1


"Sudahlah, jangan ikut campur urusan orang dewasa! lebih baik kamu duduk yang manis dan lihat apa yang akan kakak lakukan dan kamu akan tahu sendiri nanti." Zein yang tak berniat memberitahu Zahra hanya bisa menyuruh sang adik duduk manis dan tak lagi bertanya.


"Ishhh Kakak! aku sudah besar kali. masih aja di bilang anak kecil," protes Zahra yang selalu merasa jengkel setiap kali keluarganya mengatakan jika dirinya seperti anak kecil.


"Sssttt, diem! entar Husein denger emang kamu mau kita gak jadi jalan," sahut Zein.


'Apa hubungannya ngasih tahu rencana Kakak sama kita yang gak jadi jalan kalau Husein sampai tahu? dasar Kakak nyebelin,' batin Zahra mulai mengomel di barengi dengan ekspresi cemberut Zahra yang sangat jelas terlihat.


"Zahra!" panggil Husein yang baru saja menoleh ke belakang hendak menawari minum tapi teralihkan oleh ekspresi wajah Zahra yang terlihat cemberut membuat jiwa kepo Husein mulai bangakit.


"Iya, Kak," sahut Zahra.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Husein saat melihat Zahra hanya diam dengan ekspresi cemberut.


"Eh, aku gak apa-apa kok Kak," jawab Zahra seraya merubah ekspresinya, menampakkan senyum semanis gula merah meski hati masih terasa asam seperti buah belimbing karena sikap sang Kakak.


"Boleh Kak," jawab Zahra yang merasa butuh minum dan sebatang coklat untuk sekedar meredakan rasa jengkelnya pada sang Kakak.


"Makanlah!" Husein memberikan sebatang cokelat pada Zahra yang langsung di terima bebarengan dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


"Terima kasih Kak," ujar Zahra membuka satu bungkus cokelat kacang kesukaannya. Sedang Husien hanya tersenyum manis sambil menganggu menanggapi ucapan terima kasih dari sang calon istri.


"Sein, kenapa Loe cuma nawarin Adek gue? buat gue mana?" sela Zein yang merasa jika Huswin tak adil.


"Kagak ada, stoknya udah habis, Tadi gue cuma beli satu buat Adek Loe doang," sahut Husein ketus.

__ADS_1


"Inget Sein! gue calon Kakak ipar Loe, jadi jangan macem-macem gue pecat jadi calon Adek Ipar baru tahu rasa Loe." Ancam Zein dengan wajah serius.


"Bodoh, yang penting Adek Loe masih cinta sama Gue gak bakal ada apa-apa," sahut Husein yang tak mau kalah berdebat dengan Zein.


"Lama-lama nyebelin juga ni anak," geram Zein yang justru tersulut emosi oleh jawaban Husein.


"Ishhh Kakak, Kak Husein sudah dong, jangan berdebat terus! pusing aku dengernya," keluh Zahra yang merasa sudah lelah dengan sikap kedua laki-laki di hadapannya itu.


Suasana mobil yang tadinya ramai dengan perdebatan dan pertengkaran keduanya kini tiba-tiba sepi seperti sebuah kuburan yang tak berpenghuni, dan suasana seperti itu membuat Zahra merasa begitu tenang menikmati coklat yang ada di tangannya.


Sampai di tempat tujuan, danau di pagi memang selalu saja ramai dengan para pengunjung yang ingin berolahraga atau hanya sekedar jalan-jalan di tepian. Suasana danau yang sejuk dengan sedikit kehangatan dari sinar mentari menjadikannya salah satu tempat berkumpul bagi para anak muda ataupun tempat berlibur bagi keluarga.


"Astaga kamu dateng pagi-pagi ke rumah cuma buat pergi ke danau," celetuk Zein yang saat ini nenar-benar menjadi sosok yang sangat menyebalkan bagi Husein yang menjalani masa perkenalan dengan sang Adik yaitu Zahra.


"Wah suasananya ramai banget ya Kak Husein," seru Zahra yang melihat wajah jengkel sang calon suami mendengar celetukan Zein yang memang sedikut mencubit hati. Entah mengapa pergi bersama Zein hari ini terasa begitu menyebalkan dari pada dulu waktu Husein pergi bersama Zein saat belum mengenal Zahra.


"Di sini selalu ramai kalau pagi, apa kamu tidak pernah ke sini?" tanya Husein yang melihat binar kebahagiaan di wajah Zahra.


"Dulu pernah Kak, tapi semenjak SMA dan kuliah orang tua dan Kakak gantengku itu tak pernah lagi ngajak aku ke sini ataupun ngizinin aku main ke sini kalau gak sama mereka," Zahra menceritakan jika dirinya tak pernah ke sini sejak sekolah SMA.


"Emang dasar Kakak sengklek, kalau pacaran selalu main ke sini giliran Adek sendiri kagak pernah di ajak." Sindir Husein pada Zein yang kini justru tak lagi memperhatikan Husein dan Zahra, dia malah fokus menatap deretan penjual makanan yang sudah berjejer rapi di tepi terotoar.


"Husein! gue laper beliin makanan!" sahut Zein yang sejak tadi tak menghiraukan Husein dan Zahra sekarang malah minta di beliin makanan.


"Beli aja sendiri! situ kan banyak uang udah besar juga gak bakal nyasar," jawab Husein.

__ADS_1


Zein dan husein memang sudah biasa berbicara dengan nada ketus, meski begitu mereka tak pernah saling membenci ataupun memasukkan setiap ucapan masing-masing ke dalam hati. Bagi mereka perdebatan dan pertengkaran yang terjadi hanya bercanda dan tidak serius.


__ADS_2