Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Siapa Tasya?


__ADS_3

"Iya, Ibu Siapa?" Husein mengalihkan pandangannya begitu pula dengan Aly dan Desy, mereka bertiga kompak menoleh secara bersamaan.


"Saya Mirna, apa Mas Husein sudah lupa dengan saya?" Sang Ibu menyebutkan namanya mencoba mengingatkan Husein yang sudah melupakan siapa Mirna.


"Oh Bu Mirna, Ibunya Tasya?" Husein yang sedikit mengingat siapa Bu Mirna mencoba untuk menebaknya.


"Iya Mas, saya Ibunya Tasya," Bu Mirna melengkungkan bibir menampakkan senyum terbaiknya di hadapan Husein.


"Bagaimana kabar Tasya Bu?" tanya Husein.


"Alhamdulillah baik Mas Husein," jawab Bu Mirna.


"Mas Husein kapan datang? apa tidak ingin mampir kerumah Ibu?" sambung Bu Mirna yang terlihat begitu akrab dengan Husein.


"Baru saja Bu, mungkin besok-besok saja," jawab Husein dengan senyum yang mengembang tanpa mengurangi rasa hormatnya.


"Kalau begitu Ibu permisi dulu." Pamit Bu Mirna melenggang pergi meninggalkan ketiganya.


Ada banyak sekali pertanyaan di benak Desy, sudah tiga kali ini dia ikut ke tempat Ummah, dan Husein sekalipun tak pernah absen untuk datang ke rumah Tasya yang entah siapa dia, Desy yang hanya berstatus santri hanya bisa diam tanpa bisa bertanya meski jiwa keponya tengah meronta-ronta.


"Iya Bu, hati-hati!" pesan Husein saat melihat Bu Mirna berjalan menjauh dari tempat ketiganya duduk.


"Om," panggil si cabe rawit yang tak lain adalah Aly.


"Apa?" sahut Husein.


"Itu tadi siapa Om?" tanya Aly.


"Oh dia Ibu dari sahabat Om," Husein menjawab pertanyaan Aly begitu singkat sembari berdiri seolah mengajak kita kembali ke rumah Ummah.


Husein memang ramah tapi tidak ke semua orang, terkadang dia juga terlihat cuek dan irit bicara saat bersama Desy atau santriwati lainnya, tapi dia juga murah senyum saat di sapa, hanya senyum.

__ADS_1


Semua keluarga sudah berkumpul di ruang keluarga milik Ummah, ruangan yang cukup luas untuk menampung seluruh keluarga besarnya.


Hari ini adalah hari pertama Arum datang ke rumah Umma dan bertemu denga Syafa, semuanya terlihat asing kecuali Umik dan Hasan yang memang sudah Arum kenal dengan baik.


Meskipun dulu Arum pernah bertemu tapi itu dulu saat Arum masih kecil dan belum mengerti apapun.


"Ini Arum anaknya Fia?" Ummah yang sejak tadi memperhatikan Arum mulai membuka suara.


"Iya Umma, ini Arum calonnya Hasan." jawaban yang membuat Arum langsung menoleh ke arah Umik.


'Kapan Aku setuju? bukankah Aku masih belum menentukan pilihan?' batin Arum mulai berkomentar tanpa suara.


"Jadi Ilzham sudah setuju dengan perjodohan itu," tutur Ummah yang mengetahui dengan jelas jika Ilzham dulu tak menyetujui rencana Uqi untuk menjodohkan keduanya.


"Alhamdulillah sudah Ummah," jawab Uqi dengan senyum yang mengembang, sedangkan Ilzham yang di bucarakan terlihat cuek, dia justru terlihat serius berbicara dengan Buya dan entah apa yang mereka bicarakan.


Arum hanya bisa terdiam sembari menundukkan kepala menyembunyikan perasaan yang sedang berkecambuk dalam dirinya, bukan cuma perasaan Husein yang di fikirkan Arum saat ini jika dia benar-benar menikah dengan Hasan, perasaan Huda yang sekarang masih berstatus kekasihnya pun juga jadi pertimbangan.


"Iya Ummah," sahut Hasan.


"Ajak Arun jalan-jalan dan tunjukkan keindahan alam sekitar!" titah Ummah seolah mengerti apa yang saat ini Arum rasakan.


"Baik Ummah," Hasan memang begotu penurut dan jarang sekali menolak perintah para orang tua.


"Arum ayo!" ajak Hasan tapi Arum tak merespon ajakan Hasan dia masih saja diam menunduk dan tak bergerak sedikitpun.


"Arum!" Hasan sedikit mengeraskan suaranya membuat semua anghota keluarga sempat menoleh ke arah mereka tapi sedetik kemudian mereka kembali fokus pada perbincangan yang tadi sempat terganggu karena suara Hasan.


"Eh, kemana Kak?" Arum yang baru saja menyadari panggilan Hasan langsung mendongak dan menjawabnya.


"Kita ke halaman depan lihat pemandangan." Jawab Hasan sambil berlalu meninggalkan Arum yang masih belum bergerak.

__ADS_1


Arum yang melihat Hasan berjalan meninggalkannya langsung berdiri dan mencoba menyamai langkah Hasan.


"Duduklah!" titah Hasan saat keduanya telah sampai di halaman rumah Ummah.


Sebuah halaman luas dwngan empat kursi yang melingkari meja bulat di tengahnya, pemandangan bukit dan hamparan kebun tah terlihat jelas di sana begitu indah memanjakan mata, di tambah beberapa tumbuhan strawbery yang tertata rapi di atas rak kayu. buahnya terlihat begitu lebat meski berada di dalam pot.


Arum langsung duduk tak jauh dari tempat Hasan duduk setelah mendengar titah Hasan.


"Ada apa Kak? kenapa Kakak ajak Arum ke sini?" tanya Arum yang sejak tadi melamun dan tak mendengar perintah Ummah pada Hasan.


"Apa kamu menerima pinanganku yang di sampaikan oleh Umik?" Hasan tak mau menyia-nyiakan kesempatan, mumpung Arum tak tahu tujuannya di ajak ke halaman muncullah sebuah ide di benak Hasan, sebenarnya bukan ide tapi keresahan hati yang Hasan rasakan melihat ekspresi Arum setiap membicarakan masalah perjodohan.


Arum sejenak terdiam, saat ini perasaannya tengah bingung apakah dia harus menolak atau menerimanya.


"Arum," Hasan kembali memanggil Arum karena tak ada respon darinya.


Pertanyaan sederhana yang di lontarkan Hasan masih belum mampu membuka suara Arum, jika saja Arum tahu saat ini Hasan sedang risau akan menolakan yang dia khawatirkan.


"Maaf sebelumnya Kak, bukan maksud Aku menolak hanya saja Aku masih butuh waktu meyakinkan diri dengan apa yang akan Aku pilih," Arum kembali menunduk, perasaannya begitu cemas.


"Menikah itu bukan masalah mudah, Aku ingin menikah sekali seumur hidupku maka dari itu ada banyak hal yang harus Aku pertimbangkan. Dan ada banyak hal pula yang harus Aku fikirkan, Aku minta Kakak memberiku sedikit waktu untuk memikirkannya." Sambung Arum yang masih setia menunduk.


"Aku mengerti dengan keadaanmu, mengingat usiamu juga masih sangat muda. Tapi satu harapanku kamu tidak menolak pinangan yang telah Aku ajukan." Sekuat tenaga Hasan mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya berharap ketentraman kembali singgah setelah rasa gelisah menerpanya.


"Kak Hasan jangan khawatir! jika kita memang di takdirkan bersama dan berjodoh kita pasti akan bersatu apapun yang terjadi dan dengan cara yang tak terduga." Ucapan Arum sungguh membuat hati Hasan menjadi dingin seperti sebuah oase di padang gurun.


"Kamu benar, Aku akan selalu berdo'a agar kita bisa berjodoh," ucap Hasan.


'Dan Aku juga akan berdo'a agar kedua laki-laki yang memiliki perasaan sama sepertimu bisa melupakan Aku, dan Aku juga berharap akan tumbuh rasa cinta di hatiku padamu Kak,' Arum hanya bisa membatin dengan apa yang dia rasakan tanpa bisa mengeluarkan suara.


Keduanya terdiam hanya keheningan yang tercipta, Hasan kini mulai sibuk dengan ponsel yang dia genggam begitu pula dengan Arum yang sibuk menikmati udara sejuk dan pemandangan indah di kebun teh yang terbentang luas di hadapan keduanya.

__ADS_1


__ADS_2