
Hari terus berganti hingga kini tibalah saat yang paling di tunggu oleh Husein, di mana dia akan mengucapkan ijab kabul dan menghalalkan sang pujaan hati. Sejak tadi malam Husein tak bisa memejamkan mata, rasa kantuk yang biasanya hinggap entar pergi ke mana.
"Hey calon pengantin! kok lecek gitu mukanya," seru Hasan sambil menepuk punggung Husein dan berdiri tepat di sampingnya.
"Aku gak bisa tidur semalam Kak," jawab Husein.
"Ha ha ha ha ...." suara tawa Hasan menggelegar di kamar Husein.
"Kakak kok malah ketawa sih, aku lagi menderita Kakak malah ketawa, seneng banget lihat adeknya menderita," gerutu Husein dengan ekspresi wajah cemberut.
"Bukannya seneng lihat kamu menderita, tapi aku merasa lucu dengan apa yang kamu ceritakan, dulu aja kamu bilang aku gak boleh gugup di suruh biasa aja eh ternyata kamu lebih parah, gak bisa tidur semalam," Hasan menceritakan alasan dia tertawa dan mengingatkan kembali ucapan Husein waktu dirinya hendak menikah dulu.
"Isssh harusnya Kakak bersimpati atau memberiku saran, bukan malah mengingatkanku akan hal yang tidak ada manfaatnya bagiku." Ujar Husein.
"Sudah, hafalkan saja lafadnya! biar nanti tidak sampai mengulang." Hasan menepuk pelan punggung adiknya itu seolah menyalurkan kekuatan yang dia miliki pada Husein.
"Soal itu Kakak jangan khawatir! aku sudah hafal, tinggal berangkatnya saja." Husein begitu percaya diri bisa mengucapkan ijab kabul dengan lancar.
"Ku do'akan semoga apa yang kamu katakan benar terjadi dan tak ada halangan apapun." Satu senyuman manis di berikan oleh Hasan sebelum dia pergi meninggalkan Husein sendiri di kamar.
"Kakak mau ke mana?" seru Hasan yang sebenarnya tak ingin melihat sang Kakak peegi meninggalkannya sendiri di kamar.
"Aku mau bantuin istriku. Dia sibuk menata barang lamaran yang akan di bawa." Jawab Hasan.
"Kak Hasan, di sana pasti sudah ada Umik dan Desy yang membantu, temani aku di sini saja." Cegah Husein.
"Ngapain nemenin kamu? kayak anak TK saja minta di temenin," Hasan malah menggoda Husein.
"Kak aku ngomong serius, jangan bercanda!" Husein mulai emosi melihat sikap sang Kakak yang menggodanya.
"Baiklah, untuk hari ini aku akan menemanimu." Hasan merasa tak tega melihat ekspresi wajah Husein.
__ADS_1
Jika Hasan sedang menemani Husein jauh berbeda dengan Arum yang sedang sibuk memasukkan barang lamaran ke dalam mobil untuk di bawa ke rumah Zahra.
"Desy tolong masukkan yang itu!" pinta Arum seraya menunjukkan satu bingkisan berbentuk sepasang angsa yang di bentuk dari mukenah.
"Baik, Neng Arum," jawab Desy membuat Arum sedikit jengkel mendengarnya, selama ini Arum tak pernah suka di panggil Neng oleh Desy dan yang lain, tapi semua yang mengenal Arum sebagai istri dari Hasan bersi keras tetap memanggilnya Neng.
"Ishhh jangan panggil Neng donk Desy!" keluh Arum.
"Sudah terima saja takdirmu Neng Arum, aku akan menjadi santri yang tidak sopan jika memanggil namamu saja," kekeh Desy.
"Dasar kau ini, kita kan sahabat kenapa harus panggil Neng juga sih," Arum masih saja protes dengan panggilan yang di sematkan oleh Desy.
"Kita memang masih sahabat tapi tetap saja aku gak mau jadi santri tidak sopan," Desy tersenyum manis ke arah Arum.
"Sudahlah terserah kamu saja," menyerah sudah Arum tak lagi mau berdebat dia memilih melanjutkan memasukkan barang ke dalam mobil dari pada melanjutkan perdebatan.
Setelah semua barang sudah masuk dan tertata rapi kini Desy duduk tak jauh dari tempat parkir mobil menunggu anggota ndalem yang lain siap.
"Lagi mikirin apa kamu Desy?" tegur Arum yang baru saja keluar dari dalam ndalem dengan dua botol teh dingin di tangannya.
"Eh Neng Arum," sahut Desy dan Arum yang mendengar sebutan Neng keluar dari bibir Desy hanya bis memutar bola mata jengah.
"Kamu lagi mikirin apa? dari tadi aku lihat kok ngelamun?" Arum masih penasaran dengan apa yang di fikirkan Desy saat ini.
"Enggak ada, aku lagi nungguin kamu dan yang lain gak lagi mikir apa-apa kok," jawb Desy.
Saat ini Desy tak ingin bercerita pada siapapun tentang apa yang dia rasakan, karena baginya perasaan yang sekarang menguasai hatinya bukanlah hal yang baik karena Desy dan Huda jauh berbeda, Desy hanya seorang petani biasa sedangkan Hasan keponakan Umik pemilik pesantren tempat dia menimbah ilmu saat ini.
"Jangan bohong Desy! jujur saja padaku! kali aja aku bisa bantu," desak Arum merasa semakin yakin jika saat ini ada yang di fikirkan oleh Desy.
"Aku jujur Arum, oh ya ngomong-ngomong terima kasih minumannya," Desy berusaha mengalihkan pembicaraan agar Arum tak terus memaksnya.
__ADS_1
"Baiklah, jika nanti kamu punya masalah atau butuh teman curhat jangan pernah sungkan cerita dan datang padaku!" pesan Arum seolah mengerti jika saat ini Desy masih belum siap untuk bercerita.
"Desy, nanti kamu ikut Kan ke acara akad nikah Husein?" pertanyaan Arum membuat Desy merasa begitu lega, karena usahanya mengalihkan pembicaraan agar Arum tak lagi memaksanya untuk bercerita telah sukses.
"Kalau aku terserah Umik saja Neng, kalau di ajak aku ikut kalau tidak aku akan kembali ke asrama." Jawab Desy dengan senyum merekah di bibirnya.
"Tunggu di sini! jangan ke mana-mana sebelum aku datang!" Arum kembali berpesan sebelum meninggalkan Desy di teras untuk menemui Umik.
"Kamu mau ke mana?" Desy tak menyanggupi pesan Arum tapi malah bertanya.
"Udah tunggu aja di sini!" jawab Arum melenggang pergi meninggalkan Desy yang masih setia duduk di tepi teras dan masuk ke dalam rumah.
Arum berjalan mencari keberadaan Umik yang sejak tadi belum terlihat, dia melangkah sambil celingukan mencari keberadaan Umik yang entah ada di mana.
"Mbak Hana!" panggil Arum
"Iya, Neng Arum ada apa?" sahut Hana menghentikan sejenak kegiatannya mengemas barang.
"Mbak Hana lihat Umik tidak?" tanya Arum.
"Umik ada di kamarnya Neng, beliau sedang bersiap." Jawab Hana dengan senyum ramah yang tak pernah sirnah.
"Terima kasih ya Mbak sudah di kasih tahu," ujar Arum seraya pergi meninggalkan Hana menuju kamar Umik.
Tok ... tok ... tok ....
Arum mengetuk pintu kamr Umim pelan, berharap ketukan pintunya tak mengganggu Umik yang ada di dalam.
'Ceklek'
"Arum, ada apa, Nak?" Umik langsung bertanya sesaat setelah membuka pintu.
__ADS_1
"Umik, Arum cuma mau tanya apa Desy nanti ikut nganter Husein ke acara ijab kabul?" Arum langsung memberitahukan maksud dari kedatangannya.