
Arum yang mendengar bisikan Hasan hanya tersenyum, sungguh Hasan menjadi orang yang sangat berbeda saat berada di sampingnya, kesan dingin dan cuek sama sekali tak terlihat.
"Abi, ternyata pintar merayu," ujar Arum.
"Gak juga, Abi pintar merayu Umik, tapi kesulitan merayumu," sahut Hasan.
"Aku bukan orang yang mudah di rayu Bi, jadi berusahalah lebih keras lagi biar aku bisa termakan rayuanmu," cicit Arum sembari mengerlingkan sebelah mata menggoda Hasan.
"Awas kamu ya, entar malem bakal habis sama aku," timpal Hasan sambil tersenyum devil ke arah Arum.
Arum hanya bisa bergidik ngeri melihat senyum devil milik Hasan tanpa bisa membalas atau melawannya, karena Arum tahu dengan pasti jika saat ini apa yang ada pada dirinya seutuhnya milik Hasan.
"Dasar kamu anak nakal," cerocos Umik saat pertama melihat kedatangan Hasan, Umik bulan hanya mengomel tapi juga menjewer telinga Hasan sebagai bentuk protesnya karena Hasan yang terlambat pulang.
"Umik jangan gini! aku malu sama istriku," ujar Hasan dengan ekspresi memelas.
"Biarin, Umik jengkel lihat kamu," sahut Umik yang terlihat belum puas mengomeli Hasan.
"Umik, ini ada brownis cokelat dengan toping keju yang melimpah untuk Umik." Sela Arum yang entah mengapa merasa tak tega saat Hadan di marahi olrh Umik yang notabennya orang tua kandung Hasan sendiri.
"Wah, kamu perhatian sekali, Nak," timpal Umik seraya mengambil brownis yang tadi di tawarkan oleh Arum. Kini wajah Umik sedikit berubah, yang tadinya penuh emosi berubah menjadi sedikit tersenyum.
"Itu aku juga loh yang beli Umik." Celetuk Hasan yang merasa di abaikan.
"Benarkah?" sahut Umik seolah tak percaya dengan apa yang tadi dia dengar.
"Iya, Umik, tadi Kak Hasan juga ikut beliin kok." Arum mengerti dengan kode yang di berikan oleh Hasan langsung memberi pembelaan pada sang suami.
"Baiklah kalian bisa masuk ke kamar untuk meletakkan barang-barang. Setelah itu temui Umik di ruang keluarga!" titah Umik berjalan keluar dari rumah meninggalkan Arum dan Hasan yang masih berdiri di tempat.
__ADS_1
"Baik, Umik," jawab Arum.
"Siap Umik," Hasan ikut menyahuti ucapan Umik.
"Dasar kau anak nakal, selalu saja menyogok Umik dengan brownis." Umik menjewer pelan telinga Hasan saat dia melewatinya. Kemudian berlalu begitu saja tanpa ada rasa bersalah karena telah menjewer puteranya.
"Ampun Umik, Hasan gak janji bakal ulangi lagi." Seru Hasan membuat Arum yang berada di sampingnya sedikit gemas sedang Umik yang sudah terbiasa dengan sikap Hasan saat merayunya agar tak marah justru terlihat acuh.
"Ayo ke kamar!" Hasan langsung menarik tangan Arum untuk mengikutinya masuk ke dalam kamar dan Arum hanya bisa pasrah mengikuti langkah Hasan tanpa bisa memprotesnya.
Kali ini mereka berada di rumah Umik tidak di rumah Hasan, karena acara resepsi yang akan di lakukan berada di halaman rumah Umik dan hampir semua tamu yang datang juga masuk ke rumah Umik jadi rumah Hasan saat ini hanyadi tempati untuk memasak dan menyiapkan hidangan yang akan di berikan pada para tamu.
'Grepp'
Arum baru saja menutup pintu tapi sudah mendapat serangan dari belakang, Hasan yang melihat Arum menutup pintu tanpa memperhatikannya langsung memeluknya dari belakang.
"Syei', makin hari kenapa aku lihat kamu makin cantik ya?" seru Hasan.
"Abi stop ngegombal! kita harus cepat bersiap untuk menemui Umik di ruang keluarga." Arum mengingatkan Hasan agar tak melakukan hal yang berlebihan karena Arum yakin Umik sekarang sedang menunggu mereka di ruang keluarga.
"Sebentar saja, beri aku waktu lima menit!" pinta Hasan.
"Abi, bukannya aku tak mau, tapi aku sangat yakin lima menit yang Abi katakan tidak akan secepat lima menit yang sebenarnya," Arum yang begitu memahami sifat Hasan langsung mengucapkan keraguannya.
"Ta~" ucapan Hasan terpotong karena suara ketukan pintu yang sangat mengganggunya.
"Mas Hasan! Neng Arum!" suara Hana terdengar jelas di telinga keduanya karena musik resepsi sedang di matikan jadi suasana pesantren saat ini masih sunyi.
"Ishh dasar Hana, kenapa ganggu aja sih?" keluh Hasan yang merasa sangat terganggu dengan panggilan dan ketukan pintu yang di lakukan oleh Hana.
__ADS_1
'Ceklek'
Saat pertama kali pintu di buka sudah terlihat wajah masam Hasan yang terpampang jelas di depan mata, sebenarnya Hana ingin tersenyum melihatnya karena Hasan saat ini terlihat begitu lucu, dia lebih mirip seperti seorang bocah yang sedang di larang makan permen oleh sang Ibu.
"Ada apa?" tanya Hasan dengan nada dingin tak bersahabat.
"Maaf jika saya mengganggu Mas Hasan, Umik menyuruh saya untuk memanggil Mas Hasan agar segera menemuinya di ruang keluarga." Hana menjelaskan maksud kedatangannya yang terlihat jelas mengganggu aktifitas Hasan.
"Sampaikan ke Umik sepuluh menit lagi aku ke sana!" jawab Hasan yang langsung masuk kembali ke dalam kamar dan menutup rapat pintu kamarnya tanpa peduli dengan jawaban Hana yang masih setia berdiri di depan pintu.
"Sudah menikah masih belum cair aja itu gunungan es," gerutu Hana yang sejak kecil sering sekali menerima sikap dingin Hasan.
"Siapa Bi?" tanya Arum yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar juga penampilan yang lebih anggun.
"Kamu mandi? kok cepet banget," tanya Hasan yang merasa jika dia hanua sebentar menemui Hana tapi kenapa saat dia masuk ke dalam kamar yang terlihat malah Arum sudah segar dengan baju yang baru.
"Aku tidak mandi Abi, kan tadi pagi sudah mandi. Aku hanya membasuh wajah dan ganti baju saja." Jawa Arum sambil merias diri di depan meja rias yang entah sejak kapan ada di sana.
"Jangan dandan terlalu cantik Syei'! cukup dandan di depanku saja tidak di depan orang lain." Seru Hasan membuat Arum menggelengkan kepala heran.
"Abi sejak kapan ada meja rias di sini? dan siapa yang siapin semua ini? Abi atau orang lain?" Arum yang tak ingin menanggapi ucapan Hasan hanya bisa mengalihkan pembicaraan agar dia tak lagi membahasnya.
"Jangan mengalihkan pembicaraan Syei'! aku kurang menyukai itu," tegas Hasan membuat Arum diam seribu bahasa.
Setelah berucap Hasan langsung masuk ie dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan Arum mengambilkan baju ganti untuknya. Sebenarnya Arum merasa tak enak hati mendengar ucapan Hasan barusan tapi mau bagaimana lagi sudah terlanjur dan Arum hanya bisa diam dan pasrah.
"Abi marah?" sergah Arum saat melihat Hasan baru keluar dari kamar mandi.
"Tidak, hanya saja lain kali jangan di ulangi lagi karena Abi kurang suka," jawaban Hasan cukup membuat Arum bernafas lega.
__ADS_1