Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Huda Ikut Pulang


__ADS_3

"Entahlah Kak, sebentar biar aku tanyakan dulu." Umik berjalan menghampiri Desy yang kini berada di ruang tamu menyambut beberapa tamu yang datang sebagai wakil dari Umik yang baru saja pindah ke ruang keluarga untuk menemui sang Kakak.


"Desy!" panggil Umik sesaat setelah sampai di ruang tamu dan melihat Desy sedang tersenyum mempersilahkan beberapa tamu Umik menikmati camilan yang di sediakan.


"Iya, Umik," sahut Desy mengalihkan pandangannya ke arah Umik yang berdiri tak jauh darinya duduk saat ini.


"Apa kamu melihat Huda?" tanya Umik setelah Desy sudah berada tepat di hadapannya.


"Tadi Mas Huda pergi keluar Umik, katanya ada sesuatu yang ingin dia beli." Jawab Desy.


"Apa kamu tahu ke mana perginya?" Umik kembali bertanya karena merasa belum mendapat jawaban yang dia inginkan.


"Dia bilang mau ke warung karena ada yang mau di beli Umik." Desy memperjelas kepergian Huda.


"Baiklah, terima kasih sudah di kasih tahu," ujar Umik melenggang pergi meninggalkan Desy kembali menghampiri Arif dan Imah yang masih anteng duduk di sofa.


"Bagaimana Dek? apa Hudanya ada?" Imah memang selalu merasa rindu dan ingin bertemu dengan Huda di setiap kesempatan, selain karena rasa sayang yang begitu besar untuk Huda, Imah memang memiliki waktu yang sedikit untuk bersama dengan Huda mengingat puteranya itu sudah kuliah di luar negeri selama beberapa tahun ini.


"Ayah, Ibu!" suara seorang pria yang sejak tadi menjadi topik utama pembicaraan kini telah hadir di hadapan Imah dengan satu kantong plastik kecil yang entah apa isinya.


"Masya allah puteraku, kamu dari mana saja, Nak?" Imah langsung berdiri berjalan dan memeluk Huda dengan eratnya seolah mereka belum bertemu bertahun-tahun lamanya.


"Huda baru pulang dari warung dekat sini Ibu, kemarin aku lihat cemilan kesukaan Ibu di warung dekat sini, jadi hari ini aku sengaja pergi untuk membelinya karena aku tahu Ibu pasti akan datang hari ini." Huda menjelaskan tujuannya pergi ingin membelikan sang Ibu jagung berondong dan jipang makanan kuno kesukaan sang Ibu.

__ADS_1


"Kau lihat Dek, bagaimana aku bisa tenang jika belum bertemu dengannya?" Imah begitu senang dengan perhatian yang di berikan oleh Huda meski harga kedua camilan yang dia bawa tak seberapa rapi tapi Imah begitu senang mendapatkannya.


"Iya, Kak Imah memang beruntung memiliki putera seperti Huda yang begitu perhatian dan berbakti pada orang tua," Umik menyetujui dan ikut memuji putera Imah.


"Puteramu juga sama Dek," sahut Imah membuat keduanya tersenyum bahagia karena memiliki putera-putera yang baik dan berbakti juga perhatian.


"Umik!" Arum yang baru saja masuk bersama keluarga besarnya menyapa Umik yang sedang asyik mengobrol bersama Imah dan Arif sang Kakak.


"Arum, kemarilah!" titah Umik dan Arum yang mendengar perintahnya langsung berjalan menghampiri Umik.


"Ayo Ayah, Bunda kita ikut bergabung bersama yang lain." Ajak Arum.


Bunda Fia bersikap biasa saja meski saat ini dia bertemu dengan mantan yang pernah singgah di hatinya, tapi hal itu berbeda dengan Arif yang terlihat kurang suka saat melihat Arif juga berada di tempat yang sama.


"Fia, Rifki! sini gabung!" ajak Umik yang tak menyadari wajah cemberut Rifki.


Bunda Fia sangat hafal dengab watak sang suami, dan akhirnya dia memilih cara jitu untuk menaklukkan Rifki agar tak lagi cemberut. Bunda Fia meraih lengan sang suami dan duduklebih dekat dengannya.


"Bagaimana kabarmu Fi?" tanya Arif mencoba mencairkan suasana yang terasa begitu menegangkan saat ini.


"Alhamdulillah baik, kalau kabar Kakak dan Kak Imah bagaimana?" Bunda Fia balik bertanya.


"Alhamdulillah, baik," jawab Arif.

__ADS_1


"Kalau udah kumpul kayak gini rasanya aku merasa kembali muda," celetuk Umik.


"Khem," deheman Abi Ilzham mengejutkan Umik dan yang lain.


"Abi, sini gabung!" sambung Umik yang melihat sang suami berada di dekatnya.


"Kalau sudah tua ya tua saja, jangan terus merasa jadi anak muda kasihan yang benar-benar muda jadi kalah sama yang tua, bener kan Kak Arif?" beo Abi Ilzham kurang suka dengan ucapan berasa muda yang keluar dari mulut Umik.


"Bener Dek," jawab Arif sambil tersenyum lucu melihat sikap Abi Ilzham yang tiba-tiba datang dan tak menyetujui ucapan berasa muda Umik.


Obrolan ringan pun terjadi meski awalnya terlihat saling canggung dan kurang suka antara satu dan yang lain, tapi putera dan putri mereka berhasil membuat suasana kembali hangat dan sejenak melupakan jika mereka sedang bertemu mantan mereka masing-masing.


Matahari semakin naik ke atas menunjukkan jika pagi telah berlalu berganti siang, hari ini terasa begitu terik tapi semua itu tak menyurutkan semangat Imah membujuk Huda agar mau pulang bersamanya dan menghabiskan sisa tugasnya di rumah.


"Huda, Ibu harap kamu mau pulang bersama kami kali ini," ungkap Imah dengan wajah melas penuh kesedihan yang sengaja dia tunjukkan di hadapan sang putera agar putera kesayangannya itu mau pulang bersamanya.


"Lusa Huda pulang Ibu, saat ini masih ada beberapa tugas yang harus Huda selesaikan di pesantren." Dengan halus Huda mencoba menolak keinginan sang Ibu.


"Apa tugas itu tidak bisa di kerjakan di rumah saja, Nak?" tanya Imah dengan ekspresi masih memelas.


Huda terdiam sejenak, sebenarnya tugas yang dia maksud memang bisa di selesaikan di rumah, tapi jika dia ikut ke rumah maka dia khawatir tak memiliki waktu untuk mendekati Desy, tapi jika dia tak ikut kasian sang Ibu yang terlihat memelas di hadapannya.


"Baiklah, Huda akan ikut Ibu pulang, tapi Huda akan tetap ke pesantren setiap hari, karena Huda harus menyelesaikan jam ngajar Huda di siang hari." Menyerah sudah, melihat ekspresi wajah Imah membuat Huda tak tega untuk menolaknya kembali, meski begitu Huda terus berfikir bagaimana caranya dia bisa pergi dengan tenang tanpa ada rasa khawatir Desy jatuh kepelukan laki-laki lain. Hingga suara Buya kembali terngiang di otaknya.

__ADS_1


"Kenapa sejak tadi kamu ngelamun, Nak?" tanya Imah, kini ketiganya sudah berada di dalam mobil setelah berpamitan pada keluarga yang lain Imah dan Arif memutuskanuntuk segera kembali pulang.


"Tidak apa-apa, Huda hanya merasa senang bisa punya waktu bersama Ibu dan Ayah," jawab Huda. Saat ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal sepenting itu karena Huda harus menunggu hingga mereka sampai di rumah dan berbicara dengan tenang juga santai tidak di dalam mobil.


__ADS_2