Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Minta Di Suapi


__ADS_3

"Astaghfirullah, aku ketiduran," lirih Desy yang masih bisa di dengar oleh Huda.


"Sudah bangun?" Huda merasa jika tingkah dan ekspresi Desy terlihat begitu lucu dan sikapnya membuat senyum Huda kembali mengembang.


"Maaf, Mas Huda, aku ketiduran," lirih Desy menundukkan wajah mencoba menutupi rasa malunya karena tertidur di dalam mobil.


"Tidak apa-apa, kalau mau lanjut tidur boleh kok, biar aku antar ke kamar yang bisa kamu gunakan untuk istirahat." Ucap Huda enteng tanpa beban, padahal tujuan Desy ikut ke rumah Ummah untuk membantu pekerjaan di sana, tapi dengan entengnya Huda menawarkan kamar agar Desy bisa melanjutkan tidurnya.


"Mas Huda jangan bercanda! aku ke sini mau bantuin Umik kok di surut tidur lagi sih," sahut Desy dengan wajah yang masih menunduk.


"Kalau kamu masih lelah atau ngantuk jangan di paksain, aku bisa gantiin kamu bantuin Umik," akhir-akhir ini kata-kata Huda sungguh mengandung racun yang bisa membuat sialapun yang mendengarnya langsung terbuai.


"Aku tidak lelah dan tidak ngantuk Mas Huda, jadi aku bisa langsung bantuin Umik." Desy yang sejak awal memang sudah berniat untuk membantu Umik tak ingin menyia-nyiakan waktunya.


"Baiklah, ayo turun! kita temui Umik." Ajak Huda dan Desy hanya mengangguk sebagai jawaban.


Keduanya berjalan beriringan masuk ke dalam rumah Ummah dan langsung menemui Umik yang terlihat sibuk menyambut para tamunya.


"Assalamualaikum Umik," sapa Desy sembari meraih tangan Umik dan menciumnya.


"Alhamdulillah kamu datang juga, Nak," ucap Umik penuh rasa syukur, sejak tadi dia menunggu Desy untuk menemaninya menyambut para tamu.


"Maafkan saya Umik, kalau saya terlambat," sahut Desy yang merasa tak enak hati karena dia mengira jika dirinya terlambat.


"Kamu tidak terlambat Nak, sudah sekarang tolong bantu Umik membersihkan sisa makanan para tamu dan mengisi ulang camilan yang sudah habis di dapur!" pinta Umik.


"Baik, Umik," jawab Desy yang langsung melaksanakan apa yang di minta oleh Umik, untung saja hari ini adalah hari Jum'at jadi Desy bisa datang tanpa meninggalkan sekolahnya karena di hari jum'at semua kegiatan belajar mengajar libur.

__ADS_1


"Desy!" panggil Arum yang sedikit terkejut melihat sahabatnya berada di dapur.


"Arum," sahut Desy sejenak menghentikan aktifitasnya memasukkan cemilan ke dalam toples.


"Sejak kapan kamu ada di sini?" tanya Arum.


"Sekitar satu jam yang lalu, kamu dari mana saja baru nongol?" Desy balik bertanya, pasalnya sejak pertama Desy datang dia sama sekali tak melihat keberadaan Arum.


"Dari tadi aku nemenin suamiku yang masih syok dengan kepergian Ummah," jawab Arum jujur.


Sejak pulang dari pemakaman Hasan hanya diam tanpa berbicara dan langsung masuk ke dalam kamar, dan sikap Hasan membuat Arum khawatir akhirnya dia meminta izin untuk menemani Hasan di dalam kamar kepada Umik, karena itulah Umik saat ini hanya seorang diri menerima tamu karena Abi ilzham berada di teras rumah tempat para tamu laki-laki datang.


"Pantesan aku tak melihatmu sejak tadi," ucap Desy.


"Mungkin sebentar lagi aku akan membantumu, suamiku terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya," tutur Arum.


"Amin," sahut Arum melenggang pergi kembali ke dalam kamar meninggalkan Desy yang kini melanjutkan pekerjaannya mengisi penuh toples dengan camilan yang sudah ada di tangannya.


Arum kembali masuk masuk ke dalam kamar dengan sepiring makanan dan teh hangat yang ada di atas nampan.


"Abi, makanlah dulu!" ucap Arum sesaat setelah masuk ke dalam kamar.


"Aku tidak lapar Syei'," sahut Hasan yang masih setia duduk termenung di atas kasur seperti patung tak bernyawa.


"Kalau Abi tidak makan nanti sakit, setidaknya fikirkan aku Bi," ujar Arum mencoba membujuk suaminya.


"Memikirkanmu? maksudnya?" Hasan mulai terpancing dengan ucapan sang istri.

__ADS_1


"Abi boleh bersedih karena kepergian Ummah, tapi Abi harus memikirkan kesehatan Abi, bagaimanapun juga ada aku yang selalu membutuhkan Abi di sini." Arum berucap dengan ekspresi wajah sedihnya berharap sang suami bersimpati dan mau memakan makanan yang dia bawa untuknya.


"Baiklah, Abi akan makan. Sini berikan makanannya!" titah Hasan yang merasa jika apa yang di ucapkan oleh Arum memang benar adanya, saat ini Hasan hanya perlu berdo'a di pusaran Ummah meminta do'a ampunan untuknya.


Hasan mulai memakan satu persatu makanan yang tadi di bawakan oleh Arum. Meskipun rasanya begitu hambar, tapi Hasan tetap memasukkannya ke dalam mulut dan mencoba mengunyah walaupun rasanya sangat sulit untuk menelannya.


Arum langsung tersenyum melihat Hasan memakan makanan yang dia bawa, setidaknya dia masih mau makan untuk mengisu perutnya yang kosong tak terisi sejak pagi.


"Terima kasih Abi," ucap Arum sambil duduk di samping hasan dengan swnyum manis dan tatapan lekat ke arahnya.


"Terima kasih untuk apa Syei'?" tanya Hasan bingung dengan ucapan terima kasih yang di ucapkan Arum.


"Terima kasih karena Abi sudah mau makan demi aku, meskipun aku tahu sebenarnya Abi tak ingin memakannya," jelas Arum maaih dengan senyum manis yang dia tunjukkan.


"Harusnya aku yang berterima kasih padamu Syei', jika tak ada kamu mungkin sampai saat ini aku tidak akan makan dan mungkin saja aku akan sakit karenanya, terima kasih sudah menjadi istriku yang paling perhatian dan pengertian," Hasan meraih kepala Arum dan mencium lembut kening sang istri mencoba menyalurkan segala rasa sayang yang ada di hatinya.


"Abi, habiskan dulu makannya! setelah itu kita temenin Umik dan Abi Ilzham di depan. Kasihan Bi mereka sendirian, oh ya Bi, Buya sama Husein ke mana ya? aku kok gak lihat mereka sejak pulang dari makam," Arum mengungkapkan semua hal yang sejak tadi meresahkan hatinya.


"Husein tadi pergi ke halaman belakang, kalau Buya sama sepertiku Syei', dia butuh waktu menyendiri untuk menenangkan diri dan mengikhlaskan kepergian Ummah," Hasan menjelaskan di mana Buya dan Husein berada.


"Aku mengerti Bi, Buya pasti terpukul dengan wafatnya Ummah, bagaimana kalau setelah ini Buya kita ajak tinggal bersama agar beliau tak kesepian dan sendirian di sini?" usul Arum.


"Nanti kita coba ajak Buya, tapi sekarang bisakah kamu suapi aku?" Hasan menyodorkan piring yang dari tadi berada di tangannya ke arah Arum agar dia mau menyuapinya. Entah mengapa Hasan tiba-tiba ingin di suapi oleh Arum.


"Abi kok tumben minta di suapi segala?" sahut Arum yang merasa bingung dengan sifat manja Hasan yang tiba-tiba muncul.


"Entahlah Syei', aku ngerasa akan jauh lebih nikmat kalau kamu yang nyuapi," jawab Hasan jujur.

__ADS_1


__ADS_2