Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Sarapan Bersama Zahra


__ADS_3

Dengan langkah pasti Husein masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu seperti yang Zahra perintahkan.


"Kak, bagaimana kalau sarapannya di rumah Zahra saja?" tawar Zahra.


"Loh kenapa tidak ke tempat yang sudah di rencanakan?" Husein yang sudah berencana untuk mengajak Zahra makan di tempat favoritnya sedikit kecewa mendengar Zahra yang membatalkan rencana dan mengajaknya sarapan di rumah.


"Tadi Aku sama Mama masak cumi asam manis, kata Kak Zein menu itu adalah menu makanan favorite kakak," tutur Zahra dengan wajah yang bersemu merah karena malu, Zahra keceplosan mengatakan makanan favorit Husein yang menandakan jika dirinya banyak bertanya tentang Husein pada Zein sang kakak.


Berbeda dengan Zahra yang merasa malu, Husein justru tersenyum menanggapi ucapan Zahra, apa yang Zahra katakan menandakan jika dirinya juga punya ketertarikan yang sama dengan Husein.


"Terus Mama sama Kakak kamu ke mana?" tanya Husein yang tak melihat orang lain selain mereka berdua sejak tadi.


"Mama sama Papa masih di kamar, Kak Zein mungkin baru bangun dan masih bersiap-siap. Mereka akan kumpul di meja makan tepat pukul tujuh pagi." Zahra menjelaskan jadwal keluarganya di pagi hari.


Mendengar penjelasan Zahra yang memberitahukan jadwal pagi keluarganya dan mengajak Husein untuk makan bersama Husein memutuskan untuk memerintahkan sang asisten plus supir pribadi yang biasa bersamanya untuk mencari parsel buah sebagai buah tangan yang akan di berikan pada Mama Zahra.


Hanya dengan satu pesan chat mampu membuat Ifan yang sedang bersantai di dalam mobil menunggu sang majikan keluar dari rumah gadis idamannya langsung terjingkat kaget setelah mendapat pesan singkat tapi menyusahkan dari sang majikan yang tak lain adalah Husein.


"Belikan dua parsel buah paling bagus dan paling mahal yang ada di ujung jalan!"


Pesan singkat yang cukup membuat orang lain kelimpungan itu langsung di laksanakan oleh Ifan sebelum Husein sang majikan akan mengomel jika Ifan tak segera menemukannya.


Hanya butuh lima menit untuk Ifan mendapatkan parcel yang di minta oleh Husein, untung saja tempat penjual buahnya tak terlalu jauh dari rumah Zahra dan di sana sudah ada beberapa contoh parsel yang di jual.


"Bos, parselnya sudah ada, saya yang ngantar ke sana atau bagaimana bos?"


Pesan singkat dari Ifan mampu membuat seutas senyum di bibir Husein, asisten barunya itu memang paling bisa di andalkan.


"Zahra!" panggil Husein saat melihat Zahra fokus menatap layar di ponselnya.

__ADS_1


"Iya Kak, ada apa?" sahut Zahra yang langsung mengalihkan pandangannya saat mendengar panggilan dari Husein.


"Aku pergi keluar dulu sebentar." Pamit Husein.


"Loh kakak mau ke mana? lima menit lagi semua keluargaku sudah berkumpul Kak," cicit Zahra dengan ekspresi wajah seolah tak rela jika Husein pergi sekarang.


"Aku hanya ingin pergi ke depan. Mau ambil sesuatu di mobil." Husein yang mengerti maksud dari Zahra langsung menjelaskan maksud kepergiannya dengan senyum yang merekah, apa yang terlihat di wajah Zahra saat ini sudah menunjukkan jika Zahra juga tertarik padanya membuat Husein semakin yakin untuk meminang Zahra nanti.


"Baiklah," pasrah Zahra.


Dengan langkah pasti Husein keluar dari rumah Zahra menghampiri Ifan yang masih setia duduk di mobil menunggu sang majikan.


"Mas Husein," lirih Ifan saat melihat Husein berjalan mendekat ke arahnya.


"Mana parselnya!" Husein menengadahkan tangan meminta parsel yang tadi di pesan olehnya.


"Ini Mas Husein." Ifan memberikan dua parsel yang sudah di belinya ke tangan Husein.


"Tunggu!" cegah Husein sembari mengambil dompet di saku celananya dan mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan.


"Ini sebagai ganti uangmu dan sisanya bisa kamu pakai beli sarapan. Pergilah mencari sarapan! nanti kalau Aku sudah selesai kamu bisa kembali." Titah Husein yang otomatis langsung di sambut dengan gembira oleh Ifan.


"Terima kasih Mas Husein," ujar Ifan yang di tanggapi dengan senyuman dan anggukan oleh Husein, bekerja bersama Husein memang sangat menyenangkan meski dia sering memerintah seenaknya tapi Husein selalu perhatian dan royal pada kariyawannya.


Husein kembali ke dalam rumah Zahra setelah mendapat parsel yang dia inginkan.


"Zahra!" panggil Husein yang melihat Zahra masih duduk di tempat semula.


"Kak Husein, ngapain repot-repot sampai harus bawa parsel segala," cicit Zahra.

__ADS_1


"Ini untuk calon mertua, dan calon istriku." Sahut Husein sembari mengerlingkan sebelah mata ke arah Zahra.


"Terus buat calon Kakak iparmu mana Sein?" suara familiar pengganggu kebersamaan Zahra dan Husein terdengar, siapa lagi yang suka mengganggu Zahra dan Husein jika bukan Zein.


"Hey Bro, udah bangun loe?" Husein yang terbiasa berbicara sedikit kasar tak bisa menahan diri saat bertemu dengan Zein sahabatnya.


"Kalo gue udah di sini itu tandanya udah bangun, loe ngapain bertamu pagi-pagi?" tanya Zein yang kini duduk di samping Zahra sang adik.


"Gue mau nemuin adek loe, rencananya mau gue ajak sarapan di tempat favorit gue tapu adek loe malah ngajak gue makan di sini." Jawab Husein.


"Kamu pinter Dek, jangan mau di aja dia sarapan di tempat yang katanya tempat favoritnya," Zein memberi peringatan.


"Loh emangnya kenapa kok gak boleh Kak?" Zahra yang tak mengerti langsung bertanya.


"Dia sukanya makan nasi jagung, kalo loe ikut bisa-bisa sakit perut nyampek rumah," jelas Zein.


"Loh emangnya kenapa? Adek loe gak bisa makan nasi jagung gitu?" sela Husein yang penasaran dengan penjelasan Zein.


"Yups betul," jawab Zein.


Zein sangat tahu jika sahabatnya itu memiliki selera yang teramat sederhana, nasi jagung lengkap dengan urap-urap dan teman-temannya adalah menu sarapan favorit saat Husein berada di luar rumah, sedangkan Zahra sang Adik tak bisa makan nasi jagung, perut Zahra bisa kembung dan sakit setelah makan nasi jagung.


"Untung kamu bilang Zein, kalau enggak tadi Adekmu udah gue bawa ke warung nasi jagung langgananku." Seru Husein.


"Yang lebih untung lagi gue gak perlu susah paya jelasin ke adek gue tentang itu, karena sia sendiri yang mau merubah rencana untuk makan di rumah." Zein membanggakan Adiknya.


"Sudahlah, dari pada kita bahas nasi jagung lebih baik kita langsung ke ruang makan. Mama sama Papa pasti sudah nunggu di sana." Zahra menengahi obrolan kedua pria yang ada di hadapannya dan mengajak keduanya masuk untuk ikut sarapan bersama.


Langkah Husein yang tadi lebar penuh percaya diri kini mulai menciut saat mengingat jika sebentar lagi dia akan bertemu dengan kedua orang tua Zahra.

__ADS_1


__ADS_2