
"Ini dagingnya Bi." Arum menaruh satu piring daging di samping tempat Hasan duduk.
"Kok satu piring Syei'? kamu gak makan?" tanya Hasan yang merasa heran dengan satu piring daging yang di bawa oleh Arum.
"Makan Bi, Aku kan juga pengen tapi makannya satu piring sama Abi." Jawab Arum enteng, sedang Hasan justru merasa sangat bahagia mendengar jawaban Arum.
"Kenapa semakin hari kamu jadi semakin ngegemesin sih Syei'?" celetuk Hasan seraya mencubit gemas pipi Arum.
"Seandainya kita lagi ada di kamar, sudah ku cium pipimu itu." Sambung Hasan menatap lekat ke arah Arum.
"Sudahlah, ngegombalnya nanti lagi lebih baik kita makan dulu daging ini." Arum menyodorkan satu potong daging ke arah mulut Hasan yang di sambut oleh Hasan.
"Kamu juga makanlah!" Hasan yang baru saja mendapat suapan dari Arum ikut menyuapi Arum. Keduanya terlihat begitu romantis dengan binar-binar cinta yang mulai tumbuh di antara keduanya.
Jika Hasan dan Arum sedang menikmati waktu berdua mereka berbeda halnya dengan Steve yang hanya bisa menatap nanar kedua sejoli yang tengah di mabuk cinta itu.
"Kenapa gue jadi pengen ya?" lirih Steve menatap intens ke arah Arum dan Hasan.
'Plak'
Satu tepukan pelan mendarat indah di bahu Steve mengejutkan lamunannya, "Ayah!" ujar Steve saat melihat sang Ayah malah tersenyum tanpa dosa ke arah Steve sang putera.
"Makanya jangan kerja mulu! cari jodoh biar gak ngenes." Celetuk sang Ayah yang membuat Rifki memutar bola mata malas, sudah kesekian kalinya Ayah Rifki meledek kejombloan yang sedang di alami oleh Steve.
"Aku jomblo bukan karena tidak laku Ayah, hanya saja Aku masih belum menemukan gadis yang tepat untuk ku jadikan teman hidup," jawaban yang sama selalu keluar dari bibir Steve, jawaban yang akan muncul setiap kali sang Ayah meledeknya.
"Jangn terlalu banyak memilih sekalipun kamu menemukan banyak pilihan! karena apa yang menurutmu terbaik bukan berarti benar-benar baik untukmu." Nasehat Ayah Rifki mengisyaratkan sebuah rencana yang tak bisa terwujud karena Steve masih belum mau menerima apa yang Rifki rencanakan.
"Sudahlah Yah, aku tak punya rasa dengan Sherly, jadi percuma saja Ayah menasehatiku karena aku akan tetap pada pendirianku." Ujar Steve yang cukup jengah dengan perjodohan yang Ayahnya rencanakan.
Rifki memang berencana menjodohkan Steve dengan Sherly putri dari sahabatnya di singapura, makanya Rifki memerintahkan Steve untuk berangkat ke singapura menyelesaikan proyek yang dia bangun dengan sahabatnya itu. Selain ingin mengajari Steve berbisnis sebenarnya Rifki juga berniat mendekatkan keduanya, hanya saja Steve dengan tegasnya menolak dengan alasan Sherly bukan gadis yang tepat untuknya dan dia juga bukan tipe Steve.
"Jangan terlalu lama menjomblo! gak baik untuk kesehatan. Lagi pula umurmu juga semakin tua lebih cepat menikah lebih baik." Pesan sang Ayah seraya melangkah pergi meninggalkan Steve yang masih terdiam di tempat.
__ADS_1
'Bukan Aku terlalu pemilih Ayah, tapi Sherly bukan gadis baik seperti yang Ayah kira. Aku ingin mendapatkan istri seperti Bunda yang mengerti dengan agamanya juga menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim.' Batin Steve.
***********
"Zahra,"
Pesan singkat yang langsung terkirim setelah layar bertuliskan kirim telah di sentuh oleh Hasa.
"Iya Kak?"
Cukup cepat pesan Husein di balas oleh Zahra membuat Husein merasa senang.
"Bagaimana jika hari jum'at depan aku pergi ke rumahmu?"
Balas Husein yang masih menyembunyikan maksud kedatangannya ke rumah Zahra.
"Boleh Kak, hari jum'at Kak Zein ada di rumah."
Terang Zahra membuat senyum manis terukir indah di bibir Husein.
Husein kembali bertanya.
"Ada Kak, kebetulan jum'at depan tanggal merah jadi semua keluargaku ada di rumah."
Zahra menjawab pertanyaan Husein tanpa ada sedikitpun rasa curiga atau berfikir yang aneh-aneh.
"Aku ke sana dengan orang tuaku, apa kamu mengizinkan?"
Kini Husein mulai mengatakan apa yang sebenarnya akan dia lakukan.
"Maksudnya Kak Husein apa? kenapa ke rumah sama orang tua Kakak? kok tumben,"
Rentetan pertanyaan langsung terkirim ke ponsel Husein.
__ADS_1
"Aku ingin meminangmu, dan menjadikanmu teman hidupku, apa kamu bersedia untuk itu?"
Husein mengatakan maksud dari kedatangannya bersama kedua orang tuanya.
"Kalau aku meminta sedikit waktu untuk memberi jawaban apa Kak Husein tidak keberatan?"
Zahra yang bingung harus memberi jawaban apa akhirnya memilih untuk meminta waktu untuk menjawabnya.
"Apa waktu yang ku berikan masih kurang Zahra? percayalah niat dan perasaanku tulus dan aku tak pernah main-main,"
Husein memang pernah mengutarakan niatnya kepada Zahra secara langsung tapi Zahra tak memberinya jawaban justru meminta waktu untuk berfikir, jawaban yang sama juga di berikan oleh Zahra saat ini.
"Baiklah, Kakak bisa datang ke rumah. Jika kedua orang tuaku setuju maka Aku juga menerima niat baik Kakak."
Jawaban Zahra benar-benar mengejutkan Husein, dengan keyakinan tinggi Husein membulatkan tekad untuk datang dan meminta Zahra pada orang tuanya.
"Aku akan datang jum'at depan, semoga kamu dan kedua orang tuamu memberi jawaban yang ku harapkan,"
Balas Husein yang masih saja tersenyum senang melihat chat dari Zahra, bagaimana tidak senang Husein memiliki rencana mengajak Ummah dan Buya untuk ikut serta meminta Zahra pada kedua orang tua Zahra.
"Tunggu Aku Zahra, semoga takdir menyatukan kita," untaian harapan terucap dari bibir Husein yang di sertai dengan senyum kebahagiaan yang tergambar jelas di wajah Husein.
Jika Husein sedang berbahagia karena jawaban Zahra dan rencana yang telah di susunnya maka berbeda dengan Zahra yang masih bingung dengan sebuah jawaban yang akan dia berikan, jika kedua orang tuanya menerima niat baik Husein maka mau tidak mau Zahra juga harus menerimanya, sedang saat ini Zahra masih berusaha mendapatkan jawaban yang tepat dari sholat istighoro yang dia lakukan.
"Semoga saja apa yang akan terjadi adalah yang terbaik untukku nanti, jika memang Kak Husein adalah jodohku maka ku harap dia bisa membimbingku menuju surgamu ya Allah," Zahra juga mengutarakan harapannya.
"Zahra!" panggil Mama Rina yang baru saja masuk ke dalam kamar Zahra.
"Mama, sejak kapan ada di sana?" tanya Zahra yang merasa heran dengan kehadiran sang Mama yang tiba-tiba berdiri di belakangnya.
"Sejak tadi Mama ketuk-ketuk pintu kamarmu tapi tak ada sahutan sama sekali, makanya Mama nanya kamu sehat? atau ada sesuatu yang terjadi?" tanya Mama Rina dengan ekapresi wajah cemasnya seraya mengusap pipi sang Putri.
"Zahra tidak apa-apa Mama, hanya saja ada yang ingin Zahra bicarakan sama Mama. Apa Mama punya waktu untuk itu?" Zahra menjawab pertanyaan sang Mama dengan pertanyaan.
__ADS_1
"Kamu mau bicara apa, Nak?" tanya Mama Rina yang kini memeluk Zahra dari samping karena keduanya sedang duduk di kursi ruang tamu.