
Huda merasa begitu bahagia dengan kasih sayang yang tak pernah berkurang ataupun berhenti untuknya, meski usianya tak lagi muda tapi Huda masih saja di sayang dan di manja oleh Neneknya.
"Huda! ada apa kamu manggil Ayah?" suara Arif terdengar mengalihkan perhatian semua anggota keluarga yang sedang duduk di ruang tamu.
"Ayah, Ibu," lirih Huda kembali duduk di tempatnya dengan posisi yang benar.
"Kamu mau ngomong apa, Nak?" Imah mengulangi pertanyaan Arif karena Huda masih saja belum membalasnya.
"Sebenarnya Huda sudah punya seseorang yang ingin aku jadikan teman hidupku," jujur Huda sambil menunduk. Sebenarnya dia sedikit gugup untuk mengatakannya, tapi Huda tak bisa menunda lagi karena tiga hari lagi dia harus meninggalkan tempat kelahirannya dan berjuang mencari ilmu di negeri orang.
"Masya allah, Ibu senang sekali mendengarnya, apa gadis yang kamu maksud itu santriwati yang pernah Ibu temui di pesantren?" celetuk Imah dengan ekspresi wajah berbinar karena bahagia.
"Ibu benar, tapi dia bukanlah gadis dari keluarga berada maupun berstatus sosial tinggi, dia hanya gadis desa biasa dan berasal dari keluarga sederhana, apa kalian semua tidak keberatan akan hal itu?" dengan hati-hati Huda mulai membuka sedikit demi sedikit jati diri sang calon istri.
"Apa tidak ada gadis lain yang status sosialnya sama dengan kita?" tanya Nenek.
"Ada banyak gadis yang berasal dari keluarga berstarus sosial tinggi sama seperti kita, tapi hatiku memilih dia Nenek," jawab Huda.
"Jujur saja Nenek berharap kamu bisa mendapat seorang gadis yang benar-benar tepat dan Nenek harap dia juga keluarganya bisa menerimamu apa adanya bukan karena ada apa-apa," sahut Nenek Huda yang langsung berdiri meninggalkan Huda dan yang lain di ruang keluarga, padahal Huda dan yang lain masih belum selesai bermusyawarah.
Nenek Arif memang masih memiliki rasa sakit yang tersimpan di hatinya meskipun rasa sakit itu hanya sebiji jagung, tapi tetap saja dapat mempengaruhi jalan fikirnya sampai saat ini, kejadian penolakan Arif yang berujung kesedihan bagi puteranya itu membuat Nenek Huda trauma untuk berhubungan dengan gadis yang berasal dari keluarga sederhana meskipun mereka juga berasal dari keluarga sederhana sebelumnya tapi tetap saja rasa sakit itu mengubah pemikirannya.
"Apa ini artinya Nenek tidak menyetujui pilihanku?" tanya Huda dengan hati yang di penuhi kebimbangan juga kehawatiran.
"Bukan tidak setuju Nak, Nenek pasti butuh waktu dan proses untuk mengenal siapa gadis yang kamu pilih itu," sahut Arif yang tak ingin puteranya kecewa.
__ADS_1
"Sudah jangan di fikirkan! Kakek akan membantumu bicara nanti." cicit Kakek Huda yang mulai ikut berkomentar setelah terdiam sejak tadi.
"Terus rencana kamu selanjutnya apa?" kali ini Ibu Huda yang bertanya.
"Aku ingin pergi ke rumahnya untuk mengutarakan niat baikku ini kepada orang tuanya, tapi aku ingin kedatangan dan niatku ini tetap menjadi rahasia bagi siapapun termasuk Desy sendiri." Ungkap Huda yang membuat semua keluarganya terkejut dengan apa yang di utarakan oleh Huda.
"Kenapa harus seperti itu? bukankah akan lebih baik jika kamu bertunangan langsung dengannya?" sahut Imah ekspresi wajahnya kini benar-benar terlihat bingung dengan apa yang di ungkapkan oleh sang putera.
"Aku hanya ingin membuat kejutan sekaligus melihat seberapa sabar dia menungguku kembali, dan sebesar apa perasaan dia padaku Bu," jawaban Huda membuat Imah semakin bibgung.
"Loh, memangnya kamu sama gadis itu sudah resmi pacaran, kamu kok bilang pengen tahu kesetiaan dan kebesaran rasa cinta dia ke kamu," tanya Imah dengan dahi yang mengkerut bingung.
"Dia memang tidak pernah mengatakan perasaannya langsung, tapi aku bisa melihatnya dari tatapan mata dan gerakan tubuhnya saat berada di dekatku, dan satu lagi Bu, beberapa minggu ini aku sudah mendekatinya bahkan kita selalu makan bersama setiap hari." Ucapan Huda sukses membuat Sang Ibu terkejut tak menyangka jika puteranya bertindak sejauh itu, Imah berfikir jika Huda belum melakukan apapun tapi ternyata dia sudah bertindak cukup jauh.
"Ibu gak menyangka kalau kamu bertindak sejauh itu," lirih Imah tapi masih bisa di dengar oleh yang lain.
"Tidak, selagi kamu tidak melanggar aturan agama islam. Ibu hanya kaget saja ternyata gerakan kamu lebih cepat dari yang Ibu bayangkan dan Ibu cukup terkejut karenanya." Ungkap Imah.
"Zaman sekarang kalau lambat keburu di ambil orang Bu," sahut Huda.
"Kamu bener, Nak, sekarang rencana kedepannya bagaimana? apa yang akan kamu lakukan?" tanya Ayah Huda yang sejak tadi hanya diam melihat apa yang terjadi.
"Sekarang aku mau ke rumah Desy Yah, untuk mengutarakan keinginanku, yang ingin meminta Desy untuk ku jadikan istri." Jawab Huda.
"Apa kamu mau berangkat sendiri atau perlu Ayah temani?" tawar Ayah Huda.
__ADS_1
"Sejujurnya Huda ingin Ayah menemani ke rumah Desy, tapi aku tidak pernah kenal ataupun pergi ke sana sebelumnya, apa tidak akan aneh jika kita tiba-tiba datang meminta anak gadisnya?" Huda mengutarakan keraguan yang ada di dalam hatinya.
Ayah Huda sejenak terdiam, berfikir tentang apa yang akan dia lakukan. Hingga sebuah ide muncul di kepalanya.
"Bagaimana kalau kita ke rumah Desy dengan Uqi?" usul Ayah Huda.
"Itu ide yang bagus Mas," sahut Imah.
"Apa tidak akan merepotkan Umik Yah? sekarang pasti masih ada banyak tamu yang datang. Jika Umik menemani kita siapa yang akan menerima tamu yang datang di sana?" Huda mengungkapkan pemikirannya.
"Biar Ayah yang membicarakannya dengan Uqi, sekarang kamu kasih tahu Ayah kapan kamu akan pergi ke rumah gadis itu!" titah Ayah.
"Sebenarnya aku berfikir ingin pergi ke rumah Desy nanti setelag sholat maghrib Yah, karena aku ingin sebelum kembali ke Australia sudah mengikat Desy untuk ku jadikan istri saat aku kembali nanti," Ujar Huda.
"Baiklah, Ayah akan langsung bicarakan hal ini pada Uqi, kamu hanya perlu bersiap-siap untuk nanti." Beo Ayah Huda.
"Terima kasih Ayah," ucap Huda dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
"Aku pergi dulu." Pamit Huda berjalan meninggalkan ruang keluarga menuju kamarnya, beristirahat dan menyiapkan mental untuk meminta Desy nanti.
Arif yang melihat Huda pergi langsung berdiri meninggalkan ruang keluarga menuju kamar untuk menghubungi Uqi sang adik dengan tujuan membicarakan keinginan Huda.
"Assalamualaikum, ada apa Kak?" suara Uqi terdengar dari seberang.
"Dek, jika nanti setelah maghrib aku meminta pertolonganmu apa kamu tidak sibuk?" tanya Arif.
__ADS_1
"Kakak mau minta tolong apa Kak?" tanya Uqi dengan ekspresi penasaran yang terlihat jelas di wajahnya.