
"Dek, aku ingin minta tolong kamu untuk nemenin aku dan Huda meminang seorang gadis apa kamu mau?" jawab Arif.
"Kapan Kak?" Umik kembali bertanya.
"Nanti setelah sholat maghrib," Arif kembali menjelaskan.
"Sebentar Kak, aku mau tanya dulu ke suamiku apa nanti aku bisa pergi," sahut Umik.
Kali ini dia memang harus berunding dengan Ilzham karena acara tahlil akan di adakan selepas sholat isya seperti biasanya, Umik sebagai pemilik hajat seharusnya tak bisa pergi meninggalkan rumah. Tapi mendapat kabar jika sang keponakan telah mendapat tambatan baru dan ingin meminangnya membuat Umik berfikir ulang.
Umik sangat bahagia mendengar kabar jika Huda ingin meminang seorang gadis, karena jika Huda sudah menjatuhkan pilihan pada orang lain itu artinya dia sudah move on dari Arum tak ada lagi perselisihan ataupun rebutan yang akan terjadi karena ketiganya telah memiliki kekasih masing-masing.
"Baiklah, tanyakan dulu pada suamimu! setelah itu kabari Kakak." Titah Arif.
"Siap Kakak." Jawab Umik melenggang pergi menemui sang suami yang terlihat masih sibuk dengan persiapan tahlil yang akan di lakukan nanti malam.
"Abi!" panggil Umik mengalihkan perhatian Abi Ilzham.
"Iya, Umik, ada apa?" tanya Abi Ilzham, sejenak menghentikan pekerjaannya berjalan menghampiri Umik yang berdiri tak jauh dari tempatnya berada.
"Abi, selepas sholat isya' nanti aku ingin pergi menemani Kak Arif untuk meminang seorang gadis apa Abi mengizinkan. Dan apa tidak apa-apa jika aku tak ikut di acara tahlil nanti?" Umik langsung menanyakan semua yang ingin dia tanyakandan berharap Abi Ilzham mau mengizinkan karena sekalipun Umik ada Abi Ilzham selalu melarangnya keluar ataupun menampakkan diri si hadapan para tamu yang semuanya laki-laki, katanya bukan muhrim dan Umik harus diam di dalam rumah sampai acara selesai.
"Alhamdulillah, akhirnya Huda ketemu juga dengan jodohnya," lirih Abi Ilzham yang juga mengerti bagaimana ketiga laki-laki dalam keluarganya mencintai satu orang yang sama, rasa syukur dan lega tergambar jelas di wajah Abi Ilzham baginya kabar yang di utarakan oleh sang istri adalah kabar yang paling baik.
__ADS_1
"Baiklah, kamu boleh ikut meminang seorang gadis untuk Huda, tapi kalau bolehtahu siapa gadis yang berhasil mencuri hati Huda?" kali ini giliran Abi Ilzham yang bertanya.
"Astaghfirullah," sahut Umik yang baru menyadari jika dirinya belum bertanya pada Arif siapa gadis yang akan mereka pinang.
"Kamu kenapa Umik?" apa ada yang salah?" Abi Ilzham yang melihat respon Umik langsung kembali melempar pertanyaan ke arah Umik.
"Maaf Bi, aku lupa menanyakannya tadi," Umik yang menyadari kesalahannya langsung menelfon Arif kembali untuk menanyakan siapa gadis yang akan di pinang oleh Huda.
"Assalamualaikum Kak," ucap Umik sesaat setelah telfonnya di angkat oleh Arif.
"Iya, bagaimana Dek?" sahut Arif dengan ekspresi penuh harap yang tak bisa di lihat oleh Umik karena mereka sedang melakukan pesan suara.
"Aku ikut Kak, suamiku mengizinkan, tapi aku lupa tanya ke Kakak siapa gadis yang akan kita pinang? kenapa harus ngajak aku?" Umik menanyakan apa yang seharusnya dia tanyakan sejak tadi.
"Baiklah Kak, sebentar lagi aku akan ke sana dan kita akan berangkat ke rumahnya." Ujar Umik sambil menutup saluran ponselnya setelah mengucapkan salam.
"Siapa gadis itu Umik?" Abi Ilzham yang sejak tadi berdiri tak jauh dari tempat Umik berdiri langsung bertanya sesaat setelah Umik menutup saluran telfonnya.
"Seperti yang sudah kita tahu Bi, Huda ingin meminang Desy, ternyata dia benar-benar serius dengan ucapannya." Jawab Umik.
"Alhamdulillah, pilihan keponakan kuta tepat Umik," sahut Abi Ilzham membuat Umik bingung, dia langsung mengerutkan dahi saking bingungnya.
"Maksud Abi apa?" tanya Umik.
__ADS_1
"Desy adalah gadis yang baik dari keluarga baik-baik, meskipun dia berasal dari keluarga yang sederhana tapi keluarganya memiliki jiwa sosial yang tinggi dan taat pada agama, intinya aku yakin Huda akan bahagia jika bersama dengannya," jawaban Abi Ilzham membuat Umik langsung tersenyum lega, setidaknya Huda tidak salah pilih untuk hidupnya.
"Tunggu, Abi kok bisa bilang seperti itu? apa Abi pernah bertemu dengannya sebelumnya?" tanya Umik setelah sadar jika sang suami tidak akan berkata tanpa tahu fakta sebenarnya.
"Dia sudah lama jadi santri di sini, tentu saja aku mengenal keluarganya jika tidak mana berani aku meminta pertolongan santri itu saat kamu membutuhkan bantuannya," Abi Ilzham menjelaskan alasannya mengatakan jika Huda akan bahagia bila bersama dengan Desy.
"Loh, jadi Abi izin dulu sama wali santri saat meminta mereka membantuku," sahut Umik.
"Tentu saja Umik, setiap santri memiliki wali dengan sifat yang berbeda-beda, ada yang setuju atau bahkan terkadang meminta untuk menjadikan putrinya seorang haddam yang membantu pekerjaanmu di rumah, tapi tak jarang pula ada wali santri yang enggan bahkan melarang keras anaknya untuk menjadi Haddam, padahal menjadi sorang Haddam itu cukup baik untuk mereka, karena secara tidak langsung mereka yang menjadi Haddam aka terbiasa dengan pekerjaan rumah sehingga saat dia pulang dan lulus dia bisa menjalani kehidupan rumah tangga dengan baik karena kebiasaan membantu dan bersih-bersih saat di pesantren akan mereka bawa saat pulang." Abi Ilzham memberi penjelasan pada Umik hingga dia mengerti dengan apa yang di jelaskan oleh Abi Ilzham.
"Baiklah, aku mengerti Bi, kalau begitu aku pamit pergi dulu." Umik yang sudah mengerti dengan penjelasan Abi Ilzham langsung berjalan melenggang pergi meninggalkan Abi Ilzham yang kembali melanjutkan pekerjaannya.
Umik terlihat begitu bersemangat untuk bersiap dan pergi ke rumah Huda.
"Arum!" panggil Umik setelah siap dia sengaja mencari keberadaan Arum.
"Iya, Umik," jawab Arum.
"Umik ada kepentingan di luar, tolong awasi setiap persiapan dan acara tahlil nanti malam." Pinta Umik sebelum meninggalkan rumah.
"Baik, Umik," jawab Arum tanpa ada perdebatan dan pertanyaan, karena menurutnya jika Umik sudah mengatakan hal penting maka apa yang akan di lakukan Umik pasti sangatpenting.
"Alhamdulillah, Umik pergi dulu." Pamit Umik melenggang pergi meninggalkan Arum yang masih setia berdiri di tempat.
__ADS_1
Perjalanan dari rumah Ummah ke rumah orang tua Umik cukup jauh dan memakan waktu berjam-jam, tepat setelah sholat maghrib Umik baru sampai di rumah orang tuanya, sebuah senyum kebahagiaan bercampur rindu terlihat jelas di wajah Umik, rumah yang menjadi saksi bisu kisah hidup seorang Uqi kini mulai terngiang di ingatan Umik seperti potongan puzzle yang mulai menyatu sungguh sebenarnya dia sangat merindukan rumah dan penghuninya.