
"Mbak Desy!" panghil seorang santri yang baru saja datang menuju kamar Desy.
"Iya, ada apa Mbak?" tanya Desy yang langsung berdiri meninggalkan tumpukan baju yang baru saja di angkat dari jemuran.
"Mbak ini ada titipan dari seseorang," jawab Sang gadis sembari menyodorkan satu kotak kado ke hadapan Desy.
"Dari siapa Mbak?" Desy tak langsung mengambil kado yang di berikan padanya karena dia merasa jika hari ini bukan ulang tahunnya, lagi pula Desy juga tak mengenal siapa pengirim kadonya.
"Kalau gak salah dari Mas Huda, tadi yang ngasih ke Aku Mbak Hana." Jawaban Santri yang membawa kado untuknya sukses membuat mata Desy melebar sempurna, bagaimana tidak terkejut jika mendapatkan kado secara tiba-tiba? apalagi jika kado itu dari seseorang yang menarik hatinya.
"Oh, terima kasih ya Mbak," ucap Desy sembari mengambil kado yang sejak tadi di sodorkan oleh Sang santri.
"Sama-sama, saya permisi dulu." Pamit sang santri beranjak pergi meninggalkan Desy dengan perasaan yang campur aduk setelah mendapat kado dadakan dari Huda.
"Kira-kira apa ya isinya?" lirih Desy sembari menggoyangkan kado yang baru saja di terimanya.
"Wahhh, ada yang baru dapet hadiah rupanya," seru Sinta yang baru masuk ke dalam kamar.
Desy yang mendengar suara Sinta langsung menyembunyikan kado yang sejak tadi di pegang ke belakang punggungnya.
"Ngomong-ngomong kamu dapat kado dari mana?" selidik Sinta yang tahu jika saat ini bukan ulang tahun Desy.
"Rahasia," jawab Desy sembari pergi menuju loker untuk menyimpan kado yang dia pegang agar Sinta tak memaksa untuk membukanya sekarang.
"Ishhh kenapa harus di sembunyiin? Aku kepo nih pengen tahu, buka donk!" Sinta mulai memaksa Desy untuk membuka kado yang tadi di sembunyikan oleh Desy.
__ADS_1
"Kagak ada, udah sono kamu lanjutin kerjaanmu, lipet tu baju-baju sebelum pemeriksaan! sekarang hari kamis kalo kamu lupa itu." Desy mencari alasan jika hari ini adalah hari kamis di mana akan ada pemeriksaan rutin yang akan di lakukan oleh para seksi yaitu para santri yang mendapat tugas untuk kesejahteraan pesantren.
"Kali ini kamu selamat, tapi tidak untuk lain kali dan satu lagi kamu juga harus inget kalau hari ini hari kamis, sembunyiin yang bener tu kado sebelum seksi keamanan menemukannya, dan kamu akan dapat masalah jika kado itu dari kaum adam," Sinta yang tak mau kalah juga mengingatkan Desy dengan kado yang harus dia simpan sebaik mungkin agar tak ada yang tahu.
Desy yang mendengar ucapan Sinta langsung panik, tapi kepanikannya dia sembunyikan karena dia tahu jika Sinta saat ini tengah memancingnya untuk membuka kado bersama agar lebih mudah di sembunyikan jika isinya barang yang dilarang di bawa kedalam pondok putri.
"Kamu tenang saja, nanti bakal aku sembunyikan di tempat yang paling aman," sahut Desy dengan ekspresi wajah yang di buat sebiasa mungkin.
Sinta yang mendengar sahutan Desy langsung melanjutkan pekerjaannya melipat baju yang baru saja di ambil dari jemuran.
**********
Pagi yang indah bagi Husein yang sedang bersemangat menemui gadis pujaan hatinya, siapa lagi jika bukan Zahra, seorang gadis sederhana yang begitu cantik jelita dan kecantikannya bukan hanya di fisik tapi juga hatinya.
"Masya allah Putra Umik tampan sekali, pagi-pagi susah rapi mau ke mana?" tegur Umik yang baru saja melewati kamar Husein dan bertemu dengannya di depan cermin yang biasa Umik gunakan sebelum pergi dari rumah. Cermin dengan ukuran lumayan besar bertengger indah di depan kamar Umik.
"Loh kok main pamit gitu aja, jelasin dulu mau ke mana?" Umik yang merasa curiga dan sedikit aneh melihat Husein yang biasanya akan sangat malas keluar rumah saat hari libur karena merasa lelah dan selalu istirahat di kamar. Tapi kali ini berbeda Husein sudah terlihat rapi dan tampan di pagi hari.
"Hehehe, maaf Umik, hari ini Husein mau ketemu sama Zahra dan mengungkapkan apa yang seharusnya di ungkapkan, maksudnya ahh sudahlah. Umik cukup restui dan doakan Husein supaya benar-benar berjodoh dengan Zahra," Husein yang merasa mulai jatuh hati pada pesona Zahra meminta restu pada sang Umik.
"Restuku selalu bersamamu, semoga Zahra benar-benar jodohmu Nak. Tapi ingatlah untuk tetap menjaga batasanmu. Ingat kalian belum sah!" terdengar ada nada kekhawatiran dalam ucapan Umik.
"Umik tenang saja, pondasi agama Husein insya allah sudah kuat. Jadi Umik cukup do'akan Husein agar selalu berada dalam lindungannya," ujar Husein mencoba membuat Umik tenang.
"Tunggu dulu!" cegah Umik setelah melihat Husein hendak pergi meninggalkannya.
__ADS_1
"Ada apa Umik?" Husein yang mendengar Umik memanggilnya langsung berbalik dan kembali mendekat ke Umim yang masih setia berdiri di depan kursinya.
"Sarapan dulu! baru pergi." jawab Umik yang ternyata hanya meminta Husein sarapan dulu sebelum pergi.
"Husein mau sarapan bareng Zahra Umik," jawaban yang membuat Umik tersenyum.
"Kalau memang begitu hati-hati di jalan dan jangan lupa makan nanti," Umik masih merasa belum puas jika anaknya itu belum sarapan dan langsung bersih menjaganya dengan baik.
"Baik Umik, assalamualaikum," pamit Husein yang langsung tancap gas setelah mendengarkan Umi sudah memberinya izin.
"Waalaikum salam," sahut Umik yang kini masuk ke dalam kamar untuk mengambil barang yang tadi ingin dia ambil.
Husein yang mendapat restu langsung melangkah pergi menuju halaman pesantren menyalakan mobil yang akan dia gunakan untuk sarapan bersamanya.
Dengan kecepatan sedang husein memacu kuda besinya menuju rumah Zahra yang berjarak cukup jauh dari pesantren, tapi Husein tak merasa perjalanan jauh karena jarak tapi Husein beranggapan jika perjalanan kali ini terasa lebih lama dari biasanya karena Husein yang ingin segera bertemu dengan Zahra.
"Assalamualaikum," ucap Husein saat ini dia berada di depan pintu rumah Zahra.
"Waalaikum salam, masuklah!" seutas senyum indah yang mampu memporak porandakan hati Husein kini terlihat, karena Zahra yang membuka pintu dengan senyuman di wajahnya.
'Masya allah, sungguh indah ciptaanmu, alangkah terasa membahagiakan jika aku benar-benar menikah dengan Zahra. Mungkin Aku bisa melihat senyum itu jauh lebihsering dari sekarang,' batin Husein mulai berbicara.
"Kak Husein!" tegur Zahra yang melihat Husein tak kunjung masuk malah tetap berdiri di tempat.
"Eh, iy~iya, ada apa?" sahut Husein yang merasa sedikit malu karena ketahuan sedang melamun di hadapan Zahra.
__ADS_1
"Masuklah Kak!" Zahra mengulangi perkataannya sembari membuka pintu ruang tamu dan mempersilahkan Husein untuk duduk.