
"Imbalan, maksudnya gimana Bi? apa Abi gak ikhlas ngelakuin semuanya?" tanya Arum mengernyitkan dahi bingung mendengar kata imbalan yang di sebutkan oleh Hasan.
"Abi ikhlas kok, hanya saja Abi butuh vitamin untuk melakukannya Lagi, dan anggap saja imbalan yang Abi maksud itu vitamin yang Abi butuhkan. Dan yang bisa ngasih vitamin itu cuma kamu." Hasan menjelaskan imbalan yang dia maksud, memang dasar Hasan punya banyak ide dan cara untuk mendapatkan keuntungan di waktu yang tepat.
"Vitamin lagi," ujar Arum.
"Abi kayak orang anemia aja selalu butuh vitamin," celetuk Arum.
"Aku bukan orang anemia Syei', tapi Aku orang yang ketagihan vitamin yang pernah kamu beri." Jawaban Hasan sukses membuat pipi Arum memerah, sedikit banyak Arum mengerti Vitamin yang di maksud Hasan.
"Baiklah, jika Abi memang butuh vitamin lebih baik sekarang Abi tutup mata dulu!" titah Arum yang langsung di tanggapi dengan senyuman lebar oleh Hasan.
"Baiklah, tapi Abi mintanya di sini." Hasan menunjuk bibirnya.
"Boleh, tapi tutup mata dulu! baru Aku kasih." Ujar Arum.
"Oke, tapi Abi punya syarat jika harus tutup mata." Hasan yang tak ingin rugi dan curiga pada Arum membeti syarat padanya, pasalnya Arum biasanya akan mendebat sebentar atau bahkan nolak jika dia meminta apa yang dia minta, tapi saat ini Arum langsung menyetujui tanpa ada penolakan ataupun perdebatan.
"Syarat apa, Bi?" tanya Arum heran mendengar Hasan yang juga mengajukan syarat padanya.
"Jika kamu kabur maka kamu harus memberimu vitamin sebanyak dua kali." Tegas Hasan.
"Hah? apa? dua kali, kenapa bisa begitu Bi?" sahut Arum yang sedikit terkejut dengan syarat yang di berikan oleh Hasan.
"Karena Abi merasa kamu akan membohongi Abi," jawab Hasan jujur.
__ADS_1
'Kenapa Abi bisa tahu kalau Aku mau bohongin dia?' batin Arum yang berencana untuk kabur setelah Hasan menutup mata.
"Tidak, aku tidak akan membohongi Abi, jangan suudhon dulu Bi, gak baik tahu," seru Arum yang berkilah.
"Aku tidak suudhon hanya berjaga-jaga saja." Ujar Hasan.
Arum yang mendengar ucapan Hasan hanya bisa memutar bola mata malas, Hasan selalu saja bisa menjawab apapun yang di ucapkan oleh Arum.
"Baiklah Aku janji tidak akan kabur, tapi Abi harus tutup mata!" ujar Arum yang membuat Hasan tersenyum selebar-lebarnya.
Tanpa aba-aba atau perintah lagi Hasan langsung menutup mata dengan senyum yang merekah di bibirnya, perlahan tapi pasti Arum mendekatkan dirinya ke arah Hasan dan menempelkan bibirnya sekilas tapi gerakan Hasan lebih cepat dari pada gerakan Arum, dengan cepatnya Hasan yang sejak tadi tak menutup matanya rapat langsung menarik tengkuk Arum dan memperdalam ciumannya.
Hasan memperlakukan Arum dengan sangat lembut, menjelajah setiap inci mulut Arum hingga membuat sang empu terlena, Arum yng awalnya hanya diam kini perlahan mulai merespon dan membalas apa yang di lakukan oleh Hasan. Dengan senyum samar Hasan merasa begitu bahagia mendapat balasan cium dari Arum tapi sedetik kemudian Arum meronta meminta untuk di lepaskan karena Hasan melihat Arum sudah kehabisan nafas.
Keduanya terengah-engah setelah ciuman panas yang mereka lakukan, seutas senyum bahagia terlihat di wajah Hasan sedang Arum terlihat malu-malu dengan pipi merah seperti tomat.
"Manis," lirih Hasan seraya mengusap ujung binirnya yang masih basah.
"Aku membalas ciuman Abi, astaga jantungku mau copot rasanya," lirih Arum yang kini bersandar di pintu kamar mandi dengan tangan yang menempel indah di dadanya.
Jam dinding terus berputar kini waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore, semua keluarga sedang berkumpul menikmati senja di halaman belakang rumah, hamparan sawah dengan semilir angin yang berhembus melambai-lambai seolah ingin mengajak siapapun yang melihatnya menari.
Arum duduk tepat di samping Hasan sedang Steve duduk di samping Oma dan Bunda Fia duduk di samping Rifki sang Ayah.
"Senja kali ini begitu indah," ucap Oma Arum.
__ADS_1
"Iya Bu, warna senjanya terlihat begitu cerah," sahut Bubda Fia.
"Bukan warna senja yang membuat hari ini terasa begitu indah, tapi kehadiran kalian di sini yng memberi keindahan untuk hariku," sahut Oma.
Ucapan OMA Arum sukses membuat semua orang terdiam membisu, sudah bukan rahasia lagi jika Oma Arum merasa kesepian, bahkan sudah berkali-kali Oma Arum meminta Rifki sang anak untuk kembali ke indonesia dan berkumpul bersamanya di sini, sejak kematian Opa Arum hidup Oma begitu sepi apalagi Rifki putera satu-satunya yang dia miliki pergi ke luar negeri bersama keluarganya, sungguh hari tua yang menyedihkan bagi Oma Arum.
"Rifki, apa kamu tidak ingin menemani Ibumu yang sudah tua ini? apa tidak cukup semua yang kamu dapatkan semua ini?" Oma Arum melempar pertanyaan pada Putera semata wayangnya.
Sejak kabar pernikahan Uqi mantan kekasih Rifki yang kini menjadi besannya, Rifki jarang sekali pulang, dia memilih tetap tinggal di luar negeri tanpa ada niat untuk kembali.
"Maaf Bu, tapi Rifki punya tanggung jawab di sana, dan Rifki tak bisa langsung pergi meninggalkan semuanya begitu saja," Rifki memberitahukan alasannya yang tak bisa langsung pergi dari negara yang telah membantunya melupakan cinta yang bukan takdirnya.
"Bukankah kamu sudah punya Steve yang bisa menggantikanmu di sana? kenapa tidak Steve saja yang meneruskan usahamu di sana dan kamu bisa meneruskan usaha Ayahmu di sini." Tutur Oma Arum.
"Steve masih ada kerjaan di singapura Nek," sahut Steve yang tahu jika Ayahnya saat ini tak bisa menjawab pertanyaan sang Oma.
"Setidaknya kalian fikirkan perasaan orang tua ini, apa kalian tidak akan menyesal jika nanti Oma pergi kalian tak ada di sisi Oma?" Oma Arum yang benar-benar merasa kesepian tak lagi punya kata-kata ampuh untuk meluluhkan hati anak, menantu juga cucunya selain kematian yang pasti akan terjadi padanya.
Suasana hangat yang tadi terasa tiba-tiba menjadi hening dan mencekam, semuanya hanya bisa diam tanpa ada yang menjawab atau berkata sepatah katapun.
"Untuk saat ini Aku minta maaf Bu, karena aku masih belum bisa pulang ke rumah, tapi aku akan berusaha untuk segera kembali dan tinggal bersamamu." Rifki yang sebenarnya juga ingin kembali pulang mengungkapkannya pada Oma Arum.
"Aku akan menunggu kalian di rumah." Ucap Oma Arum dengan ekspresi wajah penuh kelegaan juga binar kebahagiaan, apa yang selama ini dia harap dan inginkan akan segera terwujud.
"Oh ya, tadi Arum udah beli bahan buat kita bakar-bakar. Bagaimana kalau sekarang kita siapkan bahannya dan nanti malam kita bakar-bakar juga makan-makan di sini." Arum yang sejak tadi diam karena hanyut oleh suasana hening yang tercipta mencoba mencairkan suasana.
__ADS_1
"Ide kamu bgus jufa Dek, ayo kita siapi. peralatannya!" ajak Steve yang mengerti jika sang Adik sedang berusaha mencairkan suasana ikut mengambil peran seolah dia mendukung apa yang di lakukan oleh Arum.
"Abi, ayo ikut!" ajak Arum meraih pergelangan tangan Hasan agar dia ikut bersamanya pergi ke dapur untuk memberitahukan pada pelayan agar membantu mereka menyiapkan segalanya.