
"Desy ikut, Nak, tapi Umik belum sempat bilang sama anaknya, tolong kamu bilangin ya biar dia juga siap-siap," jawaban Umik membuat Arum begitu senang akhirnya Desy juga ikut mengantar Husein.
Pinangan Huda pada Desy memang di rahasiakan hanya Umik, Abi Ilzham dan kedua orang tua Huda dan Nenek Kakeknya saja yang tahu jika Desy sudah terikat oleh Huda.
"Baik, Umik, kalau begitu Arum pamit dulu mau bilang ke Desy." Pamit Arum melenggang pergi meninggalkan Umik yang kembali masuk ke dalam kamar dan menyelesaikan apa yang sedang dia kerjakan.
Arum melangkah dengan langkah lebar menghampiri Desy yang masih setia duduk di teras menunggu dirinya.
Plak
Satu tepukan mendarat mulus di pundak Desy, membuat sang empu cukup terkejut karenanya.
"Astaghfirullah, Neng Arum! kamu ngagetin aku aja," protes Desy yang merasa terganggu dengan apa yang di lakukan oleh Arum.
"Maaf Desy, aku kelepasan saking senengnya," ujar Arum.
"Kamu senang kenapa? baru dapat hadiah ya dari Mas Hasan, ayo cerita!" desak Desy.
"Hadiah mulu di otakmu itu, aku seneng karena barusan Umik bilang kalau kamu ikut ke acara ijan kabul Husein dan beliau menyuruhku bilang ke kamu," jawab Arum.
"Benarkah aku di ajak?" sahut Desy dengan ekspresi wajah tak percayanya.
"Kapan aku pernah bohong sama kamu? udah sana siap-siap! entar keburu telat di tinggal kamu," titah Arum.
Bepergian bersama keluarga ndalem memang hal yang paling bisa buat santri senang, karena dengan bepergian bersama keluarga ndalem seorang santri bisa keluar dari pesantren sejenak bisa menikmati pemandangan di luar pesantren, tak jarang juga mereka bisa merasakan makan di restauran mewah dan mendapat beberapa makanan enak untuk di bawa kembali ke pesantren.
__ADS_1
Umik memang terkenal sebagai pengasuh yang dermawan, dia selalu membelikan sesuatu pada santri yang ikut pergi bersamanya. Apalagi sekarang Umuk mengajak Desy pergi ke acara ijab kabul Husein, tentu saja Desy merasa sangat senang karenanya.
"Baiklah, aku siap-siap dan ganti baju dulu." Desy melenggang pergi meninggalkan Arum dengan gerakan secepat kilat dia masuk ke dalam area pondok putri dan mengganti bajunya.
Awalnya Desy merasa bingung harus memakai baju apa hingga pandangan matanya tertuju pada abaya yang dulu pernah di belikan Huda waktu mengantar Umik ke butik milik Zahra gadis yang beberapa jam mendatang akan sah menjadi istri dari Husein.
"Baju ini bagus, aku pakai yang ini aja." Gumam Desy sembari menempelkan abaya yang tadi di pegang ke badannya.
"Idihh girang amat, mau ke mana kamu Desy?" celetuk Shinta yang ternyata sejak tadi duduk di pojok kamar tapi tak di sapa bahkan keberadaannya tak di sadari oleh Desy.
"Aku mau ikut Umik ke acara ijab kabul Mas Husein." Jawaban yangs sukses membuat Shinta melongo, sedang Desy tak menghiraukan ekspresi Shinta malah asyik mengganti bajunya.
Di pesantren para santri putri memang biasa ganti baju di dalam kamar, tapi mereka memakai baju dengan pasatan atau sarung sebagai pelindung agar bagian inti mereka tak terlihat.
"Wahh, enak donk, aku juga mau ikut." Sahut Shinta dengan wajah memelas.
"Shinta aku di ajak Umik tapi Umik gak nyuruh aku ajak orang lain, jadi maaf ya aku gak bisa ajak kamu." Tolak Desy.
Biasanya Desy akan mengajak Shinta jika Umik memintanya membawa satu teman lagi untuk menemaninya pergi. Tapi kali ini Desy tak mendapatkan perintah itu jadi Desy tak bisa mengajak Shinta.
"Kaubegitu bungkusin makanan dari sana aja buat aku gimana? kamu bisakan, hm?" permintaan yang mustahil untuk di kabulkan oleh Desy.
"Astaghfirullah Shinta, mana berani aku bungkus-bungkus makanan, kamu kira aku mau ke warung apa pakai bungkus segala," tanggap Desy sambil menggelengkan kepala merasa aneh dengan permintaan sang sahabat.
"Makanan orang nikahan biasanya itu makanan khas yang di masak khusus saat ada acara saja, tapi tak apalah aku masih bisa memakannya nanti saat acara resepsi di sini, yang penting kamu jangan lupa cerita ya bagaimana keadaan di sana ceweknya cantik apa gak ke aku ok!" penyakit kepo yang si miliki Shinta mulai kambuh dan cukup membuat Desy jengah karenanya.
__ADS_1
"Iya, udah minggir dulu! aku gak bisa gerak bebas kalau kamu nempel mulu," Desy menggeser pelan tubuh Shinta yang berdiri di dekatnya.
"Ok, dandan yang cantik ya Desy! kali aja entar habis pulang dari sana kamu dapat jodoh. Kan lumayan tuh bisa nikah muda," celetuk Shinta seenaknya.
"Jodoh gundulmu, aku masih setia menunggu kali Shin," sahut Desy penuh percaya diri.
"Menunggu sesuatu yang tak pasti itu gak baik loh Desy. Mending cari yang pasti-pasti aja biar tenang." Ucap Shinta membuat Desy malas untuk menanggapinya, melupakan seseorang tak semudah saat kita jatuh hati pada orang tersebut, begitu juga yang di rasakan oleh Desy, dia tak mudah melupakan Huda yang kini sudah menguasai hatinya begitu saja karena bagi Desy saat ini Huda sudah menjadi raja di hatinya meskipun Desy tahu dengan pasti jika Huda tak pernah menjanjikan apapun padanya.
Cukup satu dua kata (Tunggu Aku!) sudah membuat Desy untuk menunggunya, meski dia tak tahu kapan Huda kembali atau bahkan dia tak akan pernah kembali, setidaknya doa sudah menunggu meski pada akhirnya mereka tidak bersatu.
"Udah buruan! malah ngelamun, emang kamu gak di tungguin sama Umik," tegur Shinta yang gemas melihat Desy malah melamun dengan bedak tabur yang dia pegang dan belum dia oleskan ke wajahnya.
Desy memang jarang sekali dandan, dia hanya memakai pelembab, bedak tabur dan lipglos, meskipun kulitnya tak seputih susu tapi warna kulit Desy yang kuning langsat plus bibir merah asli tanpa polesan sudah cukup membuatnya terlihat cantik dan manis.
"Astaghfirullah, kamu sih ngomongnya aneh-aneh, fikiranku jadi ikut aneh," bukannya berterima kasih sudah di tegur agar tak terus melamun Desy malah menyalahkan Shinta yang menegurnya.
"Di kasih tahu malah nyalahin kamu Desy, sudahlah aku pergi aja. Percuma juga di sini kamu gak bakal ngajak aku," keluh Shinta melangkah pergi keluar dari kamar meninggalkan Desy yang mengaplikasikan bedak dan lipglos secara kilat.
Desy mempercepat gerakannya, memakai kerudung dengan model sederhana kemudian berjalan cepat pergi ke tempat di mana dirinya tadi duduk bersama Arum.
"Wahh kamu cantik banget Desy," seloroh Arum saat melihat Desy telah rapi.
"Jangan ngeledek Neng! aku gak ada apa-apanya dari pada Neng Arum," sahut Desy.
"Ishhh kok gitu sih Desy," keluh Arum.
__ADS_1
"Karena Neng Arum lebih cantik dariku dan akan terus seperti itu, buktinya Mas Hasan klepek-klepek sama kamu," ujar Desy dengan senyum yang mengembang di pipinya.
"Dasar kamu Desy, bisa aja kalau buat alasan," ujar Arum sambil menepuk pelan lengan Desy.