
Apa yang di kirimkan oleh Huda begitu banyak dan jauh dari kata cukup, malah bisa di bilang lebih dari cukup karena Husa mengirim begitu banyak barang dan kebutuhan dapur yang di kirim oleh Huda.
Huda mengirim satu curigen minyak goreng yang berisi lima liter, lima kilo gula dan berbagai bumbu dapur lain yang mungkin cukup untuk kebutuhan sebulan di rumah Desy, sedang kiriman untuk Desy tak di buka karena menurut Ibu Desy kiriman itu hanya Desy yang berhak membukanya.
"Assalamualaikum," ucap Ayah Desy yang baru saja pulang dari sawah.
"Waalaikum salam," sahut Ibu Desy seraya mencium punggung tangan sang suami.
"Banyak sekali barangnya Bu, punya siapa?" tanya Pak Sulaiman yang tak lain ayah dari Desy.
"Ini kiriman dari calon mantu kita," jawab Ibu Desy.
"Maksud kamu ini semua dari Huda?" Pak Sulaiman mencoba memastikan jika calon mantu yang di sebut oleh sang istri adalah Huda calon suami Huda.
"Bena Yah, ini kiriman dari Huda, tadi asistennya bernama Erwin datang ke sini untuk mengantarkan semua barang ini." Ibu Desy menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Apa ini tidak terlalu berlebihan Bu?" tanya Pak Sulaiman yang merasa tak enak hati dan apa yang di berikan oleh Huda terlalu berlebihan.
"Mau bagaimana lagi Yah? semua ini dia sendiri yang mengirim dan kita sama sekali tak minta apapun, bahkan dia benar-benar menepati ucapannya, semua kebutuhan Desy di pesantren sudah dia penuhi bukan cuma kebutuhan barang uang pun di kirimi sama dia." Ibu Desy menceritakan jika Huda juga mengirim uang dan barang untuk Desy di pesantren.
"Dalam amplop ini berisi uang untuk kebutuhan Desy selama satu bulan di pesantren, dan ini barang-barang kebutuhan Desy di sana, Ibu tidak berani membukanya karena Ibu merasa jika ini bukan hak Ibu." Jelas Ibu Desy menunjuk ke arah dua kardus yang masi tertutup rapat dan berada di samping kursi dan satu amplop berwarna cokelat di tangannya.
"Beruntung sekali putri kita Bu, dia mendapatkan jodoh sebaik dan seperhatian Huda, semoga saja apa sikap Huda terus seperti ini dan dia benar-benar jodoh dunia akhirat putri kita," untaian harapan dan rasa syukur terucap dari bibir sang Ibu.
"Amin, semoga saja Yah," sahut Ibu Desy mengamini do'a sang suami.
__ADS_1
"Ayah, sesuai rencana sore ini kita pergi menjenguk Dedy di pesantren bersama Vina," Ibu Desy mengingatkan rencana yang sudah di susun sejak seminggu yang lalu.
"Kita tunggu Vina pulang sekolah dulu, dan tunggu sebentar!" Pak Sulaiman masuk ke dalam rumah menuju kamar setelah mencuci kaki dan tangannya juga menaruh peralatan sawah yang dia bawa, kemudian mengambil beberapa uang yang sudah dia siapkan sejak seminggu yang lalu untuk mengirim sang putri di pesantren.
"Bu, ini uang untuk peganganmu saja." Pak Sulaiman memberikan lima lembar uang seratus ribuan pada Ibu Desy, jatah Desy dalam satu bulan memang cuma lima ratus ribu untuk makan dan membeli semua yang dia butuhkan selama satu bulan.
"Loh ini bukannya uang yang akan di berikan pada Desy Ayah?" tanya Ibu bingung karena uang yang seharusnya di berikan pada Desy malah di berikan padanya.
"Bukankah Desy sudah mendapat jatah dari Huda? jadi uang itu untuk Ibu simpan biar nanti kalau sudah tiba saatnya hari resepsi Desy kita tidak terlalu bingung mencari biayanya," Pak Sulaiman menjelaskan kenapa uangnya di berikan pada Ibu Desy.
"Baiklah Yah, kalau begitu Ibu akan simpan uang ini," sahut Ibu berjalan masuk ke dalam kamar untuk menyimpan uang yang di berikan oleh sang suami.
'Mulai besok aku akan tabung uang pemberian suamiku agar saat pesta nanti ada uang untuk merayakannya dan aku tidak perlu bingung.' Batin Ibu Desy dengan senyum yang merekah di bibirnya.
Siang terus bergulir hingga waktu sudah menunjukkan jam tiga sore, saatnya Ayah, Ibu dan Vina Adik Desy harus segera pergi ke pesantren sebelum jam berkujung wali santri habis, di pesantren di terapkan jam berkunjung untuk wali santri, jika waktu sudah menunjukkan puku setengah enam kurang sepuluh menit semua gerbang masuk pesantren akan di tutup, karena setelah magrib seluruh santri harus mengikuti kegiatan mengaji al-qur'an hingga waktu isya' tiba.
"Cieee, yang di kirim emak sama Bapak, seneng ni ye ..." goda Shinta yang duduk tepat di samping Desy.
"Iya Donk, kan udah sebulan, mereka pasti datenglah buang liat putrinya yang cantik jelita ini," sahut Desy dengan senyum bahagianya.
"Hadeuch kumat dah narsisnya," timpal Shinta.
"Sekali-sekali narsis boleh donk," ujar Desy seraya membenahi kerudung yang sudah terpasang di kepalanya.
"Udah sono buruan pergi, kasihan emak sama bapak udah nungguin." Usir Shinta dengan senyum yang terlihat di wajahnya.
__ADS_1
"Aku pergi dulu ya beb, entar aku kasih makan gratis." Pamit Desy sambil mengacak rambut Shinta yang baru saja di sisir rapi.
"Aishhh gratis sih gratis, tapi gak usah ngacak rambut juga keles," gerutu Desy yang harus merapikan kembali rambut yang sudah di acak oleh Desy sedang sang pelaku terus saja berjalan dengan langkah lebar pergi meninggalkan kamar menuju balai untuk menemui keluarganya.
Desy dan Shinta memang sering bercanda, terkadang mereka sampai lupa batasan saat bercanda berdua, tapi sampai saat ini keduanya tak pernah bertengkar karena bercanda mereka yang keterlaluan.
"Ayah, Ibu," panggil Desy sesaat setelah sampai di balai pengiriman.
"Desy, kemarilah, Nak!" sahut Ibu Desy.
"Tumben kamu ikut juga, Dek?" tanya Desy saat melihat sang Adik duduk manis di samping Ibunya.
"Aku kangen sama Kakak, emang Kakak gak kangen sama Adikmu yang cantiknya tiada tara ini?" jawsb Vina.
"Ishhh narsisnya, kangenlah, Dek," ujar Desy kemudian duduk di tengah antara Ibu dan Adiknya.
"Bagaimana kabarmu di pesantren, Nak?" tanya Ayah Desy.
"Alhamdulillah, Desy baik Yah, semuanya baik-baik saja dan masih aman terkendali," jawab Desy dengan senyum yang terlihat begitu manis.
"Alhamdulillah jika semuanya masih baik-baik saja," sahut pak Sulaiman.
Ke empatnya larut dalam obrolan dan canda tawa, melepas semua rindu setelah sebulan tak bertemu.
"Desy, ini jatah sebulan untukmu!" Pak sulaiman memberikan amplop cokelat titipan dari sang menantu pada Desy.
__ADS_1
"Ayah, apa Desy boleh bertanya?" Desy tak langsung mengambil amplop yang di ulurkan oleh Ayahnya karena ada hal lain yang mengganjal dalam hati Desy yang ingin di tanyakan sejak sebulan yang lalu.