Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Masih Belum Siap


__ADS_3

"Balga senior high school," Desy, Sinta dan Anggik mengulangi jawaban Arum.


"Iya, memangnya kenapa?" Arum justru bingung melihat ekspresi teman-temannya.


"Itu sekolah di mana tempatnya Arum? Aku kok baru denger." Ujar Desy.


"Di Australia," jawab Arum polos.


"Hah? Australia?" sahut ketiganya yang tampak begitu terkejut mendengar apa yang di ucapkan Arum.


"Kalian kenapa kaget gitu?" tanya Arum yang heran melihat ekspresi terkejut ketiga temannya.


"Kamu pernah sekolah di Australia?" tanya Desy yang kini berubah antusias mendengar ucapan Arum.


"Iya, memangnya kenapa?" tanya Arum lagi.


"Gimana sekolah di sana seneng gak?" tanya Sinta.


"Seneng gak seneng sih, ahh tapi sama aja." Arum bingung menjelaskan bagaimana rasanya sekolah di luar negeri karena dirinya merasa sekolah di indonesia atau di luar negeri sama saja.


"Kok gitu sih? kasih tahu yang jelas donk!" Pinta Desy.


"Di luar negeri atau di sini sama saja Desy, bedanya di sana kurikulumnya lebih tinggi dan teknologi di sana jauh lebih maju. Tapi orangnya sama hanya saja pergaulan di sana lebih bebas, tinggal kita aja bisa membentengi diri atau tidak." Arum menjelaskan semua yang dia rasakan dan tahu.


"Oh, terus gimana kehidupan di sana, seneng gak?" tanya Sinta.


Arum menceritakan suka dukanya hidup di negeri orang, dan ketiga temannya yang memang sama sekali belum pernah keluar negeri, hanya bisa menyimak setiap cerita yang di ceritakan oleh Arum. Dan sesekali berdecak kagum dengan keindahan yang di ungkapkan oleh Arum.


"Seandainya Aku bisa liburan ke sana, Aku pasti akan sangat bahagia." Sinta memejamkan mata membayangkan jika dia berada di tempat yang di ceritakan Arum.


"Iya, Aku juga pasti senang bisa menikmati suasana di sana." Desy juga ikut memejamkan mata membayangkan jika dia ada di tempat yang Arum ceritakan.


Plakk ....


Dua tangan Anggik sukses mendarat di paha Sinta dan Desy yang tengah asyik menghayal.


"Aww ...." keluh Sinta dan Desy bersamaan.


"Apaan sih, sakit tahu," Keluh Desy.


"Tau ni anak, main tabok aja." Sinta yang juga mendapat perlakuan yang sama ikut protes.

__ADS_1


"Kalau kalian pengen ke sana kayak Arum kalian belajar yang giat, jangan malah ngehayal gak jelas kayak gini!" ucap Anggik.


"Kata Anggik bener, kalau kalian pengen bisa liburan ke sana belajar yang giat." Arum juga ikut memberi nasihat pada kedua temannya itu.


Desy dan Sinta hanya bisa tersenyum malu mendengar ucapan kedua temannya. Jam belajar telah usai kini tiba waktunya untuk mengistirahatkan badan melepas lelah setelah seharian beraktifitas.


"Desy," lirih Arum.


"Iya, ada apa Arum?" tanya Desy yang sedang menata tempat untuk tidur.


"Kita tidur di mana?" tanya Arum yang kebingungan melihat Desy menggelar alas untuk tidur.


"Tidur di sini Arum," jawab Desy menunjuk alas yang baru saja di gelar.


"Kamu serius? apa gak ada kasur?" Arum kembali bertanya, menatap ragu ke arah alas yang akan di buat tidur.


"Arum Zeyeng, ini pesantren bukan rumah," celetuk Maya.


Sejak pertama kali Arum datang Maya adalah salah satu orang yang kurang suka dengan kehadiran Arum.


Mendengar celetukan pedas dari Maya, Arum tak bergeming dan sama sekali tak berniat menanggapinya, Arum hanya diam.


"Iya, Arum," sahut Desy berjalan mendekat ke arah Arum.


"Bantalku mana?" tanya Arum polos.


"Loh, kamu gak bawa bantal?" tanya Desy heran.


"Enggak," jawab Arum singkat.


"Harusnya kamu bawa bantal, karena di pesantren itu wajib bawa bantal sendiri." jelas Desy.


"Aku gak tahu kalau harus bawa bantal sendiri," ucap Arum.


"Astaghfirullah, di sini gak ada bantal lebih Arum. Bagaimana kalau kita berbagi aja?" usul Desy.


Dari awal Arum memang tak membawa bantal selain karena tak ada yang memberi tahu, Fia memang berencana membiarkan Arum berada di rumah Umik atau Uqi bukan malah ikut tinggal di asrama seperti santri.


"Tunggu, Aku mau lihat di rumah Umik. Apa udah tutup atau belum pintunya." Ujar Arum berjalan keluar kamar menuju rumah Umik tanpa mendengar penjelasan Desy.


"Ar~" ucapan Desy terpotong karena Arum yang sudah pergi meninggalkan kamar.

__ADS_1


Arum menoleh ke sekeliling terlihat begitu sepi dengan beberapa ruangan yang sudah gelap karena memang sudah waktunya tidur.


Arum mempercepat jalannya menuju rumah Umik, terlihat lampu ruang tamu khusus wali murid sudah padam tapi ruang tengah belum, Arum mengintip lewat jendela samping terlihat seorang laki-laki tengah berdiri di ruang tengah yang masih berjalan.


"Pstt, pstt, psstt ...." Arum memberi kode agar sang laki-laki itu menyadari kehadirannya, dan usahanyapun berhasil.


'Dia siapa ya? Hasan atau Husein?' batin Arum yang nampak ragu, karena jarak yang lumayan jauh juga cahaya tak terlalu terang dari tempatnya yang gelap. Arum tak bisa mengenali orang yang berdiri itu Hasan atau Husein.


Sang laki-laki yang mengetahui kehadiran Arum langsung berjalan mendekat membukakan pintu.


"Ada apa?" tanya Hasan.


Ya laki-laki itu adalah Hasan, saat berada di jarak dekat Arum baru mengenali jika yang di beri kode tadi adalah Hasan.


"Eh Mas Hasan, Aku kira tadi Kak Husein." Ucap Arum tersenyum kikuk.


"Kalau Aku kenapa? terus kalau Husein kenapa? lagian sudah waktunya jam tidur kamu malah ke sini. Memangnya kamu mau ngapain?" tanya Hasan ketus, tersirat rasa cemburu saat mendengar bahwa yang di harapkan Arum Husein bukan dirinya. Tapi Arum tak menyadari itu.


"Gak ada apa-apa, cuma mau numpang tidur di kamar yang kemaren. Apa boleh?" tanya Arum ragu.


"Kenapa mau tidur di kamar yang kemaren? bukannya mau jadi santri yang sesungguhnya?" tanya Hasan.


Pertanyaan Hasan sontak membuat Arum terkejut pasalnya dia tak pernah bercerita atau ngobrol dengan Hasan tapi mengapa dia tahu jika Arum sedng berusaha jadi santri yang sesungguhnya.


"Hey, jangan ngelamun! di tanya kok malah ngelamun," ujar Hasan membuyarkan lamunan Arum.


"Aku masih belum siap, mungkin besok Aku akan mencoba." Ujar Arum dengan senyum yang teramat manis.


'Astaghfirullah, senyumannya bisa bikin hamba lupa diri. Ya Allah boleh gak jika gadis ini ku bungkus dan ku bawa pulang buat guling biar bisa ku peluk.' batin Hasan yang terpesona menatap senyum Arum.


"Mas Hasan!" Arum yang melihat Hasan bengong langsung memanggilnya agar segera tersadar.


"Tadi ngelarang aku ngelamun, sendirinya malah bengong," gerutu Arum.


"Astaghfirullah," lirih Hasan saat sudah sadar dari lamunannya.


"Sudahlah! masuk aja!" Hasan yang tak ingin terjadi sesuatu karena hasutan setan yang berbahaya langsung membukakan pintu, mempersilahkan Arum masuk.


Hasan berjalan di belakang Arum mengikuti langkah gadis itu.


"Mas Hasan kenapa ngikutin Aku?" tanya Arum yang merasa di ikuti oleh Hasan.

__ADS_1


__ADS_2