
Hari yang di tunggu telah tiba, Hasan telah bersiap dengan jas hitam berpadu dengan hem berwarna putih tak lupa peci hitam bertengger indah di kepala Hasan.
Perasaan Hasan begitu campur aduk, memang benar Hasan pernah mengucapkan ijab kabul sebelumnya, tapi ijab kabul yang di ucapkan Hasan hanya di saksikan beberapa keluarga hanya untuk mengesahkan Arum sebagai istrinya di mata agama, tapi hari ini Hasan akan mengucapkan ijab kabul di depan banyak orang bukan hanua keluarga tapi juga semua orang yang mereka kenal.
Saat ini Hasan harus mengucapkan ijab kabul untuk menjadikan Arum sebagai istri sahnya dalam agama ataupun hukum negara, semua persiapan resepsi sudah selesai kini tinggal berangkat menuju rumah Arum.
"Santai Kak, gak udah tegang! bukankah Kakak sudah pernah mengucapkan ijab kabulnya?" seru Husein mencoba menenangkan Hasan yang terlihat gelisa.
"Sudah jangan banyak bicara! kamu belum ngerasain jadi Kakak, entar kalau kamu udah ngerasain baru tahu bagaimana gugupnya aku saat ini," sahut Hasan.
"Hasan, Husein!" panggil Umik saat melihat kedua puteranya malah duduk anteng di ruang tamu sedangkan semua rombongan yang akan ikut ke rumah Arum untuk menyaksikan acara ijab kabul pagi ini telah siap dan menunggu mereka di mobil.
"Iya, Umik," sahut keduanya hampir bersamaan.
"Kalian ngapain di sini? semua orang sudah siap menunggu kalian di mobil." Ujar Umik.
"Maaf Umik," ucap Hasan berjalan menghampiri Umik yang berdiri di hadapan keduanya.
"Sudah cepat masuk mobil! kasihan yang lain sudah cukup lama menunggu." Titah Umik membuat Hasan dan Husein langsung pergi masuk ke dalam mobil setelah menyalami Umik.
Iring-iringan mobil pengantin mulai berangkat menuju tempat acara, dua mobil berisi rombongan pengantin berangkat menuju rumah Arum.
Suasana resepsi yang ramai tiba-tiba hening saat Hasan sudah sampai di tempat akad nikah, hal yang paling membuat Hasan gugup, berada di depan penghulu dengan Ayah Arum yang duduk di sampingnya, suasana benar-benar hening hanya suara lantang Hasan mengucapkan ijab kabul yang terdengar menggema di ruangan dan keheningan berakhir saat satu kata terdengar.
'Sah'
Kini Arum sudah sah menjadi istri Hasan di mata agama dan hukum, usai sesi sungkem dan tukar cincin juga beramah tamah dengan para tamu yang menjadi saksi atas ijab kabul yang telah di ucapkan, Hasan dan Arum pergi beristirahat ke dalam kamar menyiapkan diri untuk acara inti nanti sore.
"Alhamdulillah," ucap Hasan yang langsung merebahkan diro di atas kasur. Melepaskan segala rasa yang bercampur aduk dalam dirinya.
"Mas tidak ganti baju?" tanya Arum yang melihat Hasan tak melepas jas pengantinnya malah merebahkan diri dengan mata terpejam.
__ADS_1
"Capek Syei'," keluh Hasan.
"Memangnya Abi habis dari mana kok capek?" tanya Arum.
Arum sungguh tak mengerti kenapa Hasan bisa capek padahal sejak tadi dia hanya duduk di singgah sana menyaksikan para tamu menikmati hidangan yang telah di sediakan oleh keluarga Arum.
"Aku habis perang dengan rasa gugup dan gelisah saat menyiapkan diri untuk mengucapkan ijab kabul," jawaban Hasan membuat Arum heran, tapi dia tak mau memperpanjang masalah Arum hanya menggelengkan kepala mendengar jawaban Hasan.
"Abi bisa saja," sahut Arum seraya berjalan menuju kamar mandi untuk mengganti baju dan menghapus make up agar bisa menunaikan ibadah sholat dzuhur.
"Syei'! kamu mau ke mana?" tanya Hasan saat melihat Arum meraih handuk dan berjalan menjauh.
"Kamar mandi Bi," jawab Arum tanpa menoleh ataupun menghentikan langkahnya.
"Syei' tunggu! aku ikut." Seru Hasan hendak berjalan menyusul Arum tapi suara ketukan pintu menghentikan langkahnya.
Tok ... tok ... tok ....
"Bunda!" panggil Hasan saat melihat siapa yang mengetuk pintu dan mengganggunya nanti.
"Arum mana?" tanya Bunda saat melihat Hasan membuka sendiri pintu kamarnya tanpa Arum di sampingnya.
"Arum sedang ganti baju Bunda," jawab Hasan.
"Oh, setelah kalian ganti baju jangan lupa ke ruang makan kita makan siang bersama." Pesan Bunda.
"Baik, Bunda," jawab Hasan dengan senyum yang di buat semanis mungkin.
"Baiklah Bunda pergi dulu. Tapi ingat jangan terlalu lama karena hampir semua keluarga sudah menunggu di meja makan." Bunda kembali berpesan.
"Baik, Bunda," jawab Hasan lagi.
__ADS_1
Sudah menjadi tradisi bagi keluarga Arum jika makan mereka harus makan si satu meja sekalipun sedang ada acara. Dan tradisi itu di tetapkan oleh Oma yang selalu merasa bahagia saat semua keluarganya berkumpul di mension.
"Syei'!" panggil Hasan seraya mengetuk pintu kamar mandi menunggu sahutan yang tak kunjung dia dengar, beberapa kali Hasan mengetuk pintu kamar mandi menunggu sahutan dari Arum.
"Iya, Abi, ada apa?" sahut Arum yang baru saja mematikan shower.
"Buruan Syei'! kita sudah di tunggu keluargamu untuk makan siang bersama, barusan Bunda dateng ngasih tahu aku." Jawab Hasan.
"Tunggu sebentar Mas!" setelah mendengar penuturan Hasan, Arum langsung bergegas mengganti baju dan cepat-cepat keluar dari kamar mandi.
"Astaghfirullah," seru Arum dengan ekspresi terkejutnya melihat Hasan yang berdiri tegak tapat di depan pintu.
"Harum Syei'," ucap Hasan santai tanpa terpengaruh dengan ucapan istighfar yang keluar dari mulut Arum.
"Abi, kita sudah di tunggu keluarga yang lain. Bisakah Abi minggir dulu," Arum yang mengerti dengan apa yang akan di lakukan Hasan langsung mengingatkannya untuk segera minggir dan mengurungkan niatnya karena mereka sudah di tunggu oleh keluarga mereka yang lain.
Saat ini Hasan sedang berusaha mendekat menikmati aroma strawbery yang menguar dari tubuh Arum setelah mandi. Tapi niatnya itu harus di urungkan karena keduanya sudah di tunggu oleh anggota keluarga yang lain.
"Baiklah, jangan sholat dulu tunggu Abi, dan tolong siapkan baju ganti untukku!" titah Hasan sebelum masuk ke dalam kamar.
Sebelumnya Hasan sudah pernah menginap di rumah Arum dan meninggalkan beberapa baju untuk dirinya saat menginap di tempat Arum.
"Baik, Abi," jawab Arum yang langsung berjalan menuju lemari memcari baju ganti untuk sang suami.
Lima menit berlalu Hasan keluar dengan keadaan yang jauh lebih segar.
"Abi kenapa pakai handuk yang itu? kenapa gak pakai jubah mandi sih?" protes Arum saat melihat Hasan hanya memakai handuk kecil yang di belitkan di pinggangnya.
"Jangan ditutupi begitu! untuk apa menutup mata seperti itu toh semua ini sudah jadi milikmu, apa kamu mau memegangnya?"Melihat Arum yang menutup rapat wajahnya membuat Hasan tertantang untuk terus menggoda Arum.
"Sudahlah cepat Abi ganti baju nanti masuk angin!" sahut Arum dengan tangan yang masih menutupi wajahnya.
__ADS_1
"Abi gak bakal ganti baju sebelum kamu buka mata," seru Jasan yang kini malah duduk di ujung tempat tidur sambil melipat kedua tangannya di dada.