Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Tak Ingin Berdebat


__ADS_3

Matahari mulai menampakkan sinar terangnya, hawa yang tadinya dingin kini berubah menjadi panas, mendung tak lagi terlihat apalagi hujan yang pasti tidak akan turun jika mendung itu tak ada.


Rasa lapar perlahan mengusik tidur nyenyak Hasan, dia yang sejak tadi berbahagia dalam dunia mimpi kini mulai menggeliat merasa cacing penghuni perutnya sudah protes minta di isi.


"Astaghfirullah, sudah jam sebelas, pantas saja perutku keroncongan," lirih Hasan setelah melihat ponsel yang berada tak jauh dari tempatnya tidur.


Bermain di pagi hari memang membuatnya lelah dan terlelap, Hasan melirik Arum yang masih saja terlelap dalam tidurnya tanpa terusik meski dia sudah beberapa kali bergerak, wajah Arum terlihat begitu lelah dan Hasan sangat mengerti apa penyebab istrinya itu kelelahan.


Perlahan Hasan turun dari ranjang berusaha bangun dengan gerakan begitu pelan agar Arum tak terusik karenanya. Dan benar saja, Arum masih terlelap tanpa bergerak sedikitpun meski Hasan sudah berada di bawah spring bad.


Suara cacing yang sedang berdemo dalam perut Hasan terdengar semakin nyaring membuat sang empu bingung.


"Perutku makin keroncongan, ini pasti efek aku udah ngelewatin sarapan, di tambah tenagaku terkuras karena olahraga tadi pagi," lirih Hasan sambil berjalan ke arah ruang tamu untuk di mana tadi malam terlihat masih ada beberapa makanan yang tersisa.


"Syukurlah, masih ada yang bisa di makan," sambung Hasan.


Dua bungkus roti isi dan satu botol air mineral telah tandas. Berpindah tempat masuk ke dalam perut Hasan.


"Arum pasti akan lapar jika bangun nanti," Hasan kembali bergumam, tapi setelah itu dia langsung menyalakan ponselnya menghubungi Pak Marto sang sopir dan memintanya mencarikan makanan untuk sarapan dirinya dan Arum.


"Assalamualaikum, ada apa, Mas Hasan?" suara Pak Marto terdengar dari seberang.


"Waalaikum salam, Pak Marto, saya mau minta tolong apa Pak Marto sedang sibuk?" sahut Hasan.


"Tidak Mas Hasan, memangnya mau minta tolong apa?" tanya Pak Marto, sebenarnya tadi sebelum Hasan telfon Pak Marto sedang melakukan video call bersama sang istri Hana, mengantar Hasan dan Husein yang notabennya adalah putera dari kiyai yang merawatnya membuat rasa rindu Pak Marto muncul.


Dan saat ini telfon Husein sungguh mengganggunya, meski begitu Pak Marto tak mengeluh ataupun menyesal karena Hasan dan Husein memperlakukannya dengan sangat baik.


"Pak, aku belum sarapan, apa boleh kalau aku minta tolong carikan sarapan dan tolong antar ke kamar." Pinta Hasan.

__ADS_1


"Boleh, Mas Hasan mau sarapan dengan menu apa?" tanya Pak Marto.


"Apa saja Pak, yang penting pakai nasi atau kalau gak ada lontong juga gak apa-apa, jangan lupa Pak ya, bungkusin minumnya juga, dua bungkus teh hangat," pesan Hasan.


"Baiklah, Mas Hasan tunggu saja di kamar! biar Pak Marto ini yang akan mencarikannya." Jawaban Pak Marto sungguh membuat Hasan tersenyum senang.


"Terima kasih, Pak," ucap Hasan sebelum menutup saluran telfonnya.


Sejak bangun tidur senyum Hasan tak pernah luntur meski perutnya terasa begitu lapar tapi hatinya begitu berbunga-bunga, pagi yang begotu indah telah dia lewati bersama Arum, kini dia hanya bisa berharap di dalam rahim sang istri sudah tumbuh seorang bayi yang akan menjadi penerusnya, berbeda dengan Arum yang terlelap di dalam kamar kini perlahan mulai membuka mata, seluruh badannya terasa begitu remuk redam, meski ini bukan yang pertama kalinya tapi mendapat serangan bertubi-tubi dari sang suami membuat Arum begitu lelah.


"Abi, bisa kuat seperti itu makan apa sih?" gumam Arum sambil merubah posisi duduk bersandar di kepala ranjang.


Aeum hanya bisa diam merasakan nikmatnya rasa lelah yang kini menguasai tubuhnya, bersandar di kepala ranjang dengan mata terpejam.


"Sudah bangun Syei'?" suara Hasan mengejutkan Arum yang sedang menikmati rasa lelahnya.


"Iya, Abi dari mana?" sahut Arum sebisa mungkin bersikap biasa saja, tak menunjukkan apapun di hadapan Hasan, Arum justru tersenyum manis seolah dia baik-baik saja meski sebenarnya hal sebaliknyalah yang terjadi.


"Kalau Abi mau mandi duluan, mandilah dulu Bi!" jawab Arum.


"Bagaimana kalau kita mandi bareng? akan jauh lebih menyenangkan kalau kita melakukannya." Usul Hasan.


"Bi, aku masih mau istirahat dan jalan-jalan kalau Abi ngajak mandi bareng yang ada mandinya gak selesai-selesai Bi," keluh Arum dengan wajah melasnya agar Hasan tak lagi mengajaknya mandi bersama yang ujung-ujungnya akan menjadi pertempuran panas d dalam kamar mandi.


"Baiklah, kamu istirahat saja! biar Abi yang mandi lebih dulu." Hasan tersenyum manis sambil mengusap sedikit kasar pucuk kepala Arum sebelum pergi, Hasan benar-benar melakukan apa yang dia ucapkan semalam, Arum di buat susah berjalan dan kelelahan olehnya yang bermain sampai beronde-ronde.


Melihat Hasan sudah berada di kamar mandi Arum kembali memejamkan mata, rasa lapar yang sejak tadi hinggap tak bisa mengalahkan rasa lelah yang saat ini menguasai tubuhnya.


"Hari yang melelahkan," lirih Arum.

__ADS_1


"Syei'!" panggil Hasan setelah sepuluh menit berlalu kini Hasan terlihat jauh lebih segar dan tampan dari sebelumnya.


"Iya, Bi," sahut Arum mengalihkan pandangan ke arahnya.


"Mandi dan berendamlah! aku sudah siapkan air hangat di dalam untukmu." Titah Hasan.


Meski senyumnya tak pernah luntur dan hatinya terus berbunga-bunga karena sudah mendapat jatah double di pagi hari, tapi di sudut hati Hasan yang paling dalam Hassan merasa kasihan dan tak tega melihat Arum seperti sekarang, wajahnya terlihat begitu lelah.


"Terima kasih Bi," ucap Arum seraya mencoba berdiri, kakinya terasa begitu lemas dan sedikit bergetar membuatnya harus bertumpu pada nakas yang ada di samping tempat tidur.


"Apa aku seganas itu Syei'?" pertanyaan anehmuncul dari bibir Hasan membuat Arum menoleh ke arahnya dengan dahi mengkerut karena heran.


"Maksudnya Bi?" tanya Arum.


Tanpa menjawab pertanyaan Arum, Hasan langsung menggendong sangistei yang terlihat lemas itu dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.


"Abi! kenapa mesti di gendong sih? turunin Bi!" protes Arum.


"Maaf sudah membuatmu jadi seperti ini, Abi tadi pagi khilaf, gara-gara semalam di cuekin sama kamu makanya Abi lepas kendali." Jawaban Hasan sungguh tak nyambung dengan pertanyaan bernada protes yang di lontarkan oleh Arum.


"Aku gak pernah cuekin Abi," jawab Arum.


"Sudahlah, jangan di bahas! Abi tak ingin bulan madu kita di hiasi dengan perdebatan." Sahut Hasan yang begitu memahami sifat sang istri.


"Abi mau ngapain?" Arum semakin bingung melihat Hasan yang tak langsung pergi setelah menurunkannya tepat di samping bak mandi, Hasan malah memegang kancing baju Arum.


"Aku mau membantumu melepas baju dan memandimanmu." Jawab Hasan enteng.


"Abi, aku bisa mandi sendiri, lebih baik Abi ganti baju saja sebelum masuk angin," tolak Arum.

__ADS_1


"Baiklah, nikmati berendamnya, Abi pergi dulu." Pamit Hasan melenggang pergi meninggalkan Arum yang kini bernafas lega karena suaminya tak lagi berdebat untuk tetap memandikannya, karena jika itu terjadi maka bukan hanya mandi yang akan di lewati oleh Arum, tapi juga pertempuran panas tadi pagi terulang kembali.


__ADS_2