
Usai makan semuanya berkumpul di ruang keluarga kecuali Ilzham yang harus mengajar di pondok putra.
"Arum mau ikut kelas berapa?" tanya Umik.
"Umik sebenarnya Arum sama sekali tak mengerti dengan sekolah salaf yang Bunda pilihkan. Di Australia Arum tak pernah belajar hal lain selain sholat dan mengaji." Arum menjelaskan kebingungan yang melandanya.
"Bagaimana kalau sementara waktu kamu kursus dulu sama kedua anak tante?" ide brilliant tiba-tiba muncul di benak Uqi.
"Ide bagus itu Umik, Aku siap kok ngajarin kamu ilmu salaf." Sahut Husein yang sejak tadi ikut nimbrung memperhatikan setiap hal yang di bicarakan oleh kedua wanita tercantik menurutnya.
"Husein kamu akan mengajari ilmu fiqih dan tauhid, sedangkan kamu Husein mengajari ilmu nahwu." Umik memutuskan kedua anaknya harus mengajari Arum ilmu salaf.
"Maaf Umik, untuk satu bulan ke depan Hasan sibuk di kantor jadi biarkan Hu ...." ucapan Hasan terpotong oleh ucapan Umik.
"Tak ada bantahan! sesibuk apapun kamu harus bisa mengajari Arum ilmu nahwu karena kamu ahlinya di ilmu nahwu, soal waktu biar Arum ke kantor setiap jam makan siang untuk mengantarkan makan dan belajar ilmu nawu di sana." Keputusan Umik sudah bulat, sebebarnya Uqi dan Fia sepakat menjodohkan Arum dengan Hasan, dan ini salah satu cara Umik mendekatkan keduanya.
Umik yang mengerti sifat Hasan khawatir jima nanti Hasan tidak akan mendapatkan pendamping, meski Uqi percaya jodoh itu sudah di atur oleh allah tapi tetap saja Uqi khawatir. Hasan yang selalu bersikap dingin pada orang lain terutama wanita membuatnya tak punya satu teman wanitapun, sungguh sifatnya berbeda dengan Husein yang terlihat sengklek dan ramah yang membuat dia di kagumi banyak wanita.
"Aku juga bisa ngajarin dasar ilmu nahwu Umik." Husein yang mendengar jika Arum akan mengantar bekal makan siang setiap harinya dan belajar di kantor merasa sefikit risih, dia takut Arum akan jatuh cinta pada Hasan.
"Kakakmu jauh lebih baik di bidang ilmu nahwu, jadi tak ada lagi bantahan atau tawar menawar." Tegas Uqi yang tak mau mendengar lagi pembicaraan soal pembelajaran Arum.
__ADS_1
Mereka bertiga terdiam setelah mendengar keputusan Uqi dan fokus menatap layar, hingga semuanya kembali ke kamar masing-masing saat acara yang mereka lihat telah selesai.
Uqi masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri, kemudian bersiap menyambut sang suami pulang dari mengajar. Uqi berfikir untuk membiarkan Arum berada di rumahnya sebulan ke depan, setidaknya sampai Arum mengerti tentang Ilmu salaf. Uqi khawatir jika Arum mendapat bully atau semacamnya jika dia benar-benar tak mengeeti ilmu salaf.
Uqi terus saja memikirkan keputusan apa yang akan dia berikan nanti, hingga Uqi tak menyadari jika Ilzham telah masuk ke dalam rumah.
Greeeppp ....
Pelukan hangat Ilzham mengejutkan Uqi yang tengah duduk di tepi ranjang.
"Astaghfirullah," ucap Uqi terkejut mendapat pelukan tiba-tiba.
"Kamu lagi ngelamun apa Sayang," Ilzham akan merubah panggilannya saat sedang berdua saja.
"Ngapain kamu mikirin anak Rifki? kamu masih berharap sama dia?" tanya Ilzham dengan nada ketus.
'Astaghfirullah, ni orang udah tua juga masih saja cemburuan' batin Uqi, memutar bola matanya jengah. Tapi sedetik kemudian Uqi berdiri menghadap ke arah Ilzham. Sikap dan cara berpakaian Uqi tentu saja bisa membangkitkan gairah Ilzham dan meluluhkan kecemburuannya, pasalnya saat ini Uqi tengah memakai linggerie berwarna cream dengan hiasan renda di dadanya membuatnya semakin terlihat cantik menghoda.
"Sayang, bagiku Rifki hanya bingkaian masa lalu dan kamu adalah suami sekaligus kekasihku di masa sekarang juga masa mendatang." Ucap Uqi yang kini duduk di pangkuan Ilzham sambil mengusap lembut dada Ilzham.
Semakin hari Uqi semakin pintar menggoda dan memanjakan suaminya dan itulah salah satu alasan Ilzham tak bisa berpaling ataupun menerima wanita lain di hidupnya, bagi Ilzham Uqi sudah lebih dari apa yang pernah dia harapkan.
__ADS_1
"Kenapa semakin hari kamu semakin pintar menggoda Sayang?" tanya Ilzham yang kini memejamkan mata menikmati sentuhan tangan istrinya yang sudah nakal masuk ke dalam baju Ilzham, merayap dan mengusap-usap manja di sana.
"Aku harus pandai menggodamu, sebelum kamu tergoda oleh yang lain." Jawab Uqi yang kini meletakkan kedua tangannya di leher Ilzham, menatap lekat wajah Ilzham yang mulai membuka mata perlahan.
Dan Cup ....
Satu kecupan manis mendarat di wajah Uqi, perlahan namun pasti Ilzham memulai perang penghasil kenikmatan. Mengajak Uqi terbang ke atas awan melayang menikmati setiap sentuhan yang dia berikan.
"Inilah Surga yang paling indah di dunia, dan Aku harap bisa terus bersamanya di akhirat nanti." Ucap Ilzham sambil mencium kening sang istri sesaat setelah pergulatan panas yang terjadi.
"Sayang mandi yuk!" Ilzham menggendong istrinya yang masih berbaring memperhatikan Ilzham.
"Gendong," pinta Uqi dengan nada manja mengangkat kedua tangan seperti balita yang meminta gendong ibunya.
Tanpa perlu menjawab Ilzham langsung mengangkat tubuh sang istri masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri bersama meski terjadi lagi pergulatan panas yang baru saja selesai di atas kasur, Uqi tak protes justru menikmati apa yang Ilzham lakukan.
"Semakin hari kamu semakin membuatku candu, dan Aku tak akan pernah bisa berpaling atau melirik yang lain karena kamu selalu mengalihkan pandanganku." Ujar Ilzham mencium lembut punggung polos Uqi yang tersiram air shower.
Mereka tengah berada di bawah guyuran air shower, kulit Uqi yang putih mulus semakin terlihat menggoda saat tersiram air membuat Ilzham tak bisa menahan diri untuk tak melakukannya lagi dan lagi. Hingga ke duanya lelah dan mengakhiri peperangan, beranjak keluar kamar mandi dan merebahkan diri di atas kasur menuju alam mimpi melewati gelapnya malam.
Apa yang terjadi di kamar Uqi dan Ilzham jauh berbeda dengan apa yang terjadi di kamar milik Fia dan Rifki. Saat ini Fia tengah merenung seorang diri menahan rasa rindu pada putri tercintanya, mengingat Fia begitu dengan dengan Arum putri kecil yang kini telah tumbuh dewasa.
__ADS_1
"Semoga kamu baik-baik saja di sana, Bunda akan selalu mendoakanmu, Nak." lirih Fia.
"Sayang, biarkan Arum belajar agama agar dia lebih mengerti apa sebenarnya arti hidup ini." Rifki yang baru saja datang dan mendengar ucapan Fia langsung berjalan mendekat memeluk Fia yang tengah berdiri di ujung balkon, Rifki memeluk erat Fia dari belakang. Wanita yang dulu pernah di tolaknya kini menjadi wanita paling berarti dalam hidupnya.