
"Tidak apa-apa, Nak, ayo masuk ke asrama! biar Ibu bantu membawakan barang-barangnya." Ajak Ibu Desy yang kini berjalan masuk ke dalam pesantren dengan satu kardus makanan di tangannya.
Desy merasa begitu bahagia dan bersyukur untuk rezeki yang dia dapatkan hari ini, rezeki yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya.
"Sini, biar Ibu bantu merapikannya!" ujar Ibu Desy mengambil alih kardus tempat menyimpan makanan kemudian menata berbagai jenis dan merek makanan yang ada di dalam kardus yang dia bawa.
"Masya allah Ibu, cemilannya banyak banget? apa ibu tidak kewalahan waktu membelinya?" tanya Desy dengan ekspresi heran yang tergambar jelas di wajahnya.
"Tidak, kamu syukuri saja apa yang ada dan jangan berfikir yang macem-macem!" jawab Ibu Desy.
"Baik, Bu," sahut Desy, meski sebenarnya ada banyak tanya yang bergelayut di benaknya tapi Desy tak bisa bertanya lagi, karena jawaban Ibunya barusan sudah menegaskan jika Desy tidak di izinkan untuk bertanya kembali.
Cukup lama Desy bersama kedua orang tuanya, melepas rindu setelah hampir sebulan tak bertemu, Desy memang biasa di jenguk satu bulan sekali, tapi hari ini ada banyak sekali perbedaan yang terjadi, mulai dari banyaknya barang yang di bawakan oleh kedua orang tuanya dan uang saku yang terbungkus rapi di dalam amplop cokelat.
"Kenapa aku merasa aneh dan ada yang beda ya?" lirih Desy yang hanya mampu di sengar olehnya.
Kini Desy sudah berada si kamar setelah berpamitan pada kedua orang tuanya. Perlahan tapi pasti Desy membuka amplop cokelat yang di berikan oleh sang Ibu, dan betapa terkejutnya Desy saat melihat isi yang ada di dalamnya.
"Masya allah banyak sekali," spontan Desy saat melihat uang lembaran seratus ribu berjumlah lima belas lengkap dengan kartu makan untuk satu bulan.
'Ibu tumben ngasih kartu makan? biasanya aku beli sendiri' batin Desy semakin bingung di buatnya, dia hanya mampu menatap lekat kartu makan yang ada di genggamannya saat ini.
"Kamu kenapa Desy?" tanya Shinta.
__ADS_1
Shinta baru saja masuk ke dalam kamar dan melihat Desy duduk termenung sambil memegang kartu makan di tangannya. Insting seorang sahabat langsung muncul dengan langkah pasti Shinta mendekat dan duduk di samping Desy.
"Eh, sejak kapan kamu ada di sini Shinta?" bukannya menjawab Desy malah balik bertanya.
"Barusan, kamu itu kenapa? dari tadi aku lihat bengong aja," Shinta merasa belum puas karena Desy belum menjawab pertanyaannya.
"Oh aku gak apa-apa, kamu sudah makan? atau hari ini kamu di kirim sama orang tuamu?" Desy mencoba mengalihkan pembicaraan sambil menyimpan kembali uang dan kartu makan yang tadi di pegang ke dalam kantong abaya yang dia pakai.
"Sejak kapan aku di kirim hati jum'at? kamu lupa ya kalau aku di kirim setiap hari minggu," jawab Shinta.
"Sorry aku lupa, eh aku baru aja di kirim gimana kalau kita makan bareng?" usul Desy.
"Boleh, ayo makan!" Shinta selalu saja merasa semangat untuk ikut makan saat Desy di kirim makanan dari rumah, katanya masakan Ibu Desy sangat lezat dan Shinta sangat menyukainya.
"Mbak Fika!" panggil Desy pada salah satu anggota kamarnya.
"Ini ada makanan tolong berikan pada anggota kamar yang lain ya." Desy memberikan satu kantong plastik berisi nasi dan beberapa lauk pauk yang Ibunya siapkan untuk di makan bersama teman sekamar Desy yang lain. Dan satu kantong plastik lagi untuk makan Desy dan Shinta.
"Terima kasih Mbak Desy," ucap Fika mengambil alih makanan yang tadi di berikan padanya.
"Sama-sama," jawab Desy kemudian melenggang pergi meninggalkan Fika bersama Shinta menuju Aula belakang untuk menyantap makanan yang sudah di bawakan oleh Ibunya.
"Eh tumben Ibu kamu bawain ayam panggang Desy, padahal aku lebih suka menu yang biasanya," celetuk Desy.
__ADS_1
"Entahlah, aku sendiri juga bingung, kiriman kali ini benar-benar berbeda dari biasanya," jujur Desy.
Biasanya Desy akan di kirim sayur kelor pecel tempe sama ikan asap, meski terkadang Desy juga di kirim ayam tapi tak sebanyak sekarang. Menu sayur kelor dan pecel tempe juga ikan asap adalah menu favorite Desy yang kini juga menjadi menu favorite Shinta.
Shinta yang notabennya berasal dari keluarga selalu di kirim dengan menu-menu di restauran atau warung makan, seperti ayam panggang dan nasi padang, sangat berbeda dengan menu yang biasa di kirim orang tua Desy karena itulah Shinta selalu bersemangat ketika di ajak makan oleh Desy saat dia mendapat kiriman.
"Apa kamu tidak suka dengan menunya?" tanya Desy.
"Bukan tidak suka Desy, tapi aku lebih suka menu yang biasanya Ibu kamu bawakan, ahh kalau pulang nanti aku pasti bakal main ke rumah kamu dan makan menu yang biasa di masak oleh Ibumu," jawab Shinta.
Sebenarnya Desy mengerti kenapa Shinta begitu menyukai menu yang biasanya Ibu Desy bawakan, tapi Desy juga tidak bisa protes pada sang Ibu dengan apa yang telah di berikan padanya.
"Sudahllah, kita syukuri saja apa yang ada sekarang, ayo makan!" Desy yak ingin pembicaraan keduanya semakin memanjang dan melebar, maka dari itu dia memilih untuk mengajak Shinta makan tanpa banyak bicara lagi.
Sebenarnya apa yang Desy terima saat ini adalah kiriman khusus dari Huda, sebelum pergi dia sempat menyuruh asisten pribadinya untuk datang bertamu ke rumah Desy. Memberikan sejumlah uang dan camilan yang telaj di bungkus rapi untuk di berikan pada Desy.
Huda juga tak lupa memberikan makanan dan uang untuk adik juga orang tua Desy dengan ucapan yang halus agar tak menyinggung perasaan mereka. Huda beralasan memberikan semuanya sebagai tanda jika dirinya benar-benar serius ingin menjadi menantu dari keluarga Desy.
"Desy, terima kasih ya makanannya," ujar Shinta setelah keduanya makan dengan lahap dan kenyang.
"Sama-sama, kamu pakai terima kasih segala kayak makan bareng siapa aja," seru Desy.
"Tetep aja aku harus berterima kasih padamu, masakan Ibumu memang enak, bukan hanya menu biasanya ayam panggang yang Ibu kamu buat juga berbeda dengan ayam panggang yang biasa aku makan." Puji Shinta.
__ADS_1
"Kamu bisa aja Shin, padahal menurut aku apa yang di bawakan oleh orang tuamu juga enak," Desi ikut memuji orang tua Desy.
"Kalau yang orang tuaku bawakan memang enak karena mereka membelinya bukan memasaknya sendiri, dan kau tahu memasak sendiri dan membeli di warung itu rasanya beda, lebih enak masakan rumah karena ada cinta di dalamnya," ujar Shinta, dan Desy hanya menggelengkan kepala heran mendengar ucapan Shinta. Di saat kebanyakan orang hanya bisa mendapat kesempatan sekali atau dua kali untuk menikmati hidup makan di warung ataupun restauran Shinta justru lebih suka masakan rumahan.