Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Keberangkatan Huda


__ADS_3

Hari terus berganti meninggalkan setiap kejadian menjadi sebuah kenangan, apa yang terjadi saat ini akan menjadi pelajaran di hari esok dan apa yang akan terjadi hari esok akan menjadi sebuah hasil dari apa yang kita kerjakan saat ini.


Pagi ino adalah pagi terberat dalam hidup Huda, berbeda dengan kepergiannya sebelum mengenal Desy, kini ada rasa yang tertinggal dan ada ragu yang mulai menjalar.


"Kamu kenapa, Nak?" tanya Imah, merasa aneh dengan Puteranya, sejak tadi Huda hanya terdiam menatap kosong ke depan.


"Entahlah Bu, aku merasa berat untuk pergi kali ini," jawab Huda jujur.


"Apa rasa itu karena Desy?" tebak sang Ibu.


"Mungkin Bu," Huda kembali menjawab sang Ibu dengan jawaban apa adanya.


"Nak, percayakan semuanya pada takdir, ingatlah jika takdir hidup ini sudah tertulis sebelum kita lahir, dan kamu harus percaya jika Desy memang jodohmu maka kalian akan bersatu bagaimanapun caranya," Imah kini memahami perasaan yang sedang menyelimuti hati Huda, dan Imah hanya bisa menasehati tanpa bisa memaksanya untuk yakin dan tak terlihat ragu lagi.


"Ibu benar, aku akan usahakan untuk tetap tegar dan yakin." Sahut Huda mencoba meyakinkan diri untuk tetap pergi tanpa ragu dan penuh keyakinan.


Imah saat ini merasa sedih bercampur bahagia, perasaannya begitu campur aduk mengingat sang putera akan pergi. Sedangkan di sisi lain dia begitu bahagia melihat binar cinta di wajah Huda, berbeda jauh dengan ekspresi wajah Huda saat pertama kali datang dan mengetahui pernikahan Arum dan Hasan, ada gurat kecewa dan kesedihan yang mendalam di wajah Huda meski sudah di tutupi tapi ekspresi itu tetap saja masih terlihat.


Jika Huda sedang bersiap untuk segera pergi ke bandara dan terbang ke Australia, maka Desy di pesantren juga sedang sibuk membantu Umik menyiapkan diri untuk segera pergi mengantar Huda. Sebelumnya Umik dan Imah sudah membuat janji untuk mengajak Desy mengantar Huda sampai ke Bandara dan sesuai dengan apa yang sudah di sepakati keduanya akan bertemu di Bandara nanti.


"Sudah selesai Umik," tutur Desy setelah merapikan kerudung Umik.


"Terima kasih, apa kamu sudah siap? atau mau siap-siap dulu? ada waktu sepuluh menit untuk bersiap sebelum pergi." Tawar Umik.


"Tidak Umik, Desy sudah siap," Desy menolak tawaran Umik dwngan nada lembutnya.


"Baiklah kalau begitu kita langsung ke depan saja. Husein sudah menunggu sejak tadi." Ajak Umik.

__ADS_1


"Baik, Umik," sahut Desy sambil melangkahkan kakinya mengikuti langkah Umik yang lebih dulu berjalan meninggalkan rumah menuju halaman di mana Husein sudah menunggu setelah memanasi mesin mobil yang akan di pakai.


Husein terlihat begitu santai duduk di teras tak jauh dari mobil yang masih menyala mesinnya, dia tengah asyik memainkan gawai yang berada indah di tangannya.


"Husein!" panggil Umik mencoba mengalihkan perhatian sang putera agar menoleh ke arahnya.


"Umik sudah selesai?" sahut Husein setelah mematikan gawai yang sejak tadi dia mainkan kemudian berdiri menghampirinya.


"Sudah, apa mobilnya sudah siap untuk di pakai?" tanya Umik ketika melihat mobil yang akan di pakai masih menyala belum di matikan.


"Sudah Umik, kita tinggal berangkat saja, ayo naik!" jawab Husein.


Umik dan Desy masuk ke dalam mobil dan bersiap untuk berangkat menuju Bandara mengantar Huda.


Husein dan Umik memang sudah berencana mengantar Huda bersama Desy, tapi Hasan dan Arum tak bisa ikut, begitu pula dengan Abi Ilzham yang masih mengurus rumah dan menemani Buya di rumah Ummah.


Desy masih terdiam duduk di samping Umik tanpa tahu ke mana dia akan pergi. Sejak kemarin Umik hanya memberitahukan jika Desy harus menemaninya bepergian tanpa memberitahu ke mana. Meski terasa begitu aneh karena biasanya Umik akan selalu memberitahukan Desy ke mana mereka akan pergi tapi Desy dengan penuh ketawadduk'annya pada sang guru hanya mengiyakan dan mempercayakan semuanya pada Umik.


"Ayo turun!" ajak Umik memberi tanda jika Desy harus membuka pintu.


"Mari turun Umik," sahut Desy setelah membuka pintu mobil dan turun.


"Maaf sebelumnya Umik, apa boleh saya bertanay?" sekuat tenaga Desy mengumpulkan keberanian untuk bertanya pada Umik.


"Silahkan, kamu boleh bertanya apa saja!" jawab Umik.


"Sebenarnya kuta mau ke mana Umik?" tanya Desy.

__ADS_1


Umik sejenak tersenyum melihat ekspresi bingung di wajah Desy, "Kita mau ngantar Huda kembali ke Australia." Jawab Umik masih dengan senyum yang merekah di bibirnya.


'Jadi Mas Huda mau kembali ke Australia?' batin Desy.


Entah mengapa mendengar jawaban Umik membuat sudut hati Desy yang paling dalam terasa di cubit dan sakit, perasaannya kini mulai campur aduk dan tak bisa dia definisikan, apa yang harus dia lakukan saat ini?


Ingin rasanya Desy pergi berlari menemui Huda dan memeluknya sembari mencegah kepergiannya, tapi Desy tak bisa melakukan hal itu karena sia sadar jika dirinya bukanlah siapa-siapa, tapi Desy juga tak bisa membohongi perasaannya sendiri, sebuah rasa yang kini sudah tumbuh dan berkembang dalam hatinya tanpa bisa dia kendalikan.


"Desy!" tegur Umik saat melihat Desy hanya terdiam mematung di depannya tanpa bergerak sedikutpun.


"Eh, iya Umik," sahut Desy.


"Kamu kenapa? apa kamu baik-baik saja? atau kamu lagi sakit?" Umik langsung membrondongi Desy dengan berbagai pertanyaan.


"Tidak, Umik, Desy baik-baik saja," jawab Desy singkat menutupi segala kesedihan dan rasa yang bercampur aduk dalam hatinya.


"Kalau begitu ayo masuk!" ajak Umik menggandeng tangan Desy dan mengajaknya masuk ke dalam Bandara. Dari kejauhan terlihat Hudan dan keluarganya sedang duduk di ruang tunggu keberangkatan, hati Desy semakin tersayat tatkala melihat huda berdiri dengan satu. koper yang dia bawa di tangan kiri dan satu jaket tebal di tangan kanannya.


Saat ini Huda terlihat jauh berbeda dari biasanya, Huda yang sering terlihat memakai baju kokoh kini terlihat lebih trendy dengan baju kasual yang dia pakai, tapi hal itu tak membuat Desy terpukau karena ke kaguman itu masih kalah dengan rasa sedih yang menjalar dalam hari Desy.


"Baru dateng Dek," sapa Imah.


"Iya, Kak," sahut Umik.


Huda baru saja menyadari kehadiran Desy yang berdiri tepat di samping Umik hanya bisa terdiam mematung menatapnya, sebenarnya apa yang dia rasakan sama seperti apa yang di rasakan oleh Desy saat ini, tapi sekuat tenaga Huda harus menekan perasaannya dan menutupinya agar Desy tak menyadari hal itu.


"Umik!" sapa Huda meraih tangan Umik dan mencium punggung tangannya.

__ADS_1


"Hati-hati di negeri orang, dan jangan lupa untuk pulang tepat waktu!" pesan Umim setelah membiarkan Huda mencium punggung tangannya.


"Selamat berjuang Kak, jangan lupa untuk kembali!" celetuk Husein yang kini berdiri di samping Huda sembari merangkul pundaknya.


__ADS_2