
Makan malam bersama kali ini terasa begitu berbeda, selain kehadiran Zajra sebagai anggota baru di ruang makan juga terdapat Desy yang kini berstatus calon anggota baru.
"Desy!" panggil Imah.
"Iya, Neng, ada apa?" sahut Desy berjalan mendekat ke arah Imah yang berdiri tak jauh dari tempat Desy berdiri.
"Desy, setelah menata semuanya, ikutlah bergabung bersama kami dan duduklah di sampingku!" titah Imah dengan senyum ramah yang kini sering muncul di hadapan Desy.
"Maaf, Neng, bukannya tidak mau, tapi apa tidak masalah jika saya ikut makan bersama?" tanya Desy, menatap ragu ke arah Imah yang justru merasa semakin lucu dengan sikap Desy.
"Dek!" panggil Imah.
"Iya, Kak, gak apa-apa, Desy, bergabunglah bersama kami untuk makan bersama!" sahut Umik.
Sikap Imah dan Umik membuat keempat anak dan menantunya merasa aneh dan curiga, mereka berfikir pasti ada sesuatu yang terjadi hingga sikap Umik dan Imah begitu mengistimewakan Desy sebagai santri.
"Baik, Umik," Desy yang mendengar Umik dan Imah menyuruhnya untuk ikut bergabung akhirnya memilih untuk menurutinya tanpa ada perdebatan lagi.
Desy merasa begitu canggung dan nervous berada di tengah-tengah keluarga besar Umik saka sudah mampu membuat dirinya sport jantung, apalagi saat ini Desy makan bersama keluarga besar Umik di tambah Imah dan Arif yang baru saja datang.
"Assalamualaikum," ucap Arif yang baru saja sampai di dapur.
"Tumben telat, Mas?" tanya Imah merasa heran dengan keterlambatan Arif untuk menjemputnya, biasanya Arif selalu tepat waktu setiap kali memiliki janji dengannya.
"Tadi macet banget, gara-gara ada pohon tumbang, jadi aku telat," jawab Arif dengan ekspresi wajah letihnya.
"Tidak apa-apa, Kak, lagi pula makan malamnya juga belum di mulai," Sahut Umik.
"Duduklah dulu, Mas!" pinta Imah.
Arif yang mendengar perintah Imah berjalan mendekat ke arah meja makan dan bergabung bersama keponakannya.
__ADS_1
"Ini Zahra?" tanya Arif beralih menghadap ke arah Zahra yang duduk di hadapannya.
"Iya, Om, saya Zahra." Jawab Zahra.
"Panggil Pak de saja Zahra! jangan panggil Om! udah tua, Dek," sela Husein sedikit geli menswngar Zahra memanggil Om pada Arif yang biasa di panggil Pak De olehnya.
"Isshh, kau ini keponakan gak pengertian, kenapa mesti di larang? padahal panggilan Om juga masih pantas untukku yang terlihat begitu tampan dan muda ini," bela Arif.
"Khem, udah tua gak usah macem-macem!" suara Imah mengalihkan perhatian yang lain.
"Istri kamu cantik, Husein," ujar Arif mencoba mengalihkan topik pembicaraan agar Imah tak lagi menyahuti percakapannya dan menghindari perdebatan yang berujung pertengkaran.
Pada dasarnya seorang laki-laki terkadang mengalah bukan karena takut pada pasangannya, tapi seorang laki-laki memilih diam dan mengalah karena tak ingin bertengkar ataupun berdebat dengan pasangannya demi keharmonisan dan kedamaian rumah tangga mereka.
"Dia punyaku Pak De." Tegas Husein dengan ekspresi wajah seriusnya.
"Astaghfirullah, aku hanya memuji Husein, lagi pula istriku akan terlihat jauh lebih cantik dari siapapun, dan aku tidak berminat untuk berpaling apalagi merebut milik keponakanku sendiri," sahut Arif sambil geleng kepala mendengarkan ucapan Husein yang terdengar menegaskan jika Zahra hanya miliknya dan tak ada satupun yang bisa mengambilnya dari Husein.
"Desy, duduklah di sampingku!" titah Umik yang sengaja menyuruh Desy duduk di sampingnya dan berhadapan dengan Imah.
"Baik, Umik," jawab Desy duduk di samping Umik yang kini duduk di tengah.
Imah tersenyum senang melihat Desy duduk di hadapannya bersama keluarga yang lain, kini dia tengah membayangkan jika sang putera juga ada di sini sekarang, dan senyum Huda terbayang di wajah Imah.
"Dek, ambilkan aku makan! jangan melamun terus!" Arif mencolek lengan Imah yang terlihat melamun.
"Astaghfirullah, maaf Mas, aku melamun," spontan Imah.
"Mas, mau makan yang mana?" tanya Imah dengan satu piring yang sudah ada di tangannya.
"Apa saja, yang penting kamu yang ngambilkan." Jawab Arif.
__ADS_1
Satu keluarga ini memang memiliki laki-laki yang romantis dan setia dan itu sudah menjadi tradisi yang tak di sadari.
"Coba rasakan makanan buatan calon menantu kita! rasanya enak Mas," bisik Imah membuat Arif mengerti jika sang istri melamun tadi membayangkan hal yang berhubungan dengan Huda.
"Bagaimana keadaan Huda sekarang di Australia, kak?" tanya Umik yangs sengaja ingin melihat reaksi Desy saat mendengar nama Huda di sebut.
"Alhamdulillah, dia baik," jawab Imah.
"Kapan dia akan pulang?" Umik kembali bertanya.
Desy yang mendengar nama Huda di sebut langsung terdiam sambil menunduk, jantungnya begitu berdebar-debar meski sebisa mungkin Desy menetralkan perasaannya tetap saja jantungnya tak mau berhenti berdebar.
"Huda masih belum memberitahu aku kapan dia akan pulang, saat ini yang aku tahu dia sedang berusaha keras untuk menyelesaikan skripsinya agar bisa cepat lulus dan menikahi gadis pilihan hatinya." Imah menjelaskan semua rencana dan apa yang di lakukan oleh Huda.
Sedang Desy yang mendengar Huda akan menikahi seorang gadis langsung menoleh menatap ke arah Imah, sontak saja sikap Desy membuat Imah ingin tertawa lucu, tapi bagaimanapun Imah masih harus menyembunyikan tawanya.
"Wah, kamu sudah punya calon menantu?" tanya Umik yang langsung ikut bersandiwara sambil melirik Desy yang terlihat masih diam tertegun menatap Imah.
"Kalau kalian terus bahas calon mantu terus kita kapan makannya?" sela Arif merasa sedikit jengah dengan kelakuan Adik dan istrinya.
Semua anggota keluargapun makan dengan tenang, tak ada lagi suara yang terdengar hanya dentingan sendok menggema di dalam ruangan.
~
Malam semakin larut membuai setiap insan ke dalam mimpi yang penuh dengan keindahan sementara juga terkadang memberi kesedihan tiba-tiba. Tapi berbeda dengan Desy yang masih saja terjaga di dunia nyata yang penuh misteri.
'Apa Mas Huda beneran udah punya gadis pilihannya sendiri? terus apa maksud dia menyuruhku menunggunya kembali?' batin Desy terus saja memikirkan pertanyaan-lertanyaan yanh muncul di benaknya karena ucapan Imah yang tak lain Ibunda Huda.
Saat ini Desy berada dalam dilema yang tak berujung, logikanya ingin melupakan semua yang telah terjadi. Memulai hidup baru agar bisa tenang dan tak lagi memikirkan sesuatu yang masih belum pasti.
Tapi apalah daya Desy yang telah terlanjur jatuh hati pada sosok Huda yang memberikan perhatian dan tanpa sadar masuk ke dalam hatinya, semuanya terasa begitu sulit saat hati mulai ikut andil dalam bagian kehidupan Desy. Hatinya tak bisa lagi di kendalikan apalagi di ajak kompromi agar tak lagi memikirkan Huda yang masih belum pasti benar mencintainya atau hanya memberikan harapan palsu.
__ADS_1