Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2

Cinta Seindah Senja Di Pesantren Season 2
Kedatangan Bunda Fia


__ADS_3

Mengapa harus ada air mata jika cinta itu jauh lebih indah, sepenggal kata yang terus terngiang di benak Huda, mengingat rindu yang semakin menyesakkan jiwa, rindu pada sang gadis yang kini tengah pergi memperdalam agamanya.


Sekuat tenaga dan berusaha sebisa mungkin Huda berusaha untuk menahan segala perasaan yang bergejolak dalam jiwanya, entah kapan sang gadis akan kembali pulang dan bisa bertemu dengannya. Setelah kepergiannya waktu itu sedikitpun tak ada kabar tentang dirinya jangan sebuah telfon bahkan sepucuk surat pun tak pernah dia dapatkan.


"Huda!" panggil salah satu dosen yang membimbing Huda.


"Yes, sir," sahut Huda.


"Bulan depan ada pertukaran pelajar berprestasi antara salah satu mahasiswa di sini dan di luar negeri, apa kamu mau jika saya mengajukanmu untuk pergi?" tawar sang dosen.


"Kalau boleh tahu di mana sir?" tanya Huda dengan ekspresi penuh tanya pada Dosen yang sebenarnya orang indonesia hanya saja dia bekerja dan menikah dengan orang Australia jadi dia menetap di sana bekerja sebagai dosen.


"Indonesia," jawab sang dosen seolah mengerti jika Huda tengah merindukan kampung halamannya, Husein hanya pulang sekali dalam setahun. Dia begitu fokus dan serius menyelesaikan kuliahnya, Huda yang sebenarnya sekolah di sana lewat jalur beasiswa juga di tuntut untuk bisa mempertahankan nilainya.


"Saya mau sir," tanpa banyak berfikir Huda langsung menyetujui tawaran sang dosen, entah di indonesia sebelah mana dia akan di tugaskan, yang dia tahu saat ini dia akan pulang dulu ke negara tercinta setelah itu baru dia fikirkan lagi.


Berbeda dengan rencana Huda yang akan kembali ke indonesia untuk sebuah tugas, Arum justru tengah cemas dengan apa yang akan terjadi esok hari.


Besok adalah hari yang paling mendebarkan bagi Arum, setelah perdebatan panjang dengan sang Bunda yang membuat Arum harus mengalah dan menuruti keinginannya.


Pagi itu adalah pagi yang cukup berat untuk Arum, awalnya dia begitu bahagia mendengar jika Bundanya datang berkunjung, dengan kecepatan penuh Arum berjalan menuju balai di mana Bundanya sedang menunggu.


"Bunda!!" panggil Arum dengan senyum yang mengembang melihat sang Bunda sedang duduk manis di balai biasa tempat orang tua menjenguk putera puterinya.


"Arum," sahut Bunda Fia merentangkan tangan dan memeluk sang puteri.


"Bunda kapan sampai? kok gak ngabari Arum?" tanya Arum yang masih memeluk erat sang Bunda.


"Bunda baru saja sampai, tadi Bunda langsung ke sini setelah sampai di bandara." Tutur Bunda Fia dengan senyum yang mengembang, perlahan Bunda Fia melerai pelukannya dan mencium kening Arum yang merupakan anak perempuan satu-satunya yang dia punya karena anak Fia hanya ada dua.


"Duduk Bunda." Ajak Arum

__ADS_1


Keduanya sedang asyik mengobrol sesekali terdengar suara tawa di bibir Arum dan Sang Bunda.


"Sayang, kamu sudah makan belum?" tanya Bunda Fia, sedang Arum yang di tanya hanya bisa menggelengkan kepala tanda jika dia belum sarapan.


Melihat ekspresi Arum Bunda Fia langsung mengambil ponsel menghubungi sang sopir dan memintanya membelikan sarapan untuk Arum dan dirinya.


Tepat lima menit setelah Bunda Fia menelfon datanglah seorang sopir dengan satu kantong kresek di tangannya.


"Nyonya ini makanan pesanan anda." Sang sopir memberikan saru kantong kresek ke arah Bunda Fia.


"Terima kasih Pak," sahut Bunda Fia sembari mengambil satu kantong kresek yang di berikan padanya.


Keduanya begitu menikmati sarapan pagi yanh di belikan oleh sopir.


"Sayang kamu masih ingatkan jika tanggal dua besok adalah hari pertunanganmu?" ujar Bunda Fia setelah menyelesaikan suapan terakhirnya.


"Masih Bunda," jawab Arum datar, tak ada ekspresi apapun yang dapat di baca di wajah Arum karena saat ini Arum benar-benar tak merasakan apapun, hatinya yang masih belum yakin ataupun memiliki perasaan lebih pada Hasan membuat Arum pasrah, sudah berkali-kali dia melaksanakan sholat istighara demi menemukan jawaban pasti atas apa yang akan dia pilih tapi tak ada satupun yang berhasil memberinya petunjuk.


"Apa kamu tidak menyetujui usulan dan rencana yang telah Bunda susun Sayang?" Bunda Fia yang tak melihat ekspresi apapun di wajah Arum membuatnya begitu bingung hingga pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulutnya.


"Alhamdulillah kalau kamu menerimanya, hari ini Bunda datang untuk menyusulmu. Kita berangkat bersama." Bubda Fia mengutarakan niatannya datang ke pesantren.


"Iya, Bunda," jawab Arum sembari berdiri menuntun sang Bunda masuk ke dalam pesantren.


"Prosedur izin di sini seperti apa Sayang?" tanya Bunda Fia.


"Biasanya anak santri kalau mau pulang pamit dulu ke Umik, Bunda." Jawab Arum.


"Wahh kalau Bunda ke sana pasti heboh," ujar Bunda Fia.


"Kok heboh kenapa Bunda?" tanya Arum yang bingung dengan ucapan Bunda Fia.

__ADS_1


"Sudahlah lihat nanti kamu akan tahu," jawab Bunda Fia yang kini mengikuti langkah Arum menuju kamar putrinya itu.


Usai menyiapkan beberapa barang yang akan di bawa pulang Arum langsung pergi menuju rumah Umik untuk berpamitan.


"Assalamualaikum Umik," ucap Arum yang masih setia berdiri di depan pintu.


"Waalaikum salam," sahut Hana sambil membukakan pintu untuk Arum.


"Mbak Hana apa Umik ada di dalam?" tanya Arum.


"Ada Mbaksilahkan masuk!" Hana mempersilahkan Arum dan bundanya masuk ke dalam rumah.


Keduanya kini sedang duduk di ruang tamu menunggu Umik yang masih belum muncul juga.


"Ada ap~" perkataan Umik seketika terputus setelah melihat siapa yang sedang duduk di samping Arum.


"Masya Allah Fia, kapan kamu datang?" Umik langsung menghampiri Fia dan memeluknya melepas rindu pada sahabatnya itu.


"Baru saja, sudah lepas dulu! engep tahu," keluh Fia yang merasa sedikit sesak dengan pelukan yang dia tetima.


"Bagai mana kabarmu? kamu ke sini sama siapa?" dua pertanyaan langsung muncul dari bibir Arum membuat Fia tersenyum, sahabatnya ini tak pernah berubah meski kini statusnya telah berubah.


"Satu-satu kalo nanya, kabarku baik dan Aku ke sini sendiri, kabarmu bagaimana?" Bunda Fia menjawab sekaligus bertanya tentang kabar Umik.


"Alhamdulillah kabarku baik," jawab Uqi.


"Eh Aku baru aja buat kolak kacang hijau, kita makan bareng yuk!" ajak Umik.


"Aku udah kenyang, baru aja selesai sarapan bareng Arum." Tolak Fia.


"Sayang sekali padahal selain kolak kacang hijau juga di campur durian loh," Umik mengiming-imingi Bunda Fia yang memang begitu menyukai durian.

__ADS_1


"Kalau gitu bungkusin aja! entar ku makan!" sahut Fia yang di tanggapu dengan tawa oleh keduanya.


Sungguh persahabatan yang begitu indah, meski sempat renggang hanya karena kehadiran Rifki tapi keduanya kembali akrab setelah semua masalah selesai.


__ADS_2